Meningkatkan Sopan Santun Dan Prestasi Belajar Siswa Dengan Mengintegrasikan Budi Pekerti Kedalam Pendidikan Pancasila Dan Kewarganegaraan Di Kelas I SD Muhamadiyah 15 Sumberasri
November 07, 2018
Add Comment
Download Proposal Penelitian Tindakan Kelas Judul :
Meningkatkan Sopan Santun Dan Prestasi Belajar Siswa Dengan Mengintegrasikan Budi Pekerti Kedalam Pendidikan Pancasila Dan Kewarganegaraan Di Kelas I SD Muhamadiyah 15 Sumberasri
PROPOSAL
PENELITIAN TINDAKAN KELAS
( P T K )
MENINGKATKAN SOPAN SANTUN DAN
PRESTASI BELAJAR SISWA DENGAN MENGINTEGRASIKAN BUDI PEKERTI KEDALAM PENDIDIKAN PANCASILA
DAN KEWARGANEGARAAN
DI KELAS I SD MUHAMADIYAH 15 SUMBERASRI
Diajukan
Guna memenuhi salah satu tugas dalam mengikuti dan menyelesaikan
mata kuliah IDIK 4306 / Metode Penelitian
Disusun Oleh :
NUNUK xx
NIM. xxx
PROGRAM S1 PGSD – UT UPBJJ JEMBER
POKJAR PURWOHARJO
TAHUN 20xx
KATA PENGANTAR
Dengan memanjatkan rasa syukur ke hadirat Allah SWT. yang telah berkenan melimpahkan rahmat, taufik, hidayah dan inayah-Nya. Sehingga Proposal Penelitian Tindakan Kelas ini dapat terselesaikan.
Dengan terselesaikannya laoran ini, peneliti menyampaikan rasa terima kasih yang tak terhingga kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan dan lorongan. Secara khusus peneliti sampaikan terima kasih kepada :
Peneliti menyadari bahwa karya tulis ini masih jauh dari kesempurnaan. Untuk itu peneliti mengharapkan saran dan kritik yang bersifat konstruktif dari pembaca demi kesempurnaan karya tulis selanjutnya. Semoga karya tulis ini bermanfaat bagi peneliti khususnya, serta bagi para pembaca pada umumnya
Penulis,
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL i
KATA PENGANTAR ii
DAFTAR ISI iii
A. JUDUL PENELITIAN 1
B. BIDANG KAJIAN 1
C. PENDAHULUAN 1
D. PERUMUSAN DAN PERENCANAAN MASALAH 4
E. TUJUAN PENELITIAN 5
F. MANFAAT HASIL PENELITIAN 5
G. KAJIAN PUSTAKA 7
H. RENCANA DAN PROSEDUR PENELITIAN 16
I. JADWAL PENELITIAN 29
J. BIAYA PENELITIAN 30
K. PERSONALIA PENELITIAN 31
L. DAFTAR PUSTAKA 32
M. LAMPIRAN-LAMPIRAN
A. JUDUL PENELITIAN
Judul “Meningkatkan Sopan Santun dan Prestasi Belajar Siswa Dengan Mengintegrasikan Budi Pekerti Kedalam Pendidikan Pancasila Dan Kewarganegaraan di Kelas I SD Muhamadiyah 15 Sumberasri.
B. BIDANG KAJIAN
Peneliti mencoba menggunakan model Pengintegrasian dan strategi pembelajaran yang menjadi dasar pengintegrasian budi pekerti ke dalam PPKn adalah sebagaimana ditetapkan dalam pedoman umum pendidikan budi pekerti untuk pendidikan dasar atau menengah (Buku II, 2002), bahwa pendidikan budi pekerti diselenggarakan secara integrasi dalam mata pelajaran Pendidikan Agama dan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn), saerta mata pelajaran lain yang relevan.
C. PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Salah satu kritik yang menarik terhadap sistem pendidikan di Indonesia adalah terlalu mementingkan pendidikan akademik dan kurang diimbangi dengan pendidikan karakter, budi pekerti yang luhur, akhlak, moral dan mentalitas yang tinggi.
Untuk memberikan tanggapan secara positif terhadap kritik tersebut, Direktorat Pendidikan Dasar dan Menengah tengah mencoba mengadakan beberapa penyempurnaan dalam sistem pendidikan nasional pada umumnya dan sistem pembelajaran dan pengajaran pada khususnya, selaras dengan arus perubahan yang kini menggejala dalam penyelenggaraan pelayanan pendidikan dasar dan menengah, antara lain:
Pertama, sistem penyelenggaraan pendidikan yang sentralistik kini telah diubah menjadi sistem penyelenggaraan pendidikan yang disentralistik dengan titik berat pemberian wewenang pendidikan kepada daerah kabupaten / kota.
Kedua, sistem pembelajaran yang lebih berpusat kepada guru diubah menjadi sistem pembelajaran yang lebih berpusat kepada siswa dengan pendekatan yang dikenal dengan Student Actie Learning, atau yang dikenal dengan pendekatan PAKEM (Pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan).
Ketiga, pendidikan yang lebih mengedepankan aspek akademis (high based) secara bertahap telah diramalkan menjadi pendidikan yang berorientasi keterampilan untuk hidup (life skills).
Dalam hal pendidikan budi pekerti, pemerintah telah mengambil kebijakan bahwa budi pekerti bukan sebagai mata pelajaran yang relevan, terutama dengan Pendidikan Agama, Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) dan Bahasa Indonesia. Dengan pendekatan itu guru mengajar subtansi mata pelajaran dengan memberikan nilai – nilai budi pekerti yang terkandung didalamnya dengan alasan dalam mata pelajaran pada hakekatnya guru itu telah melaksanakan proses pengajaran dan pendidikan dalam arti sebenarnya. Dari sinilah diakui atau tidak kelemahan guru kita pada umumnya, yakni lebih mengutamakan pengajaran dan meninggalkan aspek yang justru lebih penting, yakni pendidikan (Depdiknas, 2003).
Sehubungan dengan hal tersebut seorang guru di samping mengajar juga mendidik, artinya bahwa seorang guru tidak hanya sekedar mentransfer ilmu – ilmunya pada peserta didiknya, tetapi lebih dari itu guru adalah sebagai pendidik yang harus dapat membina, mengarahkan membari contoh, suri tauladan, sikap tingkah laku yang baik.
Budi pekerti merupakan sarana yang dapat memberikan kontribusi dalam pembinaan karakter, watak dan moralitas yang tinggi, dalam Tap MPR No. I/MPR/1999 tentang GBHN, Khusus pada Bab I huruf D, mengenai agama dinyatakan pada butir I, “memanfaatkan fungsi peran dan kedudukan sebagai landasan moral, spiritual dan etika dalam penyelenggaraan Negara serta merupakan segala sesuatu perundang – undangan tidak bertentang dengan moral agama”. Kemudian pada I huruf C bagian e, mengenai pendidikan dinyatakan pada butir 2, “meningkatkan jaminan kesejahteraan tenaga kependidikan sehingga tenaga kependidikan mampu berfungsi secara optimal terutama dalam meningkatkan pendidikan watak dan budi pekerti agar dapat menigkatkan wibawa lembaga dan tenaga kependidikan”.
Selanjutnya pada misi dan visi Garis – Garis Besar Haluan Negara Indonesia tahun 1999 digariskan bahwa Pengalaman Pancasila, “Dilakukan secara konsisten dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara”, dan diwujudkan sistem dan iklim pendidikan nasional yang demokratis dan bermutu guna memperteguh akhlak mulia dan seterusnya.
Secara impirik akhir – akhir ini, terutama dalam kaitannya dengan munculnya berbagai fenomena merosotnya masyarakat dalam berbagai lapisan terhadap etika kehidupan bermasyarakat dan berbangsa serta bernegara Indonesia , pendidikan budi pekerti belum sepenuhnya memberi dampak pembelajaran dan pengiring yang menggembirakan. Hal itu antara lain tercermin dalam perilaku yang tidak santun, pelecehan hak asasi, perilaku kekerasan, penyalahgunaan kekuasaan dan menurunnya penghormatan terhadap pemerintah. Oleh karena itu sebagai sarana utama dalam pembangunan bangsa dan watak, pendidikan budi pekerti dituntut untuk memberikan perhatian yang sungguh – sungguh terhadap pengembangan nilai budi pekerti dalam keseluruhan dimensi pendidikan. Dengan cara itu diyakini bahwa pendewasaan anak di usia sekolah dan pemuda, yang harus mampu menunjukkan dirinya cerdas bukan hanya cerdas secara rasional namun juga cerdas secara emosional, sosial, dan spiritual.
Untuk merangkap misi tersebut, setelah mengakaji berbagai masukan akademis, empiris dan sosial kultural dari para pakar, praktisi dan tokoh masyarakat. Departemen Pendidikan Nasional menetapkan komitmen untuk menyelenggarakan pendidikan budi pekerti yang diintegrasikan ke dalam sejumlah pelajaran yang relevan dan ke dalam tatanan kehidupan dan iklim sosial budaya dunia pendidikan. Dengan demikian pendidikan budi pekerti secara kependidikan bukan hanya sebagai subtansi yang semata – mata diajarkan, tetapi lebh mendasar sebagai interaksi sosial budaya dan edukaif antara siswa denagn seluruh unsur pendidikan yang ada di sekolah dan di luar sekolah / masyarakat, yang meningkatkan tumbuh dan berkembangnya serta terwujudnya individu yang berahlak mulia (Buku I,2002).
D. PERUMUSAN DAN PERENCANAAN MASALAH
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah tersebut di atas, dapat dirumuskan masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana model pengintegrasian budi pekerti luhur ke dalam Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) dapat meningkatkan perilaku sopan santun siswa dalam musyawarah di kelas I SD Muhamadiyah 15 Sumberasri?
2. Bagaimana model pengintegrasian budi pekerti luhur ke dalam Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) dapat meningkatkan prestasi belajar siswa di kelas I SD Muhamadiyah 15 Sumberasri.?
Hipotesis Tindakan
Hipotesis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Model pengintegrasian budi pekerti luhur ke dalam Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) dapat meningkatkan perilaku sopan santun siswa dalam musyawarah di kelas I SD Muhamadiyah 15 Sumberasri.
2. Model pengintegrasian budi pekerti luhur ke dalam Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) dapat meningkatkan prestasi belajar siswa kelas I SD Muhamadiyah 15 Sumberasri.
E. TUJUAN PENELITIAN
Tujuan penelitian tindakan kelas ini antara lain adalah sebagai berikut:
1. Mendiskripsikan model pengintegrasian budi pekerti luhur ke dalam Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) dapat meningkatkan perilaku sopan santun siswa.
2. Mendiskripsikan model pengintegrasian budi pekerti luhur ke dalam Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.
F. MANFAAT HASIL PENELITIAN
Penelitian tindakan kelas ini diharapkan bermanfaat bagi siswa, guru dan sekolah. Adapun manfaatnya antara lain adalah sebagai berikut:
1. Manfaat bagi siswa:
• Memberikan sajian pelajaran yang terpadu menarik dan menyenangkan agar dapat meningkatkan perilaku sopan santun.
• Dengan diintegrasikan budi pekerti ke dalam PPKn, dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.
2. Manfaat bagi guru:
• Menemukan alternatif model pembelajaran yang mampu meningkatkan perilaku sopan santun dan prestasi belajar siswa.
• Memberikan solusi terhadap kritikan yang selama ini terjadi yakni bahwa sistem pendidikan kita hanya mengutamakan akademik kurang memperhatikan moral, sosial, dan spiritual.
• Memberikan jalan keluar yang selama ini merupakan kelemahan para guu secara umum aitu lebih mengutamakan pengajaran dan meninggalkan aspek yang justru lebih penting yakni pendidikan.
3. Manfaat bagi sekolah:
• Diharapkan dengan model pengintegrasian Budi Pekerti Luhur ke dalam Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) ini dapat memberikan jalan keluar dalam mengatasi krisis moral pada usia anak sekolah dan sekaligus dapat meningkatkan prestasi belajar para peserta didik.
• Dengan diintegrasikannya Budi Pekerti Luhur ke dalam Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan atau mata pelajaran lainnya yang relevan diharapkan dapat menaggulangi kenakalan remaja untuk mencegah tawuran antar siswa di sekolah atau antar sekolah dengan sekolah lain.
1.1 Definisi Operasional
Definisi operasional ini penting untuk menyamakan persepsi dalam pemahaman penelitian antara lain sebagi berikut:
o Yang dimaksud pengintegrasian adalah upaya terancana untuk memadukan nilai – nilai budi pekerti (sebagaimana dikatakan dalam Buku I dan II) ke dalam cakupan pokok bahasan mata pelajaran PPKn, untuk selanjutnya diwujudkan dalam proses pembelajaran sehingga terjadi interaksi (penghayatan) dan personalisasi (kepribadian) nilai – nilai dan dilaksanakannya isi PPKn. Dengan kata lain dampak pembelajaran nilai budi pekerti harus menjadi bagian tak terpisahkan dari dampak pembelajaran PPKn. (Depdiknas, 2003).
o Prestasi belajar adalah hasil belajar yang dicapai setelah belajar dengan sungguh – sungguh untuk dapat mencapai cita – cita dan memperoleh nilai yang sebaik – baiknya. Sedangkan menurut Panjaitan (1997), prestasi adalah kecenderungan seseorang untuk melakukan pekerjaan dengan hasil yang sebaik – baiknya.
o Hasil belajar adalah pencapaian tujuan pembelajaran yang berupa peningkatan hasil atau peningkatan kegiatan pembelajaran yang sesungguhnya.
o Prestasi belajar adalah untuk memperoleh nilai yang sebaik – baiknya melalui proses pembelajaran (belajar dengan sungguh – sungguh, pantang putus asa, tidak takut akan kegagalan, kerja dengan keras dan sebagainya), demi mendapatkan hasil yang terbaik. (Panjaitan, 1997).
o Perilaku sopan santun yang dimaksud adalah perilaku siawa yang mencerminkan nilai – nilai budi pekerti (perbuatan terpuji) tidak melanggar ketentuan – ketentuan hukum, agama, dan norma – norma kehidupan yang diimplementasikan dalam ucapan kata, perbuatan dan tingkah laku sehari – hari.
G. KAJIAN PUSTAKA
1.1. Visi dan Misi Pendidikan Budi Pekerti
Secara formal, komitmen Republik Indonesia terhadap pendidikan moral atau budi pekerti sesungguhnya sudah begitu tegas dinyatakan sebagaimana dapat dilihat di berbagai ketentuan perundang – undangan yang berlaku. Dalam Pembukaan UUD 1945 alinea ke-4 tentang tujuan Negara “mencerdaskan kehidupan bangsa” dan dasar Negara Pancasila dann Sila “Ketuhanan Yang Maha Esa” sampai “Keadilan Bagi Seluruh Rakyat Indonesia”, hal itu mengandung arti bahwa Republik Indonesia yang cerdas sesuai dengan esensi dan makna dasar Negara tersebut. Demikian pendidikan budi pekerti juga mempunyai visi dan misi sebagai berikut:
1. Sesuai dengan semua ketentuan perundang – undangan yang relevan, komitmen pemerintah, kajian akademis, pendapat para pakar pendidikan dan tokoh masyarakat, dirumuskan bahwa visi pendidikan budi pekerti adalah mewujudkan pendidikan budi pekerti sebagi bentuk pendidikan moral dan etika yang berfungsi untuk menumbuh kembangkan individu warga Negara Indonesia yang berakhlak mulia dalam pikiran, sikap dan perbuatannya sehari – hari.
2. Merujuk pada visi tersebut, maka yang menjadi misi pendidikan budi pekerti adalah:
a. Mengoptimalkan subtansi dan pelaksanaan masa pelajaran yang relevan. Khususnya Pendidikan Agama dan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn), saerta mata pelajaran lain yang relevan sebagaimana pendidikan budi pekerti sehingga para peserta didik bukan hanya cerdas rasional tetapi cerdas secara emosional, sosial, dan spiritual.
b. Mewujudkan tatanan dan iklim sosial budaya dunia pendidikan yang memancarkan akhlak mulia/ moral luhur, sebagi wahana bagi siswa, tenaga pendidikan, dan pengelola pendidikan untuk membangun interaksi edukatif dan budaya sekolah memancarkan akhlak mulia serta membangun ketahanan sekolah, lingkungan keluarga dan masyarakat dari pengaruh luar yang negatif.
c. Memanfaatkan media – media massa dan lingkungan masyarakat secara selektif adaptif, guru mendukung upaya penumbuhan dan pengembangan nilai – nilai budi pekerti luhur yang baik yang melalui mata pelajaran yang relevan maupun melalui pengembangan budaya pendidikan sekolah.
d. Membangun kerja sama antara keluarga, sekolah dan masyarakat dalam penerapan pendidikan budi pekerti.
Atas dasar visi dan misi pendidikan budi pekerti luhur tersebut maka pendidikan budi pekerti itu bertujuan untuk memfasilitasi siswa agar mampu menggunakan pengetahuan, mengkaji dan mengintegrasikan serta mempersonalisasi nilai, mengembangkan keterampilan sosial yang memungkinkan tumbuh dan berkembangnya akhlak mulai dalam diri siswa serta mewujudkannya dalam perilaku sehari – hari dalam konteks sosial budaya yang berbhineka.
1.2. Berperilaku Santun
Dalam hal ini yang dimaksud perilaku adalah tanggapan atau reaksi individu yang berwujud gerakan (sikap) tidak saja badan atau ucapan, (KBBI: 671).
Hukum perilaku yang berakibat tuntutan hukum karena merupakan kehendak yang melanggar (berlawanan dengan) kepentingan orang lain. Sedangkan santun adalah halus dan baik (budi bahasanya, tingkah lakunya, sopan, sabar, dan tenang), menaruh rasa belas kasihan serta suka menolong (KBBI: 783). Dengan demikian yang dimaksud berperilaku sentun adalah sikap yang baik yang tidak melanggar hukum atau norma – norma agama dan kehidupan manusia untuk bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Norma – norma itu antara lain: taat terhadap hukum, bertqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berbakti kepada orang tua, manusiawi, rasa kasih sayang, berhati lembut, dst. Termasuk nilai – nilai yang terkandung dalam pelajaran budi pekerti luhur. (Buku Depdiknas, 2002).
Pendidikan budi pekerti yang mengembangtumbuhkan pendidikan moral spiritual, emosional, dan sosial dharapkan dapat meningkatkan perilaku santun dalam keluarga dan masyarakat dalam kehidupan sehari – hari.
2. Rambu – Rambu Pelajaran
Dalam rangka pembelajaran pendidikan nilai budi pekerti ada tiga pengelompokan butir nilai budi pekerti, yakni: sifat – sifat terpuji, sifat – sifat tercela, dan tata krama. Ini dapat diterima sebagai salah satu alternatif dengan alasan:
1. Sebagai upaya untuk memberikan ciri khas program pendidikan budi pekerti yang lebih mengutamakan dominan efektif (sifat dan kemampuan) dan keterampilan sosial.
2. Sebagai pijakan yang dapat dijadikan acuan dan muara dalam penilaian keberhasilan pembelajaran. Namun demikian dengan pengorgaisasian nilai budi pekerti ke dalam setiap jenjang pendidikan perlu mempertimbangkan supaya dapat menggunakan desain kurikulum yang tepat.
Selama ini secara umum guru dalam pembelajarannya yang semestinya bersifat “student – learning oriented” yang berorientasi pda proses pembelajaran siswa, tergelincir menjnadi pendekatan penuturan atau value “story – telling” atau “narrative approach” yaitu pendekatan penuturan nilai yang sangat membosankan siswa dan guru. Oleh karena itu dalam pendidikan budi pekerti luhur pengembangan kurikulum akan lebih tepat menerapkan pendekatan pengorganisasian terpusat pada pengalaman atau “experience – centered” dan bukan terpusat kepada mata pelajaran atau “subject matter centered”. Dengan menggunakan pendekatan tersebut nilai – nilai budi pekerti disatu padukan atau “incorporated” dalam pengalaman belajar siswa yang dibangun oleh guru, sekolah dan masyarakat dan dialami langsung oleh siswa. Bila hal ini terjadi diyakini praktis pendidikan budi pekerti akan lebih bermakna bagi peserta didik.
3. Model Pengintegrasian Budi Pekerti ke dalam Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan
Peneliti mencoba menguraikan yang menadi dasar pengintegrasian budi pekerti ke dalam PPKn adalah sebagaimana ditetapkan dalam pedoman umum pendidikan budi pekerti untuk pendidikan dasar atau menengah (Buku II, 2002), bahwa pendidikan budi pekerti diselenggarakan secara integrasi dalam mata pelajaran Pendidikan Agama dan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn), saerta mata pelajaran lain yang relevan.
Pengintegrasian pendidikan budi pekerti ke dalam PPKn perlu memperhatikan beberapa hal, diantaranya:
1. Yang dimaksud pengintegrasian adalah sebagaimana peneliti telah uraikan di depan yaitu yang dimaksud dengan pengintegrasian adalah upaya terencana untuk memadukan nilai – nilai budi pekerti (sebagaimana dikatakan dalam Buku I dan II) ke dalam cakupan pokok bahasan mata pelajaran PPKn, untuk selanjutnya diwujudkan dalam proses pembelajaran, sehingga menjadi interaksi (penghayatan) dan personalisasi (kepribadian) nilai – nilai budi pekerti itu bersamaan dengan dipahami, dihayati, dan dilaksanakannya isi PPKn. Dengan kata lain dampak pembelajaran budi pekerti harus menjadi bagian tak terpisahkan dari dampak pembelajaran PPKn (Depdiknas, 2003).
2. Pokok bahasan uraian PPKn yang membawa wahana budi pekerti seyogyanya memperhatikan pelbagai aspek kehidupan ideologi, ekonomi, sosial, budaya, keamanan, keluarga, sekolah dan masyarakat (lokal, regional dan nasional). Dengan demikian nilai – nilai budi pekeri itu benar – benar diyakini dan dilaksanakan sesuai denagn kebutuhan lokal dan nasional sesuai dengan tingkat perkembangan anak.
3. Penempatan nilai budi pekerti menjadi wahana integrasi, nilai – nilai budi pekerti itu adalah yang teardapat dalam GBPP PPKn SD 1994 yang dilengkapi dengan pedoman pembelajaran suplemen tahun 1994.
4. Mengingat pentingnya peran guru, diharapkan agar guru selalu memperhatikan semua prinsip pembelajaran dan melaksanakannya dalam pembelajaran budi pekerti dengan mengintegrasikan ke dalam PPKn.
4. Model Pembelajaran dan Evaluasi
Pembelajaran tidak hanya bentuk ceramah atau nasehat saja, melainkan lebih mengutamakan pelakon (experiencing) dari dan pelatihan saerta pembakuan akhlak - akhlak mulia dalam praktk kehidupan. Maka pola pembelajaran perlu memperhatikan hal – hal saebagai berikut:
1. Pembelajaran Subtansi (bahan ajar dan isi pesan) dilakukan melalui klasifikasi percontohan (eksamploratik) dan atau analisis nilai moral yang tersirat dalam contoh, kasus, legenda, cerita rakyat dan kehidupan nyata.
2. Proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) hendaknya lebih ditekankan kepada Kegiatan Belajar Siswa (KBS) berupa pesertaan dalam berfikir, mengeluarkan pendapat, penilaian diri, penilaian kehidupan sekitar danpembiasaan perilaku di kelas, di rumah, dan lingkungan sekitar.
3. Biasakan melatih siswa membaca buku paket, buku cerita, Koran, majalah, dan menyimak radio atau televisi serta menulis (mengarang, membuat ulasan, singkatan, laporan, dan lainnya).
4. Dalam pemberian tugas hendaknya disesuaikan dengan kemampuan, fisik, usia, kondisi tempat dan waktu.
5. Biasakan siwa mengobservasi / meliput realita kehidupan sekitar dalam berbagai aspek lingkungan kehidupan.
6. Jadikan lingkungan sebagai rujukan belajar dan tempat Kegiatan Belajar Siswa (KBS).
7. Pelakon diri akhlak mulia melalui pelatihan keterampilan.
8. Tampilakan keteladanan personal melalui perilaku dari semua pihak.
Untuk penilaian agar dilengkapi dengan tugas KBS sehingga merupakan hasil penilaian dari pelbagai kegaitan siswa, yang bobot nilai setiap hasil sepenuhnya wewenang guru dan hasil penilaiannya terbuka dan berkelanjutan.
Dalam penilaian ini mengenai perilaku sikap sopan santun menggunakan prosentase dari deskripsi sikap sopan santun melalui pengamalan dan perilaku siswa sehari – hari dan selama penelitian berlangsung. Memakai rumusan sebagai berikut: jumlah siswa yang aktif dibagi siswa jumlah seluruh siswa yang hadir dikalikan 100%. Hasilnya lebih besar atau sama dengan 75 % dikatakan berhasil.
Selanjutnya untuk meningkatkan prestasi belajar mengajar melalui ulangan formatif (ulangan harian), sebagai patokannya digunakan nilai rata – rata kelas. Hasil belajar (prestasi belajar) dikatakan meningkat atau berhasil jika rata – rata kelasnya lebih besar atau sama dengan 75, tetapi bila kurang kurang dari 75 berarti gagal / belum berhasil.
5. Model Pengintegrasian Materi Budi Pekerti ke dalam PPkn Kelas I
Subjek penelitian tindakan keals ini adalah siswa kelas I pada semester I tahun pelajaran 2010/2011 dalam Materi musyawarah.
Kelas / Semester : I / I
Tahun Pelajaran : 2010/2011
Materi : Musyawarah
Tabel 1. Model Pengintegrasian Materi Budi Pekerti ke Dalam PPKn
MATERI PPKn MATERI Uraian Nilai Budi Pekerti Integrasi Mts. Bpk - PPKn Keterangan
Musyawarah Membiasakan menyelesaikan masalah dengan cara musyawarah terlebih dahulu Pengendalian diri menghargai pendapat orang lain, terbuka Menghargai pendapat peserta lainnya dalam bermusyawarah 1. Pembelajaran
2. Sumber buku paket, kehidupan sekitar
3. Evaluasi pengamatan, tes tulis, PR
Setelah membuat model pengintegrasian ini dilanjutkan membuat analisa materi sebagai berikut:
Pendidikan : Musyawarah
Materi : 1 (satu)
Tabel 2. Analisis Materi Pelajaran
MATERI Pengembangan / Penjabaran Materi Penyesuaian
Waktu Sarana Metode Ket
Musyawarah
1. Mengenai cara menyelesaikan masalah melalui musyawarah
2. Membiasakan menyelesaikan masalah dengan cara musyawarah dulu. a. Contoh Musyawarah di Rumah
- Rencana tentang liburan
- Pembagian tugas di rumah (n, b, p, menghargai)
b. Contoh Musyawarah di sekolah
- Pembagian tugas piket
- Belajar kelompok diskusi kelompok (n, b, p pengendalian diri)
c. Musyarawah di Masyarakat
- Rencana kegiatan warga
- Pemilihan ketua RT
d. Cara bermusyawarah
- Usul dibicarakan bersama
- Setiap anggota dapat usul
e. Dst…
a. Mendengarkan saran orang lain
b. Tidak memotong pembicaraan orang lain
c. Tidak memaksakan kehendak (n, b, p menghargai)
d. Melaksanakan keputusan dengan jalur (n, b, p sportif)
e. Mengikuti musyawarah sampai selesai (n, b, p tanggung jawab) 4 jam - Buku paket
- Buku penunjang
- Gambar
- Pemilihan ketua kelas
- Pramuka siaga
- KBM Ceramah
Untuk nilai budi pekerti yang terintegrasi ke dalam musyawarah, yakni tanggung jawab, menghargai, sportif dan pengendalian diri, sebagai tolak ukur keberhasilan atau ketidakberhasilan peneliti kolaborasi dengan Kepala Sekolah dan teman sejawat untuk melakukan pengamatan, perilaku siswa selama kegiatan pembelajaran berlangsung dan dalam perilaku sehari – hari.
H. RENCANA DAN PROSEDUR PENELITIAN
METODE PENELITIAN
1. Rancangan Penelitian
Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research), yang mengacu pada pandangan Elliot (1991), yang terdiri dari 3 (tiga) siklus.
Atas dasar hal tersebut peneliti ingin mengetahui julah tingkat perilaku sopan santun dalam musyawarah dan prestasi belajar siswa terhadap dan kewarganegaraan di kelas I SD Muhamadiyah 15 Sumberasri.. Seterusnya kegiatan penelitian ini dilaksanakan menurut prosedur sebagai berikut: refleksi awal, perencanaan, pelaksanaan tindakan, refleksi dan perencanaan ulang.
1.1. Rancangan Siklus I
a. Refleksi awal
Dalam refleksi awal ini peneliti mengadakan observasi, identifikasi, dan menganalisis permasalahan perilaku siswa kelas I yang dikaitkan denagn pendidikan budi pekerti dan PPKn di SD Muhamadiyah 15 Sumberasri..
b. Merumuskan permasalahan secara optimal
Pada tahap ini peneliti merumuskan permasalahan yang muncul dalam perilaku siswa sehari – hari dalam kegiatan belajar dan mengajar dan perilaku yang kurang santun baik itu di kelas maupun di luar kelas yang berhubungan dengan pendidikan budi pekerti dan PPKn.
c. Perumusan hipotesis tindakan
Hipotesis tindakan pada siklus I ini sebagai berikut:
1. Dengan mengintegarasikan Budi Pekerti ke dalam Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) diyakini dapat meningkatkan perilaku sopan santun siswa kelas I di SD Muhamadiyah 15 Sumberasri..
2. Dengan mengintegrasikan Budi Pekerti ke dalam Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) diyakini dapat meningkatkan prestasi belajar siswa kelas I di SD Muhamadiyah 15 Sumberasri.i.
d. Menyusun rancangan tindakan
1. Menentukan pokok bahasan yakni Musyawarah (mengenal cara musyawarah untuk menyelesaikan masalah dan membiasakan dalam menyelesaikan masalah melalui musyawarah terlebih dahulu) sesuai dengan analisa materi.
2. Membuat persiapan mengajar / Satuan Pelajaran (SP)
a. Menentukan tujuan pengajaran sesuai GBPP.
b. Menentukan materi pelajaran dari buku paket PPKn kelas I atau buku penunjang yang relevan.
c. Merumuskan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM)
- Kegiatan pendahuluan
Apresiasi dengan menggunakan metode ceramah, tanya jawab dan tugas, media yang digunakan gambar, dilanjutkan penjelasan singkat dari praktisi tentang pengerjaan Lembar Kerja Siswa (LKS).
- Kegiatan inti (dilaksanakan 2 (dua) pertemuan)
Pertemuan I
1) Siswa mengerjakan LKS
2) Siswa dan praktisi membahas pengerjaan LKS
Pertemuan II
1) Siswa melakukan diskusi kelompok
2) Pelaksanaan Ulangan Formatif
- Kegiatan penutup
1) Berupa kesimpulan dan tindak lanjut / PR
d. Menentukan media pembelajran berupa gambar – gambar sederhana dalam musyawarah (suasana pemilihan ketua kelas, kegiatan pramuka siaga, musyawarah keluarga, kegiatan di luar kelas).
e. Menyusun alat penilaian formatif berupa soal yang digandakan sejumlah siswa kelas I sebanyak 20 anak.
3. Peneliti menyusun alat pengumpul data, berupa: lembar pengamatan, catatan lapangan tentang proses pelaksanaan pembelajaran, serta instrument penilaian.
4. Menyusun rencana pengolahan data secara kualitatif dan kuantitatif.
e. Pelaksanaan tindakan
Praktisi melaksakan reancana pembelajaran sebagaimana tentang dalam Satuan Pembelajaran, menggunakan metode caramah, tanya jawab, diskusi dan pemberian tugas. Adapun langkah – langkah pembelajaran adalah sebagai berikut:
1. Pendahulan
Melakukan apersepsi tanya jawab dengan siswa serta menunjukkkan gambar – gambar yang mencerminkan musyawarah yang telah dipersiapkan.
2. Kegiatan inti
a) Secara singkat praktisi memberi penjelasan tentang pengerjaan LKS.
b) Jawaban – jawaban LKS sedapat mungkin siswa dapat mencari sendiri dari buku paket atau penunjang yang relevan.
c) Setelah selesai pengerjaan LKS dilanjutkan pembahasan jawaban dan diskusi secara klasikal, pada waktu diskusi ini nillai busi pekerti diintegrasikan dalam musyawarah yakni tanggung jawab, menghargai, sportif, pengendalian diri, praktisi sebagai fasilitator dan mengarahkan.
d) Selesai diskusi kelompok, praktisi memberikan justifikasi, penekanan – penekanan bagian yang salah utnuk dibetulkan dan jawaban yang salah pada LKS dibetulkan.
e) Pada pertemuan kedua ditiadakan tanya jawab dari semua kelompok secara bergiliran dan merata.
f) Mempersiapkan untuk ulangan formatif.
3. Kegiatan penutup
Praktisi bersama siswa memberikan kesimpulan dan sebagai tindak lanjut diberi Pekerjaan Rumah.
f. Pengamatan
Pengamatan dilakukan oleh peneliti dan teman sejawat, dengan wawancara secara mendalam, analisis dokumen, catatan lapangan untuk mengamati proses pembelajaran yang sedang berlangsung, mencatat data – data yang muncul kemudian menstraskripsikannya. Analisa dokumen dengan manila pengerjaan LKS dan evaluasi pembelajaran.
Data tentang peningkatan perilaku sopan santun dilakukan melalui pengamatan aktifitas perilaku siswa selama pembelajaran, saat mengerjakan LKS dan diskusi kelompok. Data tentang prestasi belajar diukur dengan membandingkan antara hasil penelitian formatif dengan hasil belajar sebelumnya.
g. Refleksi
Hasil refleksi siklus pertama sebagai dasar untuk membuat rancangan pada siklus kedua dan rancangan tindakan lanjutan (perencanaan ulang).
1.2. Rancangan Siklus II
Berdasarkan hasil refleksi pada siklus I, peneliti membuat perancangan ulang untuk penelitian siklus kedua. Perancangan pada siklus kedua ini merupakan penyempurnaan dari siklus pertama. Hal – hal yang muncul pada siklus pertama dicatat, dianalisa, kemudian disempurnakan pada siklus kedua baik yang berhubungan dengan penyempurnaan Satuan Pembelajaran (SP) atau proses pembelajaran.
a. Rancangan Tindakan
a) Bahan pembelajaran siklus kedua ini sama seperti pada siklus pertama, yakni tentang musyawarah (mengenali cara menyelesaikan masalah melalui musyawarah dan membiasakan dalam menyelesaikan masalah dengan cara musyawarah terlebih dahulu).
b) Membuat Satuan Pembelajaran dengan langkah – langkah sebagai berikut:
a) Menentukan tujuan pembelajaran sesuai GBPP;
b) Menentukan materi pelajaran dari buku paket PPKn kelas I atau buku penunjang yang relevan;
c) Merumuskan materi pelajaran dari buku paket PPKn kelas I atau buku penunjang yang relevan;
d) Merumuskan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM)
- Kegiatan Pendahuluan
Apersepsi dengan menggunkan metode ceramah, tanya jawab dan tugas, media yang digunakan gambar, dilanjutkan penjelasan singkat dari praktisi tentang pengerjaan Lembara Kerja Siswa (LKS).
- Kegiatan Inti
Pertemuan I
1) Siswa mengerjakan LKS
2) Sisw dan praktisi membahas jawaban LKS
Pertemuan II
1) Siswa melakukan diskusi kelompok
2) Pelaksanaan Ulangan Formatif
- Kegiatan penutup
1) Berupa kesimpulan dan tindak lanjut / PR
c) Peneliti menyusun alat pengumpul data berupa lembar pengamatan. Catatan lapangan tentang proses pelaksanaan pembelajaran, dan instrumen penelitian.
d) Menyusun rencana pengolahan data secra kelitatif dan kuantitatif.
b. Pelaksanaan Tindakan
Praktisi melaksanakan rencana pembelajaran sebagai mana tertuang dalam Satuan Pembelajaran, menggunakan metode ceramah, tanya jawab, diskudi dan pemberian tugas. Adapun langkah – langkah pembelajaran tersebut adalah sebagai berikut:
1. Pendahuluan
Melakukan apersepsi tanya jawab dengan siswa serta menunjukkan gambar – gambar yang mencerminkan musyawarah yang telah dipersiapkan.
2. Kegiatan Inti
a) Secara singkat praktisi member penjelasan tentang pengerjaan LKS.
b) Jawaban – jawaban pada LKS sedapat mungkin siswa dapat mencari sendiri dari buku paket atau buku penunjang yang relevan.
c) Setelah selesai pengerjaan LKS dilanjutkan pembahasan jawaban dan diskusi secara klasikal, pada waktu diskusi ini nilai budi pekerti diintegrasikan dalam muyawarah yakni tanggug jawab, menghargai, sportif, pengendalian diri, praktisi sebagai fasilitator dan mengarahkan.
d) Selesai diskusi kelompok, praktisi memberikan justifikasi, penekanan- penekanan bagian yang salah untuk dibetulakn dan jawaban yang salah pada LKS dibetulkan.
e) Pada pertamuan kedua ditiadakan tanya jawab dari semua kelompok secara bergiliran dan merata.
f) Mempersiapkan untuk Ulangan Formatif.
3. Kegiatan Penutup
Praktisi bersama siswa memberikan kesimpulan dan sebagai tindak lanjut diberi Pekerjaan Rumah.
c. Pengamatan
Pengamatan dilakukan oleh peneliti dan teman sejawat, dengan wawancara secara mendalam, analisis dokumen, catatan lapangan untuk mengamati proses pembelajaran yang sedang berlangsung, mencatat data – data yang muncul kemudian menstraskripsikannya. Analisa dokumen dengan manila pengerjaan LKS dan evaluasi pembelajaran.
Data tentang peningkatan perilaku sopan santun dilakukan melalui pengamatan aktifitas perilaku siswa selama pembelajaran, saat mengerjakan LKS dan diskusi kelompok. Data tentang prestasi belajar diukur dengan membandingkan antara hasil penelitian formatif dengan hasil belajar sebelumnya.
d. Refleksi
Hasil refleksi siklus pertama sebagai dasar untuk membuat rancangan pada siklus kedua dan rancangan tindakan lanjutan (perencanaan ulang). Hal – hal yang muncul pada siklus ke II, analisa dan kesimpulan sebagai dasar untuk pembuatan rencangan pada siklus III.
2. Rancangan Siklus III
Berdasarkan hsil refleksi pada sikulus II, peneliti membuat perancangan ulang untuk penelitian siklus III. Perancangan pada siklus III ini merupakan penyempurnaan dari siklus II. Sehingga baik Satuan Plajaran ataupun proses pembelajaran sudah mengalami penyempurnaan dua kali, oleh karena itu diharapkan hasilnya akan lebih baik dari siklus sebelumnya dengan kata lain ada peningkatan yang signifikan.
a) Rancangan Tindakan
1. Bahan pelajaran pada siklus ketiga ini sama seperti pada siklus kedua, yakni tentang musyawarah (mengenali cara menyelesaikan masalah melalui musyawarah dan membiasakan dalam menyelesaikan masalah dengan cara musyawarah terlebih dahulu).
2. Membuat satuan pelajaran dengan langakh – langakh sebagai berikut:
a) Menentukan tujuan pembelajaran sesuai GBPP;
b) Menentukan materi pelajaran dari buku paket PPKn kelas I atau buku penunjang yang relevan;
c) Merumuskan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM)
- Kegiatan Pendahuluan
Apersepsi dengan menggunkan metode ceramah, tanya jawab dan tugas, media yang digunakan gambar, dilanjutkan penjelasan singkat dari praktisi tentang pengerjaan Lembara Kerja Siswa (LKS).
- Kegiatan Inti
Pertemuan I
1) Siswa mengerjakan LKS
2) Siswa dan praktisi membahas jawaban LKS
Pertemuan II
1) Siswa melakukan diskusi kelompok
2) Pelaksanaan Ulangan Formatif
- Kegiatan penutup
1) Berupa kesimpulan dan tindak lanjut / PR
d) Menentukan media pembelajaran berupa gambar – gambar sederhana dalam musyawarah.
e) Menyusun alat penilaian formatif berupa soal yang digandakan sejumlah siswa kelas I sebanyak 20 siswa.
3. Peneliti menyusun alat pengumpul data berupa: lembar pengamatan, catatan lapangan tentang proses pelaksanaan pembelajaran, dan instrument penelitian.
4. Meyusun rencana pengolahan data secara kualitatif dan kuantitatif.
b) Pelaksanaan Tindakan
Praktisi melaksanakan rencana pembelajaran sebagai mana tertuang dalam Satuan Pembelajaran, menggunakan metode ceramah, tanya jawab, diskudi dan pemberian tugas. Adapun langkah – langkah pembelajaran tersebut adalah sebagai berikut:
1. Pendahuluan
Melakukan apersepsi tanya jawab dengan siswa serta menunjukkan gambar – gambar yang mencerminkan musyawarah yang telah dipersiapkan.
2. Kegiatan Inti
a) Secara singkat praktisi member penjelasan tentang pengerjaan LKS.
b) Jawaban – jawaban pada LKS sedapat mungkin siswa dapat mencari sendiri dari buku paket atau buku penunjang yang relevan.
c) Setelah selesai pengerjaan LKS dilanjutkan pembahasan jawaban dan diskusi secara klasikal, pada waktu diskusi ini nilai budi pekerti diintegrasikan dalam muyawarah yakni tanggug jawab, menghargai, sportif, pengendalian diri, praktisi sebagai fasilitator dan mengarahkan.
d) Selesai diskusi kelompok, praktisi memberikan justifikasi, penekanan- penekanan bagian yang salah untuk dibetulakn dan jawaban yang salah pada LKS dibetulkan.
e) Pada pertamuan kedua ditiadakan tanya jawab dari semua kelompok secara bergiliran dan merata.
f) Mempersiapkan untuk Ulangan Formatif.
3. Kegiatan Penutup
Praktisi bersama siswa memberikan kesimpulan dan sebagai tindak lanjut diberi Pekerjaan Rumah.
c) Pengamatan
Pengamatan dilakukan oleh peneliti dan teman sejawat, dengan wawancara secara mendalam, analisis dokumen, catatan lapangan untuk mengamati proses pembelajaran yang sedang berlangsung, mencatat data – data yang muncul kemudian menstraskripsikannya. Analisa dokumen dengan manila pengerjaan LKS dan evaluasi pembelajaran.
Data tentang peningkatan perilaku sopan santun dilakukan melalui pengamatan aktifitas perilaku siswa selama pembelajaran, saat mengerjakan LKS dan diskusi kelompok. Data tentang prestasi belajar diukur dengan membandingkan antara hasil penelitian formatif dengan hasil belajar sebelumnya.
d) Refleksi
Hsil refleksi siklus III sebagai dasar untuk memberikan rekomendasi dan saran pelaksanaan di lapangan.
1.3. Tempat Penelitian
Penelitian tindakan kelas ini dilakukan di SD Muhamadiyah 15 Sumberasri, dengan jumlah siswa yang menjadi sasaran dalam penelitian ini sebanyak 20 siswa dengan berkolaborasi dengan guru kelas I (bertindak sebagi praktisi) dan teman sejawat (bertindak sebagai observer).
1.4. Teknik Pengumpulan Data
Data dikumpulkan melalui pengamatan, catatan lapangan, wawancara secara mendalam dan studi dokumen.
a. Tekhnik pengamatan dan catatan lapangan digunakan untuk menilai proses pembelajaran dan peningkatan perilaku sopan santun siswa.
b. Tekhnik wawancara digunakan untuk mengetahui tanggapan siswa terhadap proses pembelajaran, kaitannya dengan perilaku sopan santun siswa dalam musyawarah.
c. Tekhnik studi dokumen digunakan untuk mengetahui peningkatan prestai belajar siswa.
Hasil penelitian pada siklus I direfleksikan untuk bahan penyempurnaan pada siklus II, demikian pula pada siklus II direfleksikan lagi guna penyempurnaan pada siklus III dan pelaksanaan selanjutnya di lapangan.
1.5. Analisis Data
Analisis data dilakuakn secara deskriptif dengan dasar hasil observasi terhadap perilaku sopan santun siswa dan prestasi belajar siswa dalam pembelajaran, dengan langkah – langkah sebagai berikut:
1. Melakukan reduksi data, yakni ricek (pengecekan) dan mencatat kembali data – data yang terkumpul.
2. Melakukan interpretasi, yakni menafsirkan yang diwujudkan dalam bentuk pernyataan.
3. Melakukan inferensi, yaitu menyimpulkan apakah di dalam pembelajaran ini terjadi peningkatan perilaku sopan santun siswa dan prestasi belajar atau tidak ada peningkatan (didasarkan pada hasil obsaervsi dan pengamatan).
4. Tahap tindak lanjut, yang artinya merumuskan langkah – langkah perbaikan untuk siklus berikutnya atau pelaksanaan di lapangan setelah siklus berakhir berdasarkan inferensi yang telah ditetapkan.
5. Pengambilan kesimpulan didasarkan pada analisis hasil – hasil dan observasi dalam penelitian, kemudian dituangkan dalam bentuk pernyataan melalui interpretasi.
Kegiatan analisa data untuk mengetahui peningkatan perilaku sopan santun siswa dan prestasi belajar siswa dalam proses pembelajaran diuraikan sebagai berikut:
1. Meningkatkan perilaku sopan santun siswa dalam musyawarah digunakan indikator.
a. Tidak melaksanakan kehendak (n, b, p pengendalian diri).
b. Menerima saran pendapat orang lain (n, b, p menghargai).
c. Melaksanakan keputusan dengan jujur (n, b, p sportif).
d. Mengikuti musyawarah sampai selesai (n, b, p tanggung jawab).
Sedangkan kriteria perilaku sopan santun siswa memakai rumus sebagai berikut:
a. Perilaku sopan santun siswa dikatakan meningkat apabila rata – rata prosentase masing – masing kegiatan yang dinilai lebih besar atau sama besar 75%.
b. Perilaku dikatakan belum meningkat jika rata –rata prosentase masing – masing kegiatan kurang dari 75%.
2. Meningkatnya prestasi belajar siswa ditandai dengan indikator hasil belajar siswa dalam setiap ulangan formatif menjadi lebih baik dari hasil belajar sebelumnya (untuk dibandingkan).
I. JADWAL PENELITIAN
Jadwal Kegiatan Penelitian Tindakan
No Kegiatan Bulan
6 7 8 9 10 11
1 Persiapan / Penyusunan Proposal
2 Pelaksanaan Siklus I
3 Pelaksanaan Siklus II
4 Pelaksanaan Siklus III
5 Penyususnan Laporan Hasil Penelitian
J. BIAYA PENELITIAN
NO URAIAN BANYAK HARGA SATUAN (Rp) TOTAL
(Rp)
1 Perispan penyusunan Proposal PTK
a. Tranportasi rapat
b. Konsumsi
c. ATK
d. Rental
2 org
2 org
-
20 lbr
10.000
8.000
2.000
20.000
16.000
24.000
40.000
Jumlah 100.000
2. Pelaksanaan / siklus
a. Alat observasi
b. Transportasi
c. Konsumsi
d. Honor guru
e. Biaya tim evaluasi
f. Biaya analisis dan refleksi
-
3 org
3 org
1 org
2 org
2 org
50.000
10.000
6.500
20.000
20.000
20.000
50.500
30.000
19.500
20.000
40.000
40.000
Jumlah
Jumlah dalam 3 siklus = 160.000 x 3 = 160.000
480.000
3. Penyusunan Laporan
a. Tranportasi
b. Rental (Copy + Tambahan)
c. FC
d. Penjilitan
1 org
-
3 x 40 lb
3 pkt
15.000
-
150
7.500
15.000
40.000
18.000
22.500
Jumlah 95.500
4. Lain-lain (tak terduga) - - 100.000
JUMLAH TOTAL 775.500
K. PERSONALIA PENELITIAN
1. Identitas (Peneliti )
Nama : NUNUK ENDANGWIYATI
NIM : 815 615 697
Pendidikan : Sedang menempuh S 1 PGSD UT
UPBJJ Jember Pokjar Purwoharjo
Semester VI
Instansi Kerja : SD MUHAMADIYAH 15 SUMBERASRI
2. Identitas peneliti (Teman Sejawat)
Nama : MESENO
NIM : 815 696 704
Jabatan : GTT
Pendidikan : Sedang menempuh S 1 PGSD UT
UPBJJ Jember Pokjar Purwoharjo
Semester VI
L. DAFTAR PUSTAKA
Budiono, R. Suharsono, 2003. Model Pengintegrasian Pendidikan Budi Pekerti. Departemen nasional, Jakarta.
Winataputra U.S dkk, 2002. Pedoman Umum Pendidikan Budi Pekerti SD. Buku I Departemen pendidikan Nasional, Jakarta.
Sedyowati, E., 1997. Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur. Balai Pustaka, Jakarta.
Winataputra U.S., 2000. Pendidikan Penanaman Budi Pekerti Luhur. Balai Pustaka, Jakarta.
Sanusi, A. 1998. Membudayakan Pilar – Pilar Demokrasi Konstitusional Indonesia. Bandung Panitia Seminar PPKn, IKIP.
Republik Indonesia, 1945. Undang – Undang Dasar 1945, Jakarta.
Nurhadi, 2002. Pendekatan Konstektual (Catextual Teaching Ang Learning). Malang. Universitas Negeri Malang.
Pertiwi, Aprilia Fajar, 1997. Mengembangkan Kecerdasan Emosi Anak. Yayasan Aspirasi Pemuda, Jakarta.
Kep. Mendiknas RI, 2002. Penyesuaian GBPP dan Penilaian Sistem Semester Satuan Pendidikan . Depdiknas. Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah, Jakarta.
M. LAMPIRAN-LAMPIRAN
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
Nama : NUNUK ENDANG WIATI
NIM : 815 615 697
Pendidikan : Sedang menempuh S 1 PGSD UT
UPBJJ Jember Pokjar Purwoharjo
Semester VI
Instansi Kerja : SD MUHAMADIYAH 15 SUMBERASRI
Banyuwangi, ……………….
Peneliti
NUNUK ENDANG WIATI
NIM. 815 615 697
Meningkatkan Sopan Santun Dan Prestasi Belajar Siswa Dengan Mengintegrasikan Budi Pekerti Kedalam Pendidikan Pancasila Dan Kewarganegaraan Di Kelas I SD Muhamadiyah 15 Sumberasri
![]() |
| Meningkatkan Sopan Santun Dan Prestasi Belajar Siswa Dengan Mengintegrasikan Budi Pekerti Kedalam Pendidikan Pancasila Dan Kewarganegaraan Di Kelas I SD Muhamadiyah 15 Sumberasri |
PROPOSAL
PENELITIAN TINDAKAN KELAS
( P T K )
MENINGKATKAN SOPAN SANTUN DAN
PRESTASI BELAJAR SISWA DENGAN MENGINTEGRASIKAN BUDI PEKERTI KEDALAM PENDIDIKAN PANCASILA
DAN KEWARGANEGARAAN
DI KELAS I SD MUHAMADIYAH 15 SUMBERASRI
Diajukan
Guna memenuhi salah satu tugas dalam mengikuti dan menyelesaikan
mata kuliah IDIK 4306 / Metode Penelitian
Disusun Oleh :
NUNUK xx
NIM. xxx
PROGRAM S1 PGSD – UT UPBJJ JEMBER
POKJAR PURWOHARJO
TAHUN 20xx
KATA PENGANTAR
Dengan memanjatkan rasa syukur ke hadirat Allah SWT. yang telah berkenan melimpahkan rahmat, taufik, hidayah dan inayah-Nya. Sehingga Proposal Penelitian Tindakan Kelas ini dapat terselesaikan.
Dengan terselesaikannya laoran ini, peneliti menyampaikan rasa terima kasih yang tak terhingga kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan dan lorongan. Secara khusus peneliti sampaikan terima kasih kepada :
Peneliti menyadari bahwa karya tulis ini masih jauh dari kesempurnaan. Untuk itu peneliti mengharapkan saran dan kritik yang bersifat konstruktif dari pembaca demi kesempurnaan karya tulis selanjutnya. Semoga karya tulis ini bermanfaat bagi peneliti khususnya, serta bagi para pembaca pada umumnya
Penulis,
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL i
KATA PENGANTAR ii
DAFTAR ISI iii
A. JUDUL PENELITIAN 1
B. BIDANG KAJIAN 1
C. PENDAHULUAN 1
D. PERUMUSAN DAN PERENCANAAN MASALAH 4
E. TUJUAN PENELITIAN 5
F. MANFAAT HASIL PENELITIAN 5
G. KAJIAN PUSTAKA 7
H. RENCANA DAN PROSEDUR PENELITIAN 16
I. JADWAL PENELITIAN 29
J. BIAYA PENELITIAN 30
K. PERSONALIA PENELITIAN 31
L. DAFTAR PUSTAKA 32
M. LAMPIRAN-LAMPIRAN
A. JUDUL PENELITIAN
Judul “Meningkatkan Sopan Santun dan Prestasi Belajar Siswa Dengan Mengintegrasikan Budi Pekerti Kedalam Pendidikan Pancasila Dan Kewarganegaraan di Kelas I SD Muhamadiyah 15 Sumberasri.
B. BIDANG KAJIAN
Peneliti mencoba menggunakan model Pengintegrasian dan strategi pembelajaran yang menjadi dasar pengintegrasian budi pekerti ke dalam PPKn adalah sebagaimana ditetapkan dalam pedoman umum pendidikan budi pekerti untuk pendidikan dasar atau menengah (Buku II, 2002), bahwa pendidikan budi pekerti diselenggarakan secara integrasi dalam mata pelajaran Pendidikan Agama dan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn), saerta mata pelajaran lain yang relevan.
C. PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Salah satu kritik yang menarik terhadap sistem pendidikan di Indonesia adalah terlalu mementingkan pendidikan akademik dan kurang diimbangi dengan pendidikan karakter, budi pekerti yang luhur, akhlak, moral dan mentalitas yang tinggi.
Untuk memberikan tanggapan secara positif terhadap kritik tersebut, Direktorat Pendidikan Dasar dan Menengah tengah mencoba mengadakan beberapa penyempurnaan dalam sistem pendidikan nasional pada umumnya dan sistem pembelajaran dan pengajaran pada khususnya, selaras dengan arus perubahan yang kini menggejala dalam penyelenggaraan pelayanan pendidikan dasar dan menengah, antara lain:
Pertama, sistem penyelenggaraan pendidikan yang sentralistik kini telah diubah menjadi sistem penyelenggaraan pendidikan yang disentralistik dengan titik berat pemberian wewenang pendidikan kepada daerah kabupaten / kota.
Kedua, sistem pembelajaran yang lebih berpusat kepada guru diubah menjadi sistem pembelajaran yang lebih berpusat kepada siswa dengan pendekatan yang dikenal dengan Student Actie Learning, atau yang dikenal dengan pendekatan PAKEM (Pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan).
Ketiga, pendidikan yang lebih mengedepankan aspek akademis (high based) secara bertahap telah diramalkan menjadi pendidikan yang berorientasi keterampilan untuk hidup (life skills).
Dalam hal pendidikan budi pekerti, pemerintah telah mengambil kebijakan bahwa budi pekerti bukan sebagai mata pelajaran yang relevan, terutama dengan Pendidikan Agama, Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) dan Bahasa Indonesia. Dengan pendekatan itu guru mengajar subtansi mata pelajaran dengan memberikan nilai – nilai budi pekerti yang terkandung didalamnya dengan alasan dalam mata pelajaran pada hakekatnya guru itu telah melaksanakan proses pengajaran dan pendidikan dalam arti sebenarnya. Dari sinilah diakui atau tidak kelemahan guru kita pada umumnya, yakni lebih mengutamakan pengajaran dan meninggalkan aspek yang justru lebih penting, yakni pendidikan (Depdiknas, 2003).
Sehubungan dengan hal tersebut seorang guru di samping mengajar juga mendidik, artinya bahwa seorang guru tidak hanya sekedar mentransfer ilmu – ilmunya pada peserta didiknya, tetapi lebih dari itu guru adalah sebagai pendidik yang harus dapat membina, mengarahkan membari contoh, suri tauladan, sikap tingkah laku yang baik.
Budi pekerti merupakan sarana yang dapat memberikan kontribusi dalam pembinaan karakter, watak dan moralitas yang tinggi, dalam Tap MPR No. I/MPR/1999 tentang GBHN, Khusus pada Bab I huruf D, mengenai agama dinyatakan pada butir I, “memanfaatkan fungsi peran dan kedudukan sebagai landasan moral, spiritual dan etika dalam penyelenggaraan Negara serta merupakan segala sesuatu perundang – undangan tidak bertentang dengan moral agama”. Kemudian pada I huruf C bagian e, mengenai pendidikan dinyatakan pada butir 2, “meningkatkan jaminan kesejahteraan tenaga kependidikan sehingga tenaga kependidikan mampu berfungsi secara optimal terutama dalam meningkatkan pendidikan watak dan budi pekerti agar dapat menigkatkan wibawa lembaga dan tenaga kependidikan”.
Selanjutnya pada misi dan visi Garis – Garis Besar Haluan Negara Indonesia tahun 1999 digariskan bahwa Pengalaman Pancasila, “Dilakukan secara konsisten dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara”, dan diwujudkan sistem dan iklim pendidikan nasional yang demokratis dan bermutu guna memperteguh akhlak mulia dan seterusnya.
Secara impirik akhir – akhir ini, terutama dalam kaitannya dengan munculnya berbagai fenomena merosotnya masyarakat dalam berbagai lapisan terhadap etika kehidupan bermasyarakat dan berbangsa serta bernegara Indonesia , pendidikan budi pekerti belum sepenuhnya memberi dampak pembelajaran dan pengiring yang menggembirakan. Hal itu antara lain tercermin dalam perilaku yang tidak santun, pelecehan hak asasi, perilaku kekerasan, penyalahgunaan kekuasaan dan menurunnya penghormatan terhadap pemerintah. Oleh karena itu sebagai sarana utama dalam pembangunan bangsa dan watak, pendidikan budi pekerti dituntut untuk memberikan perhatian yang sungguh – sungguh terhadap pengembangan nilai budi pekerti dalam keseluruhan dimensi pendidikan. Dengan cara itu diyakini bahwa pendewasaan anak di usia sekolah dan pemuda, yang harus mampu menunjukkan dirinya cerdas bukan hanya cerdas secara rasional namun juga cerdas secara emosional, sosial, dan spiritual.
Untuk merangkap misi tersebut, setelah mengakaji berbagai masukan akademis, empiris dan sosial kultural dari para pakar, praktisi dan tokoh masyarakat. Departemen Pendidikan Nasional menetapkan komitmen untuk menyelenggarakan pendidikan budi pekerti yang diintegrasikan ke dalam sejumlah pelajaran yang relevan dan ke dalam tatanan kehidupan dan iklim sosial budaya dunia pendidikan. Dengan demikian pendidikan budi pekerti secara kependidikan bukan hanya sebagai subtansi yang semata – mata diajarkan, tetapi lebh mendasar sebagai interaksi sosial budaya dan edukaif antara siswa denagn seluruh unsur pendidikan yang ada di sekolah dan di luar sekolah / masyarakat, yang meningkatkan tumbuh dan berkembangnya serta terwujudnya individu yang berahlak mulia (Buku I,2002).
D. PERUMUSAN DAN PERENCANAAN MASALAH
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah tersebut di atas, dapat dirumuskan masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana model pengintegrasian budi pekerti luhur ke dalam Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) dapat meningkatkan perilaku sopan santun siswa dalam musyawarah di kelas I SD Muhamadiyah 15 Sumberasri?
2. Bagaimana model pengintegrasian budi pekerti luhur ke dalam Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) dapat meningkatkan prestasi belajar siswa di kelas I SD Muhamadiyah 15 Sumberasri.?
Hipotesis Tindakan
Hipotesis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Model pengintegrasian budi pekerti luhur ke dalam Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) dapat meningkatkan perilaku sopan santun siswa dalam musyawarah di kelas I SD Muhamadiyah 15 Sumberasri.
2. Model pengintegrasian budi pekerti luhur ke dalam Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) dapat meningkatkan prestasi belajar siswa kelas I SD Muhamadiyah 15 Sumberasri.
E. TUJUAN PENELITIAN
Tujuan penelitian tindakan kelas ini antara lain adalah sebagai berikut:
1. Mendiskripsikan model pengintegrasian budi pekerti luhur ke dalam Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) dapat meningkatkan perilaku sopan santun siswa.
2. Mendiskripsikan model pengintegrasian budi pekerti luhur ke dalam Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.
F. MANFAAT HASIL PENELITIAN
Penelitian tindakan kelas ini diharapkan bermanfaat bagi siswa, guru dan sekolah. Adapun manfaatnya antara lain adalah sebagai berikut:
1. Manfaat bagi siswa:
• Memberikan sajian pelajaran yang terpadu menarik dan menyenangkan agar dapat meningkatkan perilaku sopan santun.
• Dengan diintegrasikan budi pekerti ke dalam PPKn, dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.
2. Manfaat bagi guru:
• Menemukan alternatif model pembelajaran yang mampu meningkatkan perilaku sopan santun dan prestasi belajar siswa.
• Memberikan solusi terhadap kritikan yang selama ini terjadi yakni bahwa sistem pendidikan kita hanya mengutamakan akademik kurang memperhatikan moral, sosial, dan spiritual.
• Memberikan jalan keluar yang selama ini merupakan kelemahan para guu secara umum aitu lebih mengutamakan pengajaran dan meninggalkan aspek yang justru lebih penting yakni pendidikan.
3. Manfaat bagi sekolah:
• Diharapkan dengan model pengintegrasian Budi Pekerti Luhur ke dalam Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) ini dapat memberikan jalan keluar dalam mengatasi krisis moral pada usia anak sekolah dan sekaligus dapat meningkatkan prestasi belajar para peserta didik.
• Dengan diintegrasikannya Budi Pekerti Luhur ke dalam Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan atau mata pelajaran lainnya yang relevan diharapkan dapat menaggulangi kenakalan remaja untuk mencegah tawuran antar siswa di sekolah atau antar sekolah dengan sekolah lain.
1.1 Definisi Operasional
Definisi operasional ini penting untuk menyamakan persepsi dalam pemahaman penelitian antara lain sebagi berikut:
o Yang dimaksud pengintegrasian adalah upaya terancana untuk memadukan nilai – nilai budi pekerti (sebagaimana dikatakan dalam Buku I dan II) ke dalam cakupan pokok bahasan mata pelajaran PPKn, untuk selanjutnya diwujudkan dalam proses pembelajaran sehingga terjadi interaksi (penghayatan) dan personalisasi (kepribadian) nilai – nilai dan dilaksanakannya isi PPKn. Dengan kata lain dampak pembelajaran nilai budi pekerti harus menjadi bagian tak terpisahkan dari dampak pembelajaran PPKn. (Depdiknas, 2003).
o Prestasi belajar adalah hasil belajar yang dicapai setelah belajar dengan sungguh – sungguh untuk dapat mencapai cita – cita dan memperoleh nilai yang sebaik – baiknya. Sedangkan menurut Panjaitan (1997), prestasi adalah kecenderungan seseorang untuk melakukan pekerjaan dengan hasil yang sebaik – baiknya.
o Hasil belajar adalah pencapaian tujuan pembelajaran yang berupa peningkatan hasil atau peningkatan kegiatan pembelajaran yang sesungguhnya.
o Prestasi belajar adalah untuk memperoleh nilai yang sebaik – baiknya melalui proses pembelajaran (belajar dengan sungguh – sungguh, pantang putus asa, tidak takut akan kegagalan, kerja dengan keras dan sebagainya), demi mendapatkan hasil yang terbaik. (Panjaitan, 1997).
o Perilaku sopan santun yang dimaksud adalah perilaku siawa yang mencerminkan nilai – nilai budi pekerti (perbuatan terpuji) tidak melanggar ketentuan – ketentuan hukum, agama, dan norma – norma kehidupan yang diimplementasikan dalam ucapan kata, perbuatan dan tingkah laku sehari – hari.
G. KAJIAN PUSTAKA
1.1. Visi dan Misi Pendidikan Budi Pekerti
Secara formal, komitmen Republik Indonesia terhadap pendidikan moral atau budi pekerti sesungguhnya sudah begitu tegas dinyatakan sebagaimana dapat dilihat di berbagai ketentuan perundang – undangan yang berlaku. Dalam Pembukaan UUD 1945 alinea ke-4 tentang tujuan Negara “mencerdaskan kehidupan bangsa” dan dasar Negara Pancasila dann Sila “Ketuhanan Yang Maha Esa” sampai “Keadilan Bagi Seluruh Rakyat Indonesia”, hal itu mengandung arti bahwa Republik Indonesia yang cerdas sesuai dengan esensi dan makna dasar Negara tersebut. Demikian pendidikan budi pekerti juga mempunyai visi dan misi sebagai berikut:
1. Sesuai dengan semua ketentuan perundang – undangan yang relevan, komitmen pemerintah, kajian akademis, pendapat para pakar pendidikan dan tokoh masyarakat, dirumuskan bahwa visi pendidikan budi pekerti adalah mewujudkan pendidikan budi pekerti sebagi bentuk pendidikan moral dan etika yang berfungsi untuk menumbuh kembangkan individu warga Negara Indonesia yang berakhlak mulia dalam pikiran, sikap dan perbuatannya sehari – hari.
2. Merujuk pada visi tersebut, maka yang menjadi misi pendidikan budi pekerti adalah:
a. Mengoptimalkan subtansi dan pelaksanaan masa pelajaran yang relevan. Khususnya Pendidikan Agama dan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn), saerta mata pelajaran lain yang relevan sebagaimana pendidikan budi pekerti sehingga para peserta didik bukan hanya cerdas rasional tetapi cerdas secara emosional, sosial, dan spiritual.
b. Mewujudkan tatanan dan iklim sosial budaya dunia pendidikan yang memancarkan akhlak mulia/ moral luhur, sebagi wahana bagi siswa, tenaga pendidikan, dan pengelola pendidikan untuk membangun interaksi edukatif dan budaya sekolah memancarkan akhlak mulia serta membangun ketahanan sekolah, lingkungan keluarga dan masyarakat dari pengaruh luar yang negatif.
c. Memanfaatkan media – media massa dan lingkungan masyarakat secara selektif adaptif, guru mendukung upaya penumbuhan dan pengembangan nilai – nilai budi pekerti luhur yang baik yang melalui mata pelajaran yang relevan maupun melalui pengembangan budaya pendidikan sekolah.
d. Membangun kerja sama antara keluarga, sekolah dan masyarakat dalam penerapan pendidikan budi pekerti.
Atas dasar visi dan misi pendidikan budi pekerti luhur tersebut maka pendidikan budi pekerti itu bertujuan untuk memfasilitasi siswa agar mampu menggunakan pengetahuan, mengkaji dan mengintegrasikan serta mempersonalisasi nilai, mengembangkan keterampilan sosial yang memungkinkan tumbuh dan berkembangnya akhlak mulai dalam diri siswa serta mewujudkannya dalam perilaku sehari – hari dalam konteks sosial budaya yang berbhineka.
1.2. Berperilaku Santun
Dalam hal ini yang dimaksud perilaku adalah tanggapan atau reaksi individu yang berwujud gerakan (sikap) tidak saja badan atau ucapan, (KBBI: 671).
Hukum perilaku yang berakibat tuntutan hukum karena merupakan kehendak yang melanggar (berlawanan dengan) kepentingan orang lain. Sedangkan santun adalah halus dan baik (budi bahasanya, tingkah lakunya, sopan, sabar, dan tenang), menaruh rasa belas kasihan serta suka menolong (KBBI: 783). Dengan demikian yang dimaksud berperilaku sentun adalah sikap yang baik yang tidak melanggar hukum atau norma – norma agama dan kehidupan manusia untuk bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Norma – norma itu antara lain: taat terhadap hukum, bertqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berbakti kepada orang tua, manusiawi, rasa kasih sayang, berhati lembut, dst. Termasuk nilai – nilai yang terkandung dalam pelajaran budi pekerti luhur. (Buku Depdiknas, 2002).
Pendidikan budi pekerti yang mengembangtumbuhkan pendidikan moral spiritual, emosional, dan sosial dharapkan dapat meningkatkan perilaku santun dalam keluarga dan masyarakat dalam kehidupan sehari – hari.
2. Rambu – Rambu Pelajaran
Dalam rangka pembelajaran pendidikan nilai budi pekerti ada tiga pengelompokan butir nilai budi pekerti, yakni: sifat – sifat terpuji, sifat – sifat tercela, dan tata krama. Ini dapat diterima sebagai salah satu alternatif dengan alasan:
1. Sebagai upaya untuk memberikan ciri khas program pendidikan budi pekerti yang lebih mengutamakan dominan efektif (sifat dan kemampuan) dan keterampilan sosial.
2. Sebagai pijakan yang dapat dijadikan acuan dan muara dalam penilaian keberhasilan pembelajaran. Namun demikian dengan pengorgaisasian nilai budi pekerti ke dalam setiap jenjang pendidikan perlu mempertimbangkan supaya dapat menggunakan desain kurikulum yang tepat.
Selama ini secara umum guru dalam pembelajarannya yang semestinya bersifat “student – learning oriented” yang berorientasi pda proses pembelajaran siswa, tergelincir menjnadi pendekatan penuturan atau value “story – telling” atau “narrative approach” yaitu pendekatan penuturan nilai yang sangat membosankan siswa dan guru. Oleh karena itu dalam pendidikan budi pekerti luhur pengembangan kurikulum akan lebih tepat menerapkan pendekatan pengorganisasian terpusat pada pengalaman atau “experience – centered” dan bukan terpusat kepada mata pelajaran atau “subject matter centered”. Dengan menggunakan pendekatan tersebut nilai – nilai budi pekerti disatu padukan atau “incorporated” dalam pengalaman belajar siswa yang dibangun oleh guru, sekolah dan masyarakat dan dialami langsung oleh siswa. Bila hal ini terjadi diyakini praktis pendidikan budi pekerti akan lebih bermakna bagi peserta didik.
3. Model Pengintegrasian Budi Pekerti ke dalam Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan
Peneliti mencoba menguraikan yang menadi dasar pengintegrasian budi pekerti ke dalam PPKn adalah sebagaimana ditetapkan dalam pedoman umum pendidikan budi pekerti untuk pendidikan dasar atau menengah (Buku II, 2002), bahwa pendidikan budi pekerti diselenggarakan secara integrasi dalam mata pelajaran Pendidikan Agama dan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn), saerta mata pelajaran lain yang relevan.
Pengintegrasian pendidikan budi pekerti ke dalam PPKn perlu memperhatikan beberapa hal, diantaranya:
1. Yang dimaksud pengintegrasian adalah sebagaimana peneliti telah uraikan di depan yaitu yang dimaksud dengan pengintegrasian adalah upaya terencana untuk memadukan nilai – nilai budi pekerti (sebagaimana dikatakan dalam Buku I dan II) ke dalam cakupan pokok bahasan mata pelajaran PPKn, untuk selanjutnya diwujudkan dalam proses pembelajaran, sehingga menjadi interaksi (penghayatan) dan personalisasi (kepribadian) nilai – nilai budi pekerti itu bersamaan dengan dipahami, dihayati, dan dilaksanakannya isi PPKn. Dengan kata lain dampak pembelajaran budi pekerti harus menjadi bagian tak terpisahkan dari dampak pembelajaran PPKn (Depdiknas, 2003).
2. Pokok bahasan uraian PPKn yang membawa wahana budi pekerti seyogyanya memperhatikan pelbagai aspek kehidupan ideologi, ekonomi, sosial, budaya, keamanan, keluarga, sekolah dan masyarakat (lokal, regional dan nasional). Dengan demikian nilai – nilai budi pekeri itu benar – benar diyakini dan dilaksanakan sesuai denagn kebutuhan lokal dan nasional sesuai dengan tingkat perkembangan anak.
3. Penempatan nilai budi pekerti menjadi wahana integrasi, nilai – nilai budi pekerti itu adalah yang teardapat dalam GBPP PPKn SD 1994 yang dilengkapi dengan pedoman pembelajaran suplemen tahun 1994.
4. Mengingat pentingnya peran guru, diharapkan agar guru selalu memperhatikan semua prinsip pembelajaran dan melaksanakannya dalam pembelajaran budi pekerti dengan mengintegrasikan ke dalam PPKn.
4. Model Pembelajaran dan Evaluasi
Pembelajaran tidak hanya bentuk ceramah atau nasehat saja, melainkan lebih mengutamakan pelakon (experiencing) dari dan pelatihan saerta pembakuan akhlak - akhlak mulia dalam praktk kehidupan. Maka pola pembelajaran perlu memperhatikan hal – hal saebagai berikut:
1. Pembelajaran Subtansi (bahan ajar dan isi pesan) dilakukan melalui klasifikasi percontohan (eksamploratik) dan atau analisis nilai moral yang tersirat dalam contoh, kasus, legenda, cerita rakyat dan kehidupan nyata.
2. Proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) hendaknya lebih ditekankan kepada Kegiatan Belajar Siswa (KBS) berupa pesertaan dalam berfikir, mengeluarkan pendapat, penilaian diri, penilaian kehidupan sekitar danpembiasaan perilaku di kelas, di rumah, dan lingkungan sekitar.
3. Biasakan melatih siswa membaca buku paket, buku cerita, Koran, majalah, dan menyimak radio atau televisi serta menulis (mengarang, membuat ulasan, singkatan, laporan, dan lainnya).
4. Dalam pemberian tugas hendaknya disesuaikan dengan kemampuan, fisik, usia, kondisi tempat dan waktu.
5. Biasakan siwa mengobservasi / meliput realita kehidupan sekitar dalam berbagai aspek lingkungan kehidupan.
6. Jadikan lingkungan sebagai rujukan belajar dan tempat Kegiatan Belajar Siswa (KBS).
7. Pelakon diri akhlak mulia melalui pelatihan keterampilan.
8. Tampilakan keteladanan personal melalui perilaku dari semua pihak.
Untuk penilaian agar dilengkapi dengan tugas KBS sehingga merupakan hasil penilaian dari pelbagai kegaitan siswa, yang bobot nilai setiap hasil sepenuhnya wewenang guru dan hasil penilaiannya terbuka dan berkelanjutan.
Dalam penilaian ini mengenai perilaku sikap sopan santun menggunakan prosentase dari deskripsi sikap sopan santun melalui pengamalan dan perilaku siswa sehari – hari dan selama penelitian berlangsung. Memakai rumusan sebagai berikut: jumlah siswa yang aktif dibagi siswa jumlah seluruh siswa yang hadir dikalikan 100%. Hasilnya lebih besar atau sama dengan 75 % dikatakan berhasil.
Selanjutnya untuk meningkatkan prestasi belajar mengajar melalui ulangan formatif (ulangan harian), sebagai patokannya digunakan nilai rata – rata kelas. Hasil belajar (prestasi belajar) dikatakan meningkat atau berhasil jika rata – rata kelasnya lebih besar atau sama dengan 75, tetapi bila kurang kurang dari 75 berarti gagal / belum berhasil.
5. Model Pengintegrasian Materi Budi Pekerti ke dalam PPkn Kelas I
Subjek penelitian tindakan keals ini adalah siswa kelas I pada semester I tahun pelajaran 2010/2011 dalam Materi musyawarah.
Kelas / Semester : I / I
Tahun Pelajaran : 2010/2011
Materi : Musyawarah
Tabel 1. Model Pengintegrasian Materi Budi Pekerti ke Dalam PPKn
MATERI PPKn MATERI Uraian Nilai Budi Pekerti Integrasi Mts. Bpk - PPKn Keterangan
Musyawarah Membiasakan menyelesaikan masalah dengan cara musyawarah terlebih dahulu Pengendalian diri menghargai pendapat orang lain, terbuka Menghargai pendapat peserta lainnya dalam bermusyawarah 1. Pembelajaran
2. Sumber buku paket, kehidupan sekitar
3. Evaluasi pengamatan, tes tulis, PR
Setelah membuat model pengintegrasian ini dilanjutkan membuat analisa materi sebagai berikut:
Pendidikan : Musyawarah
Materi : 1 (satu)
Tabel 2. Analisis Materi Pelajaran
MATERI Pengembangan / Penjabaran Materi Penyesuaian
Waktu Sarana Metode Ket
Musyawarah
1. Mengenai cara menyelesaikan masalah melalui musyawarah
2. Membiasakan menyelesaikan masalah dengan cara musyawarah dulu. a. Contoh Musyawarah di Rumah
- Rencana tentang liburan
- Pembagian tugas di rumah (n, b, p, menghargai)
b. Contoh Musyawarah di sekolah
- Pembagian tugas piket
- Belajar kelompok diskusi kelompok (n, b, p pengendalian diri)
c. Musyarawah di Masyarakat
- Rencana kegiatan warga
- Pemilihan ketua RT
d. Cara bermusyawarah
- Usul dibicarakan bersama
- Setiap anggota dapat usul
e. Dst…
a. Mendengarkan saran orang lain
b. Tidak memotong pembicaraan orang lain
c. Tidak memaksakan kehendak (n, b, p menghargai)
d. Melaksanakan keputusan dengan jalur (n, b, p sportif)
e. Mengikuti musyawarah sampai selesai (n, b, p tanggung jawab) 4 jam - Buku paket
- Buku penunjang
- Gambar
- Pemilihan ketua kelas
- Pramuka siaga
- KBM Ceramah
Untuk nilai budi pekerti yang terintegrasi ke dalam musyawarah, yakni tanggung jawab, menghargai, sportif dan pengendalian diri, sebagai tolak ukur keberhasilan atau ketidakberhasilan peneliti kolaborasi dengan Kepala Sekolah dan teman sejawat untuk melakukan pengamatan, perilaku siswa selama kegiatan pembelajaran berlangsung dan dalam perilaku sehari – hari.
H. RENCANA DAN PROSEDUR PENELITIAN
METODE PENELITIAN
1. Rancangan Penelitian
Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research), yang mengacu pada pandangan Elliot (1991), yang terdiri dari 3 (tiga) siklus.
Atas dasar hal tersebut peneliti ingin mengetahui julah tingkat perilaku sopan santun dalam musyawarah dan prestasi belajar siswa terhadap dan kewarganegaraan di kelas I SD Muhamadiyah 15 Sumberasri.. Seterusnya kegiatan penelitian ini dilaksanakan menurut prosedur sebagai berikut: refleksi awal, perencanaan, pelaksanaan tindakan, refleksi dan perencanaan ulang.
1.1. Rancangan Siklus I
a. Refleksi awal
Dalam refleksi awal ini peneliti mengadakan observasi, identifikasi, dan menganalisis permasalahan perilaku siswa kelas I yang dikaitkan denagn pendidikan budi pekerti dan PPKn di SD Muhamadiyah 15 Sumberasri..
b. Merumuskan permasalahan secara optimal
Pada tahap ini peneliti merumuskan permasalahan yang muncul dalam perilaku siswa sehari – hari dalam kegiatan belajar dan mengajar dan perilaku yang kurang santun baik itu di kelas maupun di luar kelas yang berhubungan dengan pendidikan budi pekerti dan PPKn.
c. Perumusan hipotesis tindakan
Hipotesis tindakan pada siklus I ini sebagai berikut:
1. Dengan mengintegarasikan Budi Pekerti ke dalam Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) diyakini dapat meningkatkan perilaku sopan santun siswa kelas I di SD Muhamadiyah 15 Sumberasri..
2. Dengan mengintegrasikan Budi Pekerti ke dalam Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) diyakini dapat meningkatkan prestasi belajar siswa kelas I di SD Muhamadiyah 15 Sumberasri.i.
d. Menyusun rancangan tindakan
1. Menentukan pokok bahasan yakni Musyawarah (mengenal cara musyawarah untuk menyelesaikan masalah dan membiasakan dalam menyelesaikan masalah melalui musyawarah terlebih dahulu) sesuai dengan analisa materi.
2. Membuat persiapan mengajar / Satuan Pelajaran (SP)
a. Menentukan tujuan pengajaran sesuai GBPP.
b. Menentukan materi pelajaran dari buku paket PPKn kelas I atau buku penunjang yang relevan.
c. Merumuskan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM)
- Kegiatan pendahuluan
Apresiasi dengan menggunakan metode ceramah, tanya jawab dan tugas, media yang digunakan gambar, dilanjutkan penjelasan singkat dari praktisi tentang pengerjaan Lembar Kerja Siswa (LKS).
- Kegiatan inti (dilaksanakan 2 (dua) pertemuan)
Pertemuan I
1) Siswa mengerjakan LKS
2) Siswa dan praktisi membahas pengerjaan LKS
Pertemuan II
1) Siswa melakukan diskusi kelompok
2) Pelaksanaan Ulangan Formatif
- Kegiatan penutup
1) Berupa kesimpulan dan tindak lanjut / PR
d. Menentukan media pembelajran berupa gambar – gambar sederhana dalam musyawarah (suasana pemilihan ketua kelas, kegiatan pramuka siaga, musyawarah keluarga, kegiatan di luar kelas).
e. Menyusun alat penilaian formatif berupa soal yang digandakan sejumlah siswa kelas I sebanyak 20 anak.
3. Peneliti menyusun alat pengumpul data, berupa: lembar pengamatan, catatan lapangan tentang proses pelaksanaan pembelajaran, serta instrument penilaian.
4. Menyusun rencana pengolahan data secara kualitatif dan kuantitatif.
e. Pelaksanaan tindakan
Praktisi melaksakan reancana pembelajaran sebagaimana tentang dalam Satuan Pembelajaran, menggunakan metode caramah, tanya jawab, diskusi dan pemberian tugas. Adapun langkah – langkah pembelajaran adalah sebagai berikut:
1. Pendahulan
Melakukan apersepsi tanya jawab dengan siswa serta menunjukkkan gambar – gambar yang mencerminkan musyawarah yang telah dipersiapkan.
2. Kegiatan inti
a) Secara singkat praktisi memberi penjelasan tentang pengerjaan LKS.
b) Jawaban – jawaban LKS sedapat mungkin siswa dapat mencari sendiri dari buku paket atau penunjang yang relevan.
c) Setelah selesai pengerjaan LKS dilanjutkan pembahasan jawaban dan diskusi secara klasikal, pada waktu diskusi ini nillai busi pekerti diintegrasikan dalam musyawarah yakni tanggung jawab, menghargai, sportif, pengendalian diri, praktisi sebagai fasilitator dan mengarahkan.
d) Selesai diskusi kelompok, praktisi memberikan justifikasi, penekanan – penekanan bagian yang salah utnuk dibetulkan dan jawaban yang salah pada LKS dibetulkan.
e) Pada pertemuan kedua ditiadakan tanya jawab dari semua kelompok secara bergiliran dan merata.
f) Mempersiapkan untuk ulangan formatif.
3. Kegiatan penutup
Praktisi bersama siswa memberikan kesimpulan dan sebagai tindak lanjut diberi Pekerjaan Rumah.
f. Pengamatan
Pengamatan dilakukan oleh peneliti dan teman sejawat, dengan wawancara secara mendalam, analisis dokumen, catatan lapangan untuk mengamati proses pembelajaran yang sedang berlangsung, mencatat data – data yang muncul kemudian menstraskripsikannya. Analisa dokumen dengan manila pengerjaan LKS dan evaluasi pembelajaran.
Data tentang peningkatan perilaku sopan santun dilakukan melalui pengamatan aktifitas perilaku siswa selama pembelajaran, saat mengerjakan LKS dan diskusi kelompok. Data tentang prestasi belajar diukur dengan membandingkan antara hasil penelitian formatif dengan hasil belajar sebelumnya.
g. Refleksi
Hasil refleksi siklus pertama sebagai dasar untuk membuat rancangan pada siklus kedua dan rancangan tindakan lanjutan (perencanaan ulang).
1.2. Rancangan Siklus II
Berdasarkan hasil refleksi pada siklus I, peneliti membuat perancangan ulang untuk penelitian siklus kedua. Perancangan pada siklus kedua ini merupakan penyempurnaan dari siklus pertama. Hal – hal yang muncul pada siklus pertama dicatat, dianalisa, kemudian disempurnakan pada siklus kedua baik yang berhubungan dengan penyempurnaan Satuan Pembelajaran (SP) atau proses pembelajaran.
a. Rancangan Tindakan
a) Bahan pembelajaran siklus kedua ini sama seperti pada siklus pertama, yakni tentang musyawarah (mengenali cara menyelesaikan masalah melalui musyawarah dan membiasakan dalam menyelesaikan masalah dengan cara musyawarah terlebih dahulu).
b) Membuat Satuan Pembelajaran dengan langkah – langkah sebagai berikut:
a) Menentukan tujuan pembelajaran sesuai GBPP;
b) Menentukan materi pelajaran dari buku paket PPKn kelas I atau buku penunjang yang relevan;
c) Merumuskan materi pelajaran dari buku paket PPKn kelas I atau buku penunjang yang relevan;
d) Merumuskan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM)
- Kegiatan Pendahuluan
Apersepsi dengan menggunkan metode ceramah, tanya jawab dan tugas, media yang digunakan gambar, dilanjutkan penjelasan singkat dari praktisi tentang pengerjaan Lembara Kerja Siswa (LKS).
- Kegiatan Inti
Pertemuan I
1) Siswa mengerjakan LKS
2) Sisw dan praktisi membahas jawaban LKS
Pertemuan II
1) Siswa melakukan diskusi kelompok
2) Pelaksanaan Ulangan Formatif
- Kegiatan penutup
1) Berupa kesimpulan dan tindak lanjut / PR
c) Peneliti menyusun alat pengumpul data berupa lembar pengamatan. Catatan lapangan tentang proses pelaksanaan pembelajaran, dan instrumen penelitian.
d) Menyusun rencana pengolahan data secra kelitatif dan kuantitatif.
b. Pelaksanaan Tindakan
Praktisi melaksanakan rencana pembelajaran sebagai mana tertuang dalam Satuan Pembelajaran, menggunakan metode ceramah, tanya jawab, diskudi dan pemberian tugas. Adapun langkah – langkah pembelajaran tersebut adalah sebagai berikut:
1. Pendahuluan
Melakukan apersepsi tanya jawab dengan siswa serta menunjukkan gambar – gambar yang mencerminkan musyawarah yang telah dipersiapkan.
2. Kegiatan Inti
a) Secara singkat praktisi member penjelasan tentang pengerjaan LKS.
b) Jawaban – jawaban pada LKS sedapat mungkin siswa dapat mencari sendiri dari buku paket atau buku penunjang yang relevan.
c) Setelah selesai pengerjaan LKS dilanjutkan pembahasan jawaban dan diskusi secara klasikal, pada waktu diskusi ini nilai budi pekerti diintegrasikan dalam muyawarah yakni tanggug jawab, menghargai, sportif, pengendalian diri, praktisi sebagai fasilitator dan mengarahkan.
d) Selesai diskusi kelompok, praktisi memberikan justifikasi, penekanan- penekanan bagian yang salah untuk dibetulakn dan jawaban yang salah pada LKS dibetulkan.
e) Pada pertamuan kedua ditiadakan tanya jawab dari semua kelompok secara bergiliran dan merata.
f) Mempersiapkan untuk Ulangan Formatif.
3. Kegiatan Penutup
Praktisi bersama siswa memberikan kesimpulan dan sebagai tindak lanjut diberi Pekerjaan Rumah.
c. Pengamatan
Pengamatan dilakukan oleh peneliti dan teman sejawat, dengan wawancara secara mendalam, analisis dokumen, catatan lapangan untuk mengamati proses pembelajaran yang sedang berlangsung, mencatat data – data yang muncul kemudian menstraskripsikannya. Analisa dokumen dengan manila pengerjaan LKS dan evaluasi pembelajaran.
Data tentang peningkatan perilaku sopan santun dilakukan melalui pengamatan aktifitas perilaku siswa selama pembelajaran, saat mengerjakan LKS dan diskusi kelompok. Data tentang prestasi belajar diukur dengan membandingkan antara hasil penelitian formatif dengan hasil belajar sebelumnya.
d. Refleksi
Hasil refleksi siklus pertama sebagai dasar untuk membuat rancangan pada siklus kedua dan rancangan tindakan lanjutan (perencanaan ulang). Hal – hal yang muncul pada siklus ke II, analisa dan kesimpulan sebagai dasar untuk pembuatan rencangan pada siklus III.
2. Rancangan Siklus III
Berdasarkan hsil refleksi pada sikulus II, peneliti membuat perancangan ulang untuk penelitian siklus III. Perancangan pada siklus III ini merupakan penyempurnaan dari siklus II. Sehingga baik Satuan Plajaran ataupun proses pembelajaran sudah mengalami penyempurnaan dua kali, oleh karena itu diharapkan hasilnya akan lebih baik dari siklus sebelumnya dengan kata lain ada peningkatan yang signifikan.
a) Rancangan Tindakan
1. Bahan pelajaran pada siklus ketiga ini sama seperti pada siklus kedua, yakni tentang musyawarah (mengenali cara menyelesaikan masalah melalui musyawarah dan membiasakan dalam menyelesaikan masalah dengan cara musyawarah terlebih dahulu).
2. Membuat satuan pelajaran dengan langakh – langakh sebagai berikut:
a) Menentukan tujuan pembelajaran sesuai GBPP;
b) Menentukan materi pelajaran dari buku paket PPKn kelas I atau buku penunjang yang relevan;
c) Merumuskan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM)
- Kegiatan Pendahuluan
Apersepsi dengan menggunkan metode ceramah, tanya jawab dan tugas, media yang digunakan gambar, dilanjutkan penjelasan singkat dari praktisi tentang pengerjaan Lembara Kerja Siswa (LKS).
- Kegiatan Inti
Pertemuan I
1) Siswa mengerjakan LKS
2) Siswa dan praktisi membahas jawaban LKS
Pertemuan II
1) Siswa melakukan diskusi kelompok
2) Pelaksanaan Ulangan Formatif
- Kegiatan penutup
1) Berupa kesimpulan dan tindak lanjut / PR
d) Menentukan media pembelajaran berupa gambar – gambar sederhana dalam musyawarah.
e) Menyusun alat penilaian formatif berupa soal yang digandakan sejumlah siswa kelas I sebanyak 20 siswa.
3. Peneliti menyusun alat pengumpul data berupa: lembar pengamatan, catatan lapangan tentang proses pelaksanaan pembelajaran, dan instrument penelitian.
4. Meyusun rencana pengolahan data secara kualitatif dan kuantitatif.
b) Pelaksanaan Tindakan
Praktisi melaksanakan rencana pembelajaran sebagai mana tertuang dalam Satuan Pembelajaran, menggunakan metode ceramah, tanya jawab, diskudi dan pemberian tugas. Adapun langkah – langkah pembelajaran tersebut adalah sebagai berikut:
1. Pendahuluan
Melakukan apersepsi tanya jawab dengan siswa serta menunjukkan gambar – gambar yang mencerminkan musyawarah yang telah dipersiapkan.
2. Kegiatan Inti
a) Secara singkat praktisi member penjelasan tentang pengerjaan LKS.
b) Jawaban – jawaban pada LKS sedapat mungkin siswa dapat mencari sendiri dari buku paket atau buku penunjang yang relevan.
c) Setelah selesai pengerjaan LKS dilanjutkan pembahasan jawaban dan diskusi secara klasikal, pada waktu diskusi ini nilai budi pekerti diintegrasikan dalam muyawarah yakni tanggug jawab, menghargai, sportif, pengendalian diri, praktisi sebagai fasilitator dan mengarahkan.
d) Selesai diskusi kelompok, praktisi memberikan justifikasi, penekanan- penekanan bagian yang salah untuk dibetulakn dan jawaban yang salah pada LKS dibetulkan.
e) Pada pertamuan kedua ditiadakan tanya jawab dari semua kelompok secara bergiliran dan merata.
f) Mempersiapkan untuk Ulangan Formatif.
3. Kegiatan Penutup
Praktisi bersama siswa memberikan kesimpulan dan sebagai tindak lanjut diberi Pekerjaan Rumah.
c) Pengamatan
Pengamatan dilakukan oleh peneliti dan teman sejawat, dengan wawancara secara mendalam, analisis dokumen, catatan lapangan untuk mengamati proses pembelajaran yang sedang berlangsung, mencatat data – data yang muncul kemudian menstraskripsikannya. Analisa dokumen dengan manila pengerjaan LKS dan evaluasi pembelajaran.
Data tentang peningkatan perilaku sopan santun dilakukan melalui pengamatan aktifitas perilaku siswa selama pembelajaran, saat mengerjakan LKS dan diskusi kelompok. Data tentang prestasi belajar diukur dengan membandingkan antara hasil penelitian formatif dengan hasil belajar sebelumnya.
d) Refleksi
Hsil refleksi siklus III sebagai dasar untuk memberikan rekomendasi dan saran pelaksanaan di lapangan.
1.3. Tempat Penelitian
Penelitian tindakan kelas ini dilakukan di SD Muhamadiyah 15 Sumberasri, dengan jumlah siswa yang menjadi sasaran dalam penelitian ini sebanyak 20 siswa dengan berkolaborasi dengan guru kelas I (bertindak sebagi praktisi) dan teman sejawat (bertindak sebagai observer).
1.4. Teknik Pengumpulan Data
Data dikumpulkan melalui pengamatan, catatan lapangan, wawancara secara mendalam dan studi dokumen.
a. Tekhnik pengamatan dan catatan lapangan digunakan untuk menilai proses pembelajaran dan peningkatan perilaku sopan santun siswa.
b. Tekhnik wawancara digunakan untuk mengetahui tanggapan siswa terhadap proses pembelajaran, kaitannya dengan perilaku sopan santun siswa dalam musyawarah.
c. Tekhnik studi dokumen digunakan untuk mengetahui peningkatan prestai belajar siswa.
Hasil penelitian pada siklus I direfleksikan untuk bahan penyempurnaan pada siklus II, demikian pula pada siklus II direfleksikan lagi guna penyempurnaan pada siklus III dan pelaksanaan selanjutnya di lapangan.
1.5. Analisis Data
Analisis data dilakuakn secara deskriptif dengan dasar hasil observasi terhadap perilaku sopan santun siswa dan prestasi belajar siswa dalam pembelajaran, dengan langkah – langkah sebagai berikut:
1. Melakukan reduksi data, yakni ricek (pengecekan) dan mencatat kembali data – data yang terkumpul.
2. Melakukan interpretasi, yakni menafsirkan yang diwujudkan dalam bentuk pernyataan.
3. Melakukan inferensi, yaitu menyimpulkan apakah di dalam pembelajaran ini terjadi peningkatan perilaku sopan santun siswa dan prestasi belajar atau tidak ada peningkatan (didasarkan pada hasil obsaervsi dan pengamatan).
4. Tahap tindak lanjut, yang artinya merumuskan langkah – langkah perbaikan untuk siklus berikutnya atau pelaksanaan di lapangan setelah siklus berakhir berdasarkan inferensi yang telah ditetapkan.
5. Pengambilan kesimpulan didasarkan pada analisis hasil – hasil dan observasi dalam penelitian, kemudian dituangkan dalam bentuk pernyataan melalui interpretasi.
Kegiatan analisa data untuk mengetahui peningkatan perilaku sopan santun siswa dan prestasi belajar siswa dalam proses pembelajaran diuraikan sebagai berikut:
1. Meningkatkan perilaku sopan santun siswa dalam musyawarah digunakan indikator.
a. Tidak melaksanakan kehendak (n, b, p pengendalian diri).
b. Menerima saran pendapat orang lain (n, b, p menghargai).
c. Melaksanakan keputusan dengan jujur (n, b, p sportif).
d. Mengikuti musyawarah sampai selesai (n, b, p tanggung jawab).
Sedangkan kriteria perilaku sopan santun siswa memakai rumus sebagai berikut:
a. Perilaku sopan santun siswa dikatakan meningkat apabila rata – rata prosentase masing – masing kegiatan yang dinilai lebih besar atau sama besar 75%.
b. Perilaku dikatakan belum meningkat jika rata –rata prosentase masing – masing kegiatan kurang dari 75%.
2. Meningkatnya prestasi belajar siswa ditandai dengan indikator hasil belajar siswa dalam setiap ulangan formatif menjadi lebih baik dari hasil belajar sebelumnya (untuk dibandingkan).
I. JADWAL PENELITIAN
Jadwal Kegiatan Penelitian Tindakan
No Kegiatan Bulan
6 7 8 9 10 11
1 Persiapan / Penyusunan Proposal
2 Pelaksanaan Siklus I
3 Pelaksanaan Siklus II
4 Pelaksanaan Siklus III
5 Penyususnan Laporan Hasil Penelitian
J. BIAYA PENELITIAN
NO URAIAN BANYAK HARGA SATUAN (Rp) TOTAL
(Rp)
1 Perispan penyusunan Proposal PTK
a. Tranportasi rapat
b. Konsumsi
c. ATK
d. Rental
2 org
2 org
-
20 lbr
10.000
8.000
2.000
20.000
16.000
24.000
40.000
Jumlah 100.000
2. Pelaksanaan / siklus
a. Alat observasi
b. Transportasi
c. Konsumsi
d. Honor guru
e. Biaya tim evaluasi
f. Biaya analisis dan refleksi
-
3 org
3 org
1 org
2 org
2 org
50.000
10.000
6.500
20.000
20.000
20.000
50.500
30.000
19.500
20.000
40.000
40.000
Jumlah
Jumlah dalam 3 siklus = 160.000 x 3 = 160.000
480.000
3. Penyusunan Laporan
a. Tranportasi
b. Rental (Copy + Tambahan)
c. FC
d. Penjilitan
1 org
-
3 x 40 lb
3 pkt
15.000
-
150
7.500
15.000
40.000
18.000
22.500
Jumlah 95.500
4. Lain-lain (tak terduga) - - 100.000
JUMLAH TOTAL 775.500
K. PERSONALIA PENELITIAN
1. Identitas (Peneliti )
Nama : NUNUK ENDANGWIYATI
NIM : 815 615 697
Pendidikan : Sedang menempuh S 1 PGSD UT
UPBJJ Jember Pokjar Purwoharjo
Semester VI
Instansi Kerja : SD MUHAMADIYAH 15 SUMBERASRI
2. Identitas peneliti (Teman Sejawat)
Nama : MESENO
NIM : 815 696 704
Jabatan : GTT
Pendidikan : Sedang menempuh S 1 PGSD UT
UPBJJ Jember Pokjar Purwoharjo
Semester VI
L. DAFTAR PUSTAKA
Budiono, R. Suharsono, 2003. Model Pengintegrasian Pendidikan Budi Pekerti. Departemen nasional, Jakarta.
Winataputra U.S dkk, 2002. Pedoman Umum Pendidikan Budi Pekerti SD. Buku I Departemen pendidikan Nasional, Jakarta.
Sedyowati, E., 1997. Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur. Balai Pustaka, Jakarta.
Winataputra U.S., 2000. Pendidikan Penanaman Budi Pekerti Luhur. Balai Pustaka, Jakarta.
Sanusi, A. 1998. Membudayakan Pilar – Pilar Demokrasi Konstitusional Indonesia. Bandung Panitia Seminar PPKn, IKIP.
Republik Indonesia, 1945. Undang – Undang Dasar 1945, Jakarta.
Nurhadi, 2002. Pendekatan Konstektual (Catextual Teaching Ang Learning). Malang. Universitas Negeri Malang.
Pertiwi, Aprilia Fajar, 1997. Mengembangkan Kecerdasan Emosi Anak. Yayasan Aspirasi Pemuda, Jakarta.
Kep. Mendiknas RI, 2002. Penyesuaian GBPP dan Penilaian Sistem Semester Satuan Pendidikan . Depdiknas. Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah, Jakarta.
M. LAMPIRAN-LAMPIRAN
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
Nama : NUNUK ENDANG WIATI
NIM : 815 615 697
Pendidikan : Sedang menempuh S 1 PGSD UT
UPBJJ Jember Pokjar Purwoharjo
Semester VI
Instansi Kerja : SD MUHAMADIYAH 15 SUMBERASRI
Banyuwangi, ……………….
Peneliti
NUNUK ENDANG WIATI
NIM. 815 615 697

0 Response to "Meningkatkan Sopan Santun Dan Prestasi Belajar Siswa Dengan Mengintegrasikan Budi Pekerti Kedalam Pendidikan Pancasila Dan Kewarganegaraan Di Kelas I SD Muhamadiyah 15 Sumberasri"
Posting Komentar