Model Jaring Laba – Laba untuk Meningkatkan Perhatian Siswa pada saat Pembelajaran Berlangsung” pada materi operasi hitung bilangan siswa kelas IV SDN 2 Tamanagung, Cluring, Banyuwangi
November 07, 2018
Add Comment
Download Proposal Penelitian Tindakan Kelas Judul
Model Jaring Laba – Laba untuk Meningkatkan Perhatian Siswa pada saat Pembelajaran Berlangsung” pada materi operasi hitung bilangan siswa kelas IV SDN 2 Tamanagung, Cluring, Banyuwangi
PROPOSAL
PENELITIAN TINDAKAN KELAS
( P T K )
MODEL JARING LABA – LABA
UNTUK MENINGKATKAN PERHATIAN SISWA PADA SAAT PEMBELAJARAN BERLANGSUNG” SISWA KELAS IV SDN 2 TAMANAGUNG
KEC. CLURING KAB. BANYUWANGI
Diajukan
Guna memenuhi salah satu tugas dalam mengikuti dan menyelesaikan
mata kuliah IDIK 4306 / Metode Penelitian
Disusun Oleh :
B E N I
NIM. 815
PROGRAM S1 PGSD – UT UPBJJ JEMBER
POKJAR PURWOHARJO
TAHUN 20xx
KATA PENGANTAR
Puji Syukur saya panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, atas nikmat, karunia, taufig, hidayah dan inayah-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan penyusunan proposal penelitian ini tepat pada waktunya.
Penyusunan proposal ini saya ajukan guna memenuhi salah satu tugas dalam mengikuti dan menyelesaikan mata kuliah Penelitian Tindakan Kelas pada Universitas Terbuka UPBJJ Jember Pokjar Kecamatan Purwoharjo Program S 1 PGSD Guru Kelas.
Saya sampaikan ucapan terima kasih kepada semua pihak, terutama kepada Tutor Pembimbing yang telah mencurahkan pikiran dan waktunya untuk memberikan bimbingan, arahan dan petunjuk kepada saya dalam rangka penyusunan proposal ini.akhir kata orang bijak mengatakan “ TAK ADA GADING YANG TAK RETAK”, begitu pula halnya dengan proposal yang saya susun ini keberadaannya masih jauh dari kesempurnaan. Oleh sebab itu saran kritik dan masukan yang bersifat membangun demi sempurnanya proposal ini sangat saya harapkan.
Penulis,
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL i
KATA PENGANTAR ii
DAFTAR ISI iii
A. JUDUL PENELITIAN 1
B. BIDANG KAJIAN 1
C. PENDAHULUAN 1
D. PERUMUSAN DAN PERENCANAAN MASALAH 5
E. TUJUAN PENELITIAN 5
F. MANFAAT HASIL PENELITIAN 6
G. KAJIAN PUSTAKA 6
H. RENCANA DAN PROSEDUR PENELITIAN 23
I. JADWAL PENELITIAN 33
J. BIAYA PENELITIAN 33
K. PERSONALIA PENELITIAN 34
L. DAFTAR PUSTAKA 35
M. LAMPIRAN-LAMPIRAN
JUDUL PENELITIAN
“ Model Jaring Laba – Laba untuk Meningkatkan Perhatian Siswa pada saat Pembelajaran Berlangsung” pada materi operasi hitung bilangan siswa kelas IV SDN 2 Tamanagung, Cluring, Banyuwangi.”
BIDANG KAJIAN
Pada penelitian yang akan dilaksanakan ini, model pembelajaran yang akan digunakan adalah pembelajaran terpadu model terjala atau model antar bidang studi karena subyek penelitiannya siswa SD kelas IV yang ditinjau dari perkembangan kognitifnya masih belum mampu berfikir tinggi. Pembelajaran terpadu model jaring laba-laba ini sering digunakan pada siswa kelas rendah, namun pada penelitian ini akan diuji cobakan pad siswa kelas IV untuk mengetahui apakah cocok model keterkaitan antar mata pelajaran ini digunakan dikelas tinggi khususnya kelas IV.
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Sekolah Dasar ( SD ) merupakan lembaga pendidikan formal pertama bagi peserta didik untuk belajar. Sebagai lembaga pendidikan dasar, seharusnya mendapat perhatian khusus karena pendidikan di SD sebagai landasan khusus bagi siswa untuk mengenali dan menimba ilmu pengetahuan lebih lanjut. Tanpa penguasaan yang mantap terhadap kemampuan tersebut, maka ilmu-ilmu pada jenjang pendidikan selanjutnya sulit untuk dikuasai siswa.
Arus globalisasi dan perkembangan Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Seni ( IPTEK ) mendorong kita untuk berupaya meningkatkan kemampuan untuk terlibat dalam perlombaan nasional dalam berbagai bidang, sehingga kemampuan baca tulis hitung harus diiringi dengan pembelajaran yang dapat memberikan pengetahuan dan keterampilan dasar yang merupakan bagian dari integral dari sistim pendidikan di Indonesia, sangat perlu ditingkatkan mutu pendidikan sejak dari kelas – kelas awal.
Upaya meningkatkan mutu pendidikan dasar ini tidak dapat ditunda lagi terutama dalam peningkatan mutu proses pembelajaran di SD sekarang ini hal ini sesuai dengan fungsi pendidikan dasar yang tidak semata-mata berfungsi sebagai sarana sosialisasi anak didik, melainkan sejak dini sudah harus menumbuhkan secara potensial generasi muda yang kelak mampu menjadi agen pembaharuan pendidikan SD tidak hanya menghasilkan lulusan bisa membaca, menulis dan memiliki segudang pengetahuan sesaat, tetapi diharapkan dapat mengembangkan tegnologi dan menggunakan pola pikir dalam kehidupan sehari-hari.
Kenyataan selama praktik pendidikan sekolah dasar yang terjadi menunjukkan kecenderungan (1) terjadinya pengkotakan bidang studi yang ketat, terutama untuk kelas-kelas tinggi, (2) pembelajaran hanya menekankan pada pencapaian efek intruksional, (3) sistim evaluasi berorentasi testing dengan menekankan reproduksi informal (Ahmad, 2004). Hal ini bertentangan dengan ciri utama dari perkembangan anak sekolah dasar yang holisitik, perkembangan anak bersifat terpadu, aspek perkembangan yang satu terkait erat dengan mempengaruhi aspek perkembangan yang lain.
Bredekamp ( dalam Ahmad, 2004) menyatakan bahwa anak berkembang pada semua aspek perkembangannya baik fisik, emosional, sosial dan kognitif. Tak ada jalan lain kecuali guru harus memiliki tanggung jawab dan perhatian penuh bagi keutuhan perkembangan anak. Didalam teori belajar perkembangan kognitif serta perkembangan bahasa pada anak usia 6 sampai usia 12 tahun atau anak SD mempunyai karakteristik sebagai berikut : (1) kemampuan kognitif dan bahasa anak usia tersebut memadai untuk belajar dalam situasi yang lebih formal, (2) anak – anak seusia itu masih memandang sesuatu lebih sebagai keseluruhan, (3) sesuatu lebih mudah mereka pahami jika diperoleh melalui interaksi sosial dengan mengalaminya secara nyata dalam situasi yang menyenangkan, (4) situasi yang akrab, dilandasi penghargaan, pengertian, dan kasih sayang, serta lingkungan belajar kondusif dan terencana dapat membantu proses belajar yang efektif (Ahmad, 2004). Kenyataan itu menuntut agar guru sebagai pengelola pembelajaran dapat menyediakan lingkungan belajar yang kondusif dan pendekatan pembelajaran yang bermuatan keterkaitan atau keterpaduan sehingga memuat anak secara aktif terlibat dalam proses pembelajaran dan pembuatan keputusan.
Matematika adalah ilmu pasti dan kompleks. Matematika tidak hanya mempelajari cara hitung saja, tetapi matematika juga memiliki banyak cabang ilmu, misalnya ilmu ukur, geometri, aljabar, dll. Cabang – cabang ilmu tersebut saling berkaitan. Meskipun matematika memiliki banyak cabang ilmu tapi matematika secara umum memiliki karakteristik antara lain: (1) memiliki objek kajian abstrak, (2) bertumpu pada kesepakatan, (3) berpola pikir deduktif, (4) memliki symbol yang kosong dari arti, (5) memperhatikan semesta pembicaraan, (6) konsisten dalam sistemnya (Soedijadi, 2003:13).
Dari uraian diatas maka dapat disimpulkan bahwa pembelajaran matematika di sekolah dasar telah mempertimbangkan asas keterkaitan atau keterpaduan sebagai pendekatan pembelajaran sesuai dengan perkembangan anak sekolah dasar yang holistic yaitu pendekatan pembelajaran terpadu. Guru sebagai model selama proses pembelajaran di kelas. Proses tersebut menyangkut materi ajar yang digunakan, kegiatan guru dan siswa, siswa dengan guru dan bahan ajar, alat dan lingkungan belajar serta cara alat evaluasi dan kesulitan dengan kebutuhan perkembangan siswa itu sendiri.
Indriasih (2005) menyatakan bahwa secara umum prestasi hasil belajar siswa dengan menggunakan pembelajaran terpadu lebih baik dari pada hasil belajar siswa yang menggunakan pembelajaran konvensional karena usia tujuh sampai dua belas tahun anak mengalami perkembangan berpikir kongkrit sehingga apa yang diajarkan haruslah anak dapat dengan mudah mengingat, mencoba, mengamati dan melakukan tindakan sesuai dengan pemecahan masalah.
Ada beberapa temuan yang dialami peneliti bahwa salah satu sebab rendahnya motivasi dan prestasi belajar siswa dalam proses pembelajaran siswa kelas IV SDN 2 Tamanagung, Cluring, Banyuwangi adalah dalam penyajian materi. Guru terlalu mendominasi kelas selama proses belajar mengajar sehingga siswa cenderung pasif dan sulit untuk menerima materi yang telah diberikan dan siswa kurang memahami aplikasi materi tersebut dalam kehidupan sehari – hari. Karena kemampuan berpikir siswa tidak sama, maka tidak semua sisawa dapat menangkap pelajaran yang telah diberikan oleh guru. Untuk itu perlu diterapkan pembelajaran terpadu model jaring laba – laba karena dianggap memiliki kelebihan antara lain: pengalaman dan kegiatan belajar anak akan selalu relevan dengan tingkat perlengkapan anak sehingga hasil belajar lebih bermakna bagi anak sehingga hasil belajar anak dapat bertahan lebih lama dan dapat menumbuh kembangkan ketrampilan berpikir anak, mendidik anak lebih kreatif, toleransi antar sesama, dan melatih siswa belajar dalam kelompok. Berdasarkan rumusan diatas, maka diadakan penelitian yang berjudul “ Model Jaring Laba – Laba untuk Meningkatkan Perhatian Siswa pada saat Pembelajaran Berlangsung” pada materi operasi hitung bilangan siswa kelas IV SDN 2 Tamanagung, Cluring, Banyuwangi. Pada penelitian ini akan dipilih tema tentang belanja dan memadukan antara Matematika, PKN dan Bahasa Indonesia. Alasan memilih perpaduan mata pelajaran antara mata pelajaran tersebut karena dalam berinteraksi. Dan lebih penting siswa mengalami pembelajaran ini secara langsung sehingga pengalaman belajar yang mereka peroleh lebih bermakna dan terkesan menyenangkan.
PERUMUSAN DAN PERENCANAAN MASALAH
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas dapat dirumuskan beberapa permasalahan sebagai berikut:
Bagaimana aktiitas belajar siswa pada pembelajaran terpadu model jaring laba – laba (webbed model) pada materi operasi hitung bilangan siswa kelas IV SDN 2 Tamanagung, Cluring, Banyuwangi?
Bagaimana ketuntasan belajar siswa melalui pembelajaran terpadu model jaring laba – laba (webbed model) pada materi operasi hitung bilangan siswa kelas IV SDN 2 Tamanagung, Cluring, Banyuwangi?
Tindakan dalam penelitian dapat dirumuskan sebagai berikut:
Melalui pembelajaran terpadu model jarring laba – laba dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa dalam proses pembelajaran.
Melalui pembelajaran terpadu model jaring laba – laba siswa lebih tuntas dalam memperoleh hasil belajar karena mengalami pembelajaran langsung sehingga pengalaman belajar lebih bermakna
TUJUAN PENELITIAN
Penelitian ini dilakukan dengan tujuan:
Untuk mengetahui aktivitas belajar siswa pada pembelajaran terpadu model jaring laba – laba (webbed model) pada materi operasi hitung bilangan siswa kelas IV SDN 2 Tamanagung, Cluring, Banyuwangi.
Untuk mengetahui ketuntasan belajar siswa melalui pembelajaran terpadu model jaring laba – laba (webbed model) pada materi operasi hitung bilangan siswa kelas IV SDN 2 Tamanagung, Cluring, Banyuwangi.
MANFAAT HASIL PENELITIAN
Bagi guru, sebagai bahan masukan untuk meningkatkan teknik penyampaian materi dalam proses belajar mengajar sehingga dapat mengembangkan proses berpikir siswa.
Bagi sekolah, sebagai bahan pengembangan untuk penelitian lebih lanjut. Sekolah dapat berkembang karena adanya peningkatan pengetahuan pada diri guru dan kemajuan pendidikan di sekolah.
Bagi siswa, meningkatkan proses atau hasil belajar, berlatih bersikap kritis terhadap hasil belajar, berperan aktif dalam setiap pembelajaran serta meningkatkan pemahamaan dalam pembelajaran.
KAJIAN PUSTAKA
Hakikat Belajar Mengajar
Belajar pada hakekatnya adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai pengalaman sendiri dalam interaksi dengan lingkungan ( Slamet, 1995:5). Sedangkan Nasution (2000:35) menyatakan pelajar adalah proses malahirkan atau mengubah suatu kegiatan melalui jalan latihan (apakah dalam laboratorium ataupun dalam lingkungan alamiah). Sebagai hasil belajar, perubahan ini b berlangsung secara berkesinambungan, tidak statis. Perubahan yang terjadi akan menyebabkan perubahan berikutnya dan akan berguna bagi proses belajar berikutnya.
Depdiknas (2004:5) menyatakan bahwa hakikat mengajar (teaching) adalah membantu siswa memperoleh informasi, ide, keterampilan, cara berfikir, sarana untuk mendiskripsikan dirinya, dan cara-cara belajar bagaimana belajar. (Sardiman (2005:47) memberikan pengertian mengajar menjadi dua, yaitu belajar dalam arti sempit dan belajar dalam arti luas. Mengajar dalam arti sempit adalah menyampaikan pengetahuan pada anak didik, serta belajar dalam arti yang luas adalah aktivitas mengorganisasi atau mengatur lingkungan sebaik-baiknya dan menghubungakn dengan anak sehingga terjadi proses belajar mengajar.
Dalam proses mengajar terjadi suatu interaksi bernilai edukatif yaitu terjadi proses belajar yang terjadi antara guru dan siswa, siswa dan materi dikarenakan kegiatan yang akan dilakukan diarahkan untuk mencapai tujuan yang telah dirumuskan secara sistimatis dengan memanfaatkan segala sesuatu untuk kepentingan pengajaran.
Pembelajaran Matematika di SD
Matematika adalah cabang ilmu pengetahuan eksak dan teroganisir secara sistimatik. Matematika memiliki ciri-ciri yaitu memiliki objek yang abstrak, berisikan konsep-konsep dan berpola fikir deduktif, yang artinya kebenaran dari suatu konsep atau pernyataan diperoleh sebagai akibat logis dari kebenaran sebelumnya sehingga kaitan antara konsep atau pernyataan dalam matematika bersifat konsisten. Matematika diajarkan disekolah karena matematika memang berguna untuk memecahkan persoalan dalam masyarakat. Dalam kehidupan kita sehari-hari selalu kita temukan konsep matematika Soejadi (2000:37) menyatakan bahwa dalam pembelajaran matematika di sekolah penyajian atau pengungkapan butir-butir matematika yang disampaikan disesuaikan dengan perkiraan perkembangan intelektual siswa dan renas disekitar kita.
Sekolah Dasar merupakan lembaga pendidikan pertama bagi peserta didik untuk belajar. Pendidik disekolah dasar ini merupakan landasan dan wahana pokok yang menjadi syarat mutlak yang harus di kuasai perserta didik untuk menggali dan membina pengetahuan lebih lanjut.
Matematikan berfungsi mengembangkan kemampuan menghitung, mengukur, menurunkan dan menggunakan rumus matematika sederhana yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari memlalui materi bilangan, pengukuran dan geometri. Matematika juga berfungsi mengembangkan kemampuan bernalar melalui kegiatan penyelidik, eksplorasi dan eksperimen. Sebagai alat pemecahan masalah melalui pola pikir dan model matematika serta sebagai alat komunikasi melalui symbol. Tebel, grafik, diagram dan menjelaskan gagasan (Depdiknas, 2003:6).
Berdasarkan Garis – garis Besar Pedoman Pembelajaran (GBPP) Kurikulum Berbasis Kompetensi, tujuan umum pembelajaran matematika adalah sebagai berikut :
Melatih cara berfikir dan bernalar dan menarik kesimpulan, misalnya melalui kegiatan penyelidikan, eksplorasi, eksperimen, menunjukkan kesamaan, perbedaan, konsistan dan inkosistansi.
Mengembangkan aktivitas kreatif yang melibatkan imajinasi, inquiri, dan pertemuan dengan mengembangkan pemikiran divergen, orsinil, rasa ingin tahu, membuat prediksi dan dugaan, serta mencoba-coba
Mengembangkan kemampuan menyampaikan informasi atau mengkomunikasikan gagasan antara lain melalui pembicaraan lisan,catatan, grafik, peta, diagram dalam menjelaskan gagasan (Depdiknas, 2003:80)
Sedangkan tujuan khusus pengajaran matematika di Sekolah Dasar adalah sebagai berikut :
Menumbuhkan dan mengembangkan keterampilan berhitung ( menggunnakan bilangan ) sebagai alat dalam kehidupan sehari-hari;
Menumbuhkan kemampuan siswa, yang dapat dialih gunakan melalui kegiatan matematika;
Mengembangkan kemampuan dasar matematika sebagai bekal belajar lebih lanjut di sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP)
Membentuk sikap logis, kritis, cermat, kreatif dan disiplin (Soedjadi, 2000:4).
Berdasarkan standart kompetensi matematika diatas, maka setiap guru dalam melaksanakan belajar mengajar harus mengaitkan setiap materi pelajaran yang diberikan dengan tujuan pembelajaran tersebut.
Pembelajaran Terpadu
Pembelajaran terpadu merupakan suatu aplikasi salah satu strategi pembelajaran berdasarkan pendekatan kurikulum terpadu yang bertujuan untuk menciptakan atau membuat proses pembelajaran secara relevan dan bermakna bagi anak. Selanjutnya di jelaskan bahwa dalam pembelajaran terpadu didasarkan pada pendekatan inquiri, yaitu melibatkan siswa mulai dari merencanakan, mengeksplorisasi dan broing troming dari siswa. Dengan pendekatan terpadu siswa di dorong untuk berani bekerja secara kelompok dan belajar dari hasil pengalamannya sendiri. Collins dan Dixon ( dalam Ahmad, 2004) menyatakan tentang pembelajaran terpadu sebagai berikut : integer learning occurs when on outhentic even or exploration of a topic in the curriculum. Selanjutnya dijelaskan dalam pelaksanaan anak dapat diajak berpartisipasi aktif dalam mengeksplorasi topic atau kejadian, siswa belajar proses dan isi (materi) lebih dari satu bidang studi pada waktu yang sama.
Pembelajaran terpadu sangat memperhatikan kebutuhan anak sesuai dengan perkembangannya yang holistik dengan melibatkan secara aktif dalam proses pembelajaran baik fisik maupun emosionalnya. Untuk itu aktifitas yang diberikan meliputi aktif mencari,menggali dan menemukan konsep serta prinsip keilmuan yang holistic, bermakna, dan otentik sehingga siswa dapat menerapkan hasil belajar untuk memecahkan masalah-masalah yang nyata dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan Bredekamp (dalam Ahmad, 2004) dalam proses pembelajaran orang dewasa hendaknya menyediakan berbagai aktifitas dan bahan-bahan yang kaya serta menawarkan bagi siswa sehingga dapat memilihnya untuk kegiatan kelompok kecil maupun mandiri dan memberikan kesempatan bagi siswa untuk berinisiatif sendiri, melakukan keterampilan atas prakarsa sendiri sebagai aktifitas yang dipilihnya. Pembelajaran terpadu juga menekankan integrasi sebagai aktivitas untuk mengeksplorasi objek, topic, atau tema yang merupakan kejadian-kejadian fakta dan peristiwa yang otentik.
Hamalik ( 1990:17) mengemukakan bahwa pendektan terpadu bertolak dari suatu keseluruhan atau suatu kesatuan yang bermakna dan berstruktur. Keseluruhan bukanlah penjumlahan dari bagian-bagian melainkan suatu totalitas yang memiliki makna tersendiri. Bagian yang ada dalam keseluruhan itu berada dan berfungsi dalam suatu struktur tertentu. Konsep keterpaduan dititik beratkan pada ciri alamiah siswa dan pada proses pengembangan kegiatan yang menyangkut pengembangan berfikir dan pengembangan siswa.
Dari pendapat-pendapat diatas dapat di simpulkan bahwa pembelajaran terpadu merupakan kegiatan berlangsung secara nyata, yang mengembangkan proses berfikir siswa sehingga terasa kebermaknaanya bagi kehidupan. Dalam pembelajaran terpadu, antara mata pelajaran satu dengan yang lain tidak dibatasi. Penggabungan berbagai mata pelajaran diikat dalam satu topic yang berkaitan dengan kehidupan nyata siswa. Pembelajaran terpadu juga memliki kelemahan antara lain : untuk memlilih tema diperlukan ketelitian dan kemampuan guru dalam menilai minat siswa,memerlukan waktu yang cukup lama untuk menyiapkan pembelajaran, diperlukan kejelian guru dalam mengaitkan dalam kehidupan sehari-hari anak.
Adapun ciri – ciri pembelajaran secara terpadu menurut Fogarty ( dalam Indriasih, 2005) adalah sebagai beriku :
Berpusat pada anak. Dalam hal ini siswa yang akan lebih berperan aktif dan guru hanya mengarahkan dan membimbing.
Memberikan pengalaman langsung karena siswa langsung belajar mencoba, mengamati dan melakukan tindakan pemecahan masalah sesuai dengan fakta dan masalah yang mereka alami, bukan sekedar menerima informasi dari guru.
Pemisahan bidang studi begitu tidak jelas. Antara bidang studi dengan yang lainnya diikat dalam satu tema yang sesuai dengan perkembangan anak. Tema ini dapat dipilih dengan guru dengan siswa yang sering dialami dalam kehidupan sehari-hari.
Menyajikan konsep dari berbagai bidang dalam satu proses pembelajaran.
Bersifat luwes
Hasil pembelajaran dapat berkembang sesuai dengan minat dan kebutuhan anak.
Pembelajaran terpadu dikembang selain untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan, diharapkan siswa juga dapat :
Meningkatkan pemahaman konsep yang dipelajari secara lebih bermakna.
Mengembangkan keterampilan menemukan, mengolah dan memanfaatkan informasi.
Menumbuh kembangkan sikap positif, kebiasaan baik,dan nilai-nilai luhur yang diperlukan dalam kehidupan.
Menumbuh kembangkan keterampilan sosial seperti kerja sama, toleransi, serta menghargai pendapat orang lain.
Meningkatkan gairah dalam belajar.
Memilih kegiatan yang sesuai dengan minat dan kebutuhannya.
Pembelajaran terpadu dapat dilaksanakan dengan dua cara yaitu memadukan siswa dan memadukan materi-materi dari mata pelajaran-mata pelajaran.
Integrasi melalui pemaduan siswa
Cara ini memadukan beberapa kelas menjadi satu kelas, sehigga satu kegiatan pembelajaran diikat oleh lebih dari satu tingkat usia siswa. Misalnya siswa kelas 3 dan 4 diajar matematika bersama-sama dalam satu kelas. Cara ini tentu memerlukan keahlian guru untuk memberikan tugas yang bertingkat sehingga siswa belajar dari yang mudah ke tingkat yang lebih sulit. Siswa kelas 3 dapat belajar dari siswa yang lebih tua (kelas4) yang pengetahuannya lebih banyak, sedangkan siswa yang lebih tua ( kelas 4 ) dapat mengajarkan pengetahuannya kepada siswa yang lebih muda.
Integrasi materi atau mata pelajaran
Cara ini memadukan materi dari beberapa mata pelajaran dalam satu kesatuan kegiatan pembelajaran. Dlam satu kegiatan pembelajaran siswa belajar berbagai mata pelajaran missal : IPA, PKN , Bahasa Indonesia, matematika. Cara ini biasanya di lakukan dengan mengikat dengan beberapa pelajaran kedalam satu ke satuan tema yang di sebut tematik unit. Tematik unit merupakan rangkaian tema yang di kembangkan dari satu tema dasar. Sedangkan satu tema dasar merupakan pilihan atau kesepakatan antar guru dengan siswa berdasarkan kajian keseharian yang dialami siswa dengan persetujuan dari materi – materi yang ada pada kurikulum. Selanjutnya tema dasar tersebut di kembangkan menjadi banyak tema yang di sebut unit tema ( sub tema ).
Dalam penelitian ini di pilih perpaduan antara materi – materi dari pelajaran Matematika, PKN , dan Bahasa Indonesia. Perpaduan antara mata pelajaran di anggap lebih efektif di bandingkan dengan memadukan beberapa kelas. Sedangkan tema yang di pilih adalah tentang belanja, tema inidi ambil atas kesepakatan antara peneliti dengan guru mata pelajaran Matematika dengan pertimbangan kondisi lingkungan dengan siswa. Alasan memilih keterpaduan antara ketiga mata pelajaran tersebut karena mata pelajaran tersebut sering di gunakan dalam kehidupan sehari–hari siswa.
Menurut Tim pengembang PGSD, prosedur pembelajaran terpadu di bagi dalam 3 tahap yaitu :
Tahap Perencanaan
Perencanaan pembelajaran pada dasarnya adalah rangkaian rencana yang memuat isi dan kegiatan pembelajaran yang bersifat menyeluruh dan sistematis, yang akan di gunakan sebagai pedoman bagi guru dalam mengelola kegiatan belajar mengajar. Dalam pelajaran terpadu langkah perencanaan yang harus di lakukan seorang guru adalah sebagai berikut :
Mempelajari kompetensi dasar pada kelas dan semester yang sama dari setiap mata pelajaran.
Memilih tema yang dapat memilih mempersatukan kompetensi-kompetensi tersebut untuk setiap kelas dan semester, misalnya tema tentang belanja, keluarga, lingkungan kelas.
Membuat matrik hubungan antara kompetensi dasar dengan tema.
Membuat peta konsep untuk melihat kaitan antara tema dengan kompetensi dasar dari setiap mata pelajaran.
Menyusun silabus berdasarkan tema yang telah di buat.
Callins & Hazel ( dalam Indriasih, 2005 ) menyatakan bahwa alternative topic dapat di tentukan berdasarkan minat siswa, minat guru, kejadian yang penting dalam waktu tertentu, mengambil topic utama dalam kurikulum, atau mengacu dalam kegiatan kehidupan masyarakat tertentu. Pemilihan topic ini memiliki peranan yang sangat penting karena topic ini memikat mata ppelajaran yang akan dipelajari. Topic yang akan digunakan harus sesuatu yang sering dialami oleh siswa. Dengan menggunakan tema dalam pembelajaran terpadu akan mendorong beberapa hal bermanfaat antara lain :
Siswa mudah memusatkan perhatian pada satu tema atau topic tertentu.
Siswa dapat mempelajari pengetahuan dan mengembangkan berbagai kompetensi pelajaran dalam tema yang sama.
Pemahaman terhadap materi pelajaran lebih mendalam dan berkesan.
Anak lebih merasakan manfaat dan makna belajar karena materi yang disajikan dalam konteks tema yang jelas.
Anak lebih bergairah belajar karena mereka bisa berkomunikasi dalam situasi yang nyata misalnya bertanya, bercerita, menulis deskripsi, dll.
Guru dapat menghemat waktu karena mata pelajaran yang di sajikan secara terpadu dapat dipersiapkan sekaligus dan diberikan waktu 2 atau 3 kali pertemuan. Waktu selebihnya dapat digunakan untuk remedial, pemantapan atau pengayaan.
Tahap Pelaksanaan
Tahap pelaksanaan adalah suatu keinginan yang dilakukan sesuai apa yang telah direncanakan sebelumnya. Tahap pelaksanaan ini harus mengacu pada tujuan yang akan dicapai dalam pembelajaran ini.
Tahap Evaluasi
Evaluasi pembelajaran terpadu dapat di artikan sebagai evaluasi yang berupa informasi tentang pencapaian pengetahuan dan pemahaman anak, pengembangan sosial dan afektif anak dengan memanfaatkan asesmen alternative dan cara informal. Evaluasi ini di fokuskan pada evaluasi hasil dan proses. Evalusi proses diarahkan pada tingkat ketertiban siswa dalam proses pembelajaran. Disamping itu, minat dan semangat siswa mengikuti kegiatan merupakan tolok ukur lain dari evaluasi proses.
Pada proses menekankan pad tingkat ketertiban siswa, maka evaluasi akhir lebih di fokuskan pada tingkat pemahaman dan penyikapan siswa sehari – hari. Untuk mengungkapkan pemahaman siswa terhadap materi pembelajaran dapat digunakan tes prestasi belajar. Sementara itu, untuk mengetahui tingkat kemampuan siswa melakukan suatu tugas dapat dilakukan dengan menggunakan tes perbuatan atau ketrampilan, dan untuk mengungkap sikap siswa terhadap materi pelajaran dapat dilakukan melalui wawancara dan angket.
Model Pembelajaran Terpadu
Menurut Hadisubroto dan Herwati ( dalam Indriasih, 2005 ), ada 3 model pembelajaran terpadu, yaitu :
Pembelajaran Terpadu Model Terkait
Model terkait adalah pembelajaran terpadu yang paling sederhana. Konsep, ketergantungan, atau kemampuan yang ditumbuh kembangkan didalam suatu materi atau sub materi dikaitan dengan konsep,ketrampilan, atau kemampuan pada materi lain dalam satu bidang studi.
Keterangan :
A : mata pelajaran
1 & 2 : konsep dalam satu mata pelajaran / bidang studi
Pembelajaran Terpadu Model Terjala / Jaring Laba – Laba ( Webbed Model )
Berbeda dengan pembelajaran terpadu model terkait, pembelajaran terpadu model terjala ini dimulai dari suatu tema. Tema diramu dari materi atau sub materi dari beberapa bidang studi yang di kembangkan. Pembelajaran melalui tema ini dapat disoroti melalui beberapa bidang studi.
Keterangan :
A : subtema
B : subtema
C : subtema
: mata pelajaran / bidang studi
Pembelajaran Terpadu Model Terpadu
Beberapa dengan model-model pembelajaran terpadu sebelumnya, dalam model terpadu ini pembelajaran dimulai dengan pembahasan materi dan sub materi yang di prioritaskan dan tumpang tindih ini berasal dari tiga atau lebih bidang studi yang dirancang untuk diajarkan secara terpadu. Materi ini harus dikaji terlebih dahulu dalam GBPP kemudian diperkirakan untuk memperoleh perioritas.
Keterangan :
T : tema
A,B,C,D,E,F,G : konsep atau keterampilan yang saling tumpang tindih
: mata pelajaran / bidang studi
Pada penelitian ini model pembelajaran yang akan digunakan adalah pembelajaran terpadu model terjala atau model antar bidang studi karena subyek penelitiannya siswa SD kelas IV yang ditinjau dari perkembangan kognitifnya masih belum mampu berfikir tinggi. Pembelajaran terpadu model jaring laba-laba ini sering digunakan pada siswa kelas rendah, namun pada penelitian ini akan diuji cobakan pad siswa kelas IV untuk mengetahui apakah cocok model keterkaitan antar mata pelajaran ini digunakan dikelas tinggi khususnya kelas IV.
Pembelajaran terpadu model jaring laba-laba memiliki beberapa kelebihan antara lain :
Adanya faktor motivasional yang dihasilkan dari menyeleksi tema yang sangat diminati.
Model jaring laba-laba relative mudah dilakukan bagi guru-guru yang belum berpengalaman.
Model ini mempermudah perencanaan kerja tim antar bidang studi yang bekerja untuk mengembngkan suatu tema kedalam pembelajaran.
Memudahkan siswa melihat kegiatan-kegiatan dan ide-ide berbeda yang terkait.
Sedangkan kelemahan terpadu model jarring laba-laba adalah sebagai berikut :
Langkah yang sulit dalam menerapkan model jarring laba-laba menyeleksi tema.
Guru dapat misi kurikulum baku.
Dalam pembelajaran guru lebih focus pada kegiatan-kegiatan dari pada mengembangkan konsep.
Aktivitas Belajar Siswa
Belajar adlah suatu proses yaitu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannya melalui latihan dan pengalaman ( Purwanto. 1996 : 85 ). Belajar memerlukan kegiatan atau aktivitas dari orang yang belajar. Itulah sebabnya aktivitas merupakan prinsip atau azas yang paling penting di dalam interaksi belajar mengajar ( Sardiman, 2005 ).
Banyak kegiatan yang di lakukan oleh anak-anak di sekolah, tidak hanya mendengarkan dan mencatat seperti yang lazim terdapat di sekolah. Dedrich ( dlam Nasution, 2000 : 91 ) membagi aktivitas belajar menjadi delapan kelompok, antara lain :
Visual activities : membaca, memperhatikan gambar, demonstrasi mengamati, percobaan, mengamati percobaan orang lain.
Oral activities : menyatakan, merumuskan, bertanya, memberi saran, mengeluarkan pendapat, mengadakan wawancara, diskusi, interupsi.
Listening activities : mendengarkan uraian, percakapan, diskusi, music, pidato.
Writing activities : menulis cerita, laporan, karangan, menyalin, mengisi, angket.
Draeing activities : menggambar, membuat grafik, diagram, peta, pola.
Motor activities : melakukan percobaan, membuat kontruksi model, mereparasi, bermain, berkebun, memelihara binatang.
Mental activities : menanggapi, mengingat, memecahkan soal / masalah, menganalisa, melihat hubungan, mengambil keputusan.
Emosional activities : menaruh minat, merasa bosan, gembira, bersemangat, bergairah, berani, tenang, gugup.
Dalam penelitian ini akan diambil 4 jenis aktifitas yaitu : oral activities ( mengeluarakan pendapat dan diskusi) writing activities (laporan , pengamatan di lapangan ) motor activities ( bermain, melakukan pengamatan dan presentasi ), mental activities ( memecahkan maslah)
Ketuntasan Belajar Siswa
Hasil belajar adalah keterampilan siswa setelah menerima pengalaman belajarnya atau hasul belajar adalah perubahan tingkah laky setelah melakukan belajar yang biasanya berupa nilai atau angka (Sujana, 1989:22).perubahan tingkah laku yang dimaksud adalah dari tidak tahu menjadi tahu dan tidak mengerti menjadi mengerti.
Hasil belajar yang di capai siswa di pengaruhi beberapa faktor menurut Prwanto (1987:106) faktor-fktor tersebut di bedakan menjadi 2 macam :
Faktor yang ada pada organisme itu sendiri atau faktot individual antara lain : kematangan atau pertumbuhan, kecerdasan atau intelegensi, latihan atau ulangan, motoivasi, sikap dan sifat-sifat pribadi seseorang.
Faktor yang ada di individu antara lain :keadaan keluarga, guru yang mengajarnya, alat-alat pelajaran, motivasi sosial, lingkungan dan kesempatan
Pelaksanaan penilaian hasil belajar menggunakan alat penilaian berupa tes, karena tes dapat digunakan untuk mengetahui kemajuan belajar yang telah dicapai siswa. Hal ini sesuai dengan pendapat Nurkancana (1983:34) bahwa tes adalah suatu cara untuk mengadakan penilaian yang berbentuk suatu tugas dan harus dikerjakan oleh siswa untuk menghasilkan nilai tentang tingkah laku atau prestasi yang dapat dibandingkan dengan nilai yang dicapai siswa melalui nilai standar yang ditetapkan.
Dalam penelitian ini gasil belajar diperoleh setelah siswa mengikuti pembelajaran terpadu model jaring laba-laba (webbed model). Hasil belajar yang dicapai siswa merupakan hasil yang dicapai siswa melalui tugas / kegiatan siswa yang merupakan alat untuk mengukur kreativitas siswa dalam proses pembelajaran kinerja siswa dalam kelompok dan tes tulis sebagai pengukur produk dari pembelajaran
Dari hasil belajar dapat diketahui ketuntasan dalam pembelajaran yang telah dilaksanakan. Ada[un criteria ketuntasan belajar siswa dapat dinyatakan sebagai berikut :
Daya serap perorangan, seorang siswa dikatakan tuntas apabila telah mencapai skor ≥ 70 dari skor maksimun 100.
Daya serap klasikal , suatu kelas dikatakan tuntas apabila terdapat minimal 80% siswa yang telah mencapai skor ≥ dari kor maksimum 100
Uraian Materi
Matematika
Materi yang dipelajari yaitu penjumlahan, pengurangan, perkalian dan pembagian.
PKN
Pasar merupakan bertemunya antara penjual dan pembeli untuik mengadakan jual beli, penjual adalah orang yang menawarkan atau menjual barang. Pembeli adalah orang yang membeli barang. Jenis barang yang diperjual belikan bermacam-macam. Nama – nama pasar tergantung barang yang diperjualbelikan. Misalnya pasar ikan yaitu pasar yang hanya menjual ikan, pasar buah yaitu pasar yang hanya menjual bermacam-macam buah-buahan. Berdsarkan jenisnya pasar dibedakan menjadi 2 yaitu pasar tradisional dan pasar modern. Yang termasuk pasar tradisional adalah pasar pagi, pasar malam, pasar siang dll. Yang termasuk pasar modern adalah mall, swalayan, plaza dll.
Dipasar dapat kita lihat orang dengan kesibukan masing-masing. Penjual menawarkan dan menjual barang dagangannya. Pembelipun mencari dan membeli barang yang dibutuhkan. Kemudia terjadi tawar-menawar antara penjual dan pembeli. Namun ada juga pasar yang sudah menetapkan harga dengan memberikan label pada barang yang bersangkutan.
Bahasa Indonesia
Materi yang dipelajari yaitu menuli hasil laporan dan mempresentasikan di depan kelas. Selain itu juga akan dipelajari cara menulis dan membaca nilai uang. Misalnya Rp. 7.500,00 di baca “ tujuh ribu lima ratus rupiah”.
RENCANA DAN PROSEDUR PENELITIAN
METODE PENELITIAN
Tempat Penelitian
Dalam penelitian ini daerah yang akan diguanakan adalah SDN 2 Tamanagung dipilihnya SDN 2 Tamanagung atas dasar :
Adanya kesediaan Kepala Sekolah Dasar Negeri 2 Tamanagung untuk di jadikan tempat penelitian
SDN 2 Tamanagung belum pernah dilakukan penelitian serupa
Subjek penelitian adalah orang yang merespon atau menjawab pertanyaan tertulis maupun lisan (Arikunto, 2000:107). Jadi subjek penelitian adalah orang yang dapat memberikan keterangan atau penjelasan atau tanggung jawab terhadap suatu permasalahan yang diselidiki. Dalam penelitian ini, subjek penelitiannya adalah siswa kelas IV SDN 2 Tamanagung tahun ajaran 2010/2010. Dikelas IV terdapat 20 siswa yang terdiri dari 12 siswa laki-laki dan 8 siswa perempuan. Penelitian ini dilaksanakan bulan Juli sampai dengan Desember
Pendekatan dan Jenis Penelitian
Pendekatan Penelitian
Pendekatan dalam penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Penelitian kualitatif merupakan penelitian yang datangnya dinyatakan dalam bentuk verbal dan di analis tanpa menggunakan teknik statistic (Suhadi dkk, 2003:3)
Pendekatan ini juga memenuhi ciri-ciri pendekatan kualitatif sesuai pendapat Moleong ( 2004:4-8)
Manusia sebagai alat antar instrument, peneliti sendiri atau dengan bantuan orang lain (guru) sebagai pengumpul data utama;
Menggunakan metode kualitatif yaitu menyajikan secara langsung hubungan antara peneliti dan siswa, dan dapat disesuaikan dengan keadaan-keadaan sekitarnya.
Analisis data secara induktif yakni dapat membuat hubungan peneliti – siswa menjadi eksplisit dan mudah untuk dipahami, serta dapat mengutamakan latar secara utuh / penuh.
Bersifat deskriftif data untuk memberikan gambaran penyajian data;
Lebih mementingkan segi proses dari pada hasil karena hal-hal yang diteliti akan terlihat lebih jelas dalam proses belajar mengajar.
Desain Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas. Menurut Sukidin, dkk (2002:37) penelitian tindakan kelas bertujuan untuk memperbaiki dan meningkatkan dengan praktik pembelajaran di kelas secara berkesinambungan.
Sudikin, dkk (2002:16) mengemukakan bahwa penelitian tindakan kelas (PTK) adalah suatu bentuk penelaah penelitian yang bersifat reflektif dengan melakukan tindakan-tindakan tertentu agar dapat memperbaiki dan atau meningkatkan praktik-praktik pembelajaran di kelas secara professional. Penelitian ini berbentuk kolaboratif karena peneliti melibatkan guru kelas untuk pengamat proses belajar mengajar, konsultasi dalam membuat scenario pembelajaran. Membantu dalam mengendalikan suasana kelas.
Dalam penelitian ini mengikuti model skema Hopkins yaitu model skema yang menggunakan prosedur kerja yang dipandang sebagai suatu siklus spiral dalam perencanaan, tindakan observasi dan refleksi yang kemudian diikuti siklus spiral berikutnya ( Tim Pelatih Proyek PGSM, 1999:7). Empat tahapan masing-masing siklus dapat dilihat dari gambar
Gb. 3.4 Model Skema Hopkins
Waktu Penelitian
Penelitian ini menggunakan dua diskusi yang dalam setiap siklus mencakup empat hal yang tersebut dalam gambar 3.4. Apabila empat tahap telah disampaikan pada siklus I maka hasilnya akan dianalis dan dicari kelemahan-kelamahan yang ada selama dalam pembelajaran. Jika pada siklus I hasil sudah mencapai ketuntasan klaiskal, maka pembelajaran dihentikan, akan tetapi jika pada siklus I hasil belajar belum mencapai ketuntasan klasikal. Maka pelaksanaan siklus akan di lanjutkan pada siklus II dengan materi yang berbeda.
Tindakan Pendahuluan
Sebelum pelaksanaan siklus terlebih dahulu dikalukan tindakan pendahuluan. Yang didahulukan sebagai langkah awal dalam penelitian ini adalah wawan cara pada pihak sekolah. Tujuan wawancara adalah untuk mengetahui metode mengajar yang sudah digunakan dalam pengajaran matematika dan untuk mengetahui- kesulitan-kesulitan yang dirasakan guru dalam mengajar matematika materi operasi hitung bilangan. Selain itu untuk mendapatkan data pemebelajaran sebelumnya. Pada tindakan pendanuluan ini peneliti melakukan observasi langsung di kelas IV untuk mengetahui kondisi kelas yang akan digunakan untuk mempersiapkan siklus.
Pelaksanaan Siklus
Pelaksanaan siklus pada gambar 3.4 diatas adalah sebagai berikut :
Plan atau perencanaan
Pada tahap ini yang dilakukan adalah :
Menentukan tema (dipilih oleh peneliti dan guru mata pelajaran)
Menyusun desain pembelajaran
Menyusun LKS
Menyusun format evaluasi berupa soal tes
Menyusun pedoman observasi, wawancara dan angket sikap
Action atau tindakan
Tindakan yang dilakukan adalah melaksanakan rencana penelitian yang telah disusun yaitu melaksanakan pembelajaran terpadu model jaring laa-laba (webbed model) pada materi operasi htiung bilangan. Pada tahap ini akan dibagi menjadi 3 kegiatanan yaitu :
Kegiatan ke-1 ( 1 kali pertemuan )
Pada kegiatan ini guru akan melaksanakan tentang : kegunaan uang, jenis-jenis uang, tentang pecahan mata uang. Selain itu guru juga mengingatkan kembali tentang operasi hitung bilangan yang meliputi operasi penjumlahan, pengurangan, perkalian dan pembagian. Pada bagian pertama ini guru akan menggunakan media pembelajaran berupa mata uang logam dan kertas.
Kegiatan ke-2 ( 1 kali pertemuan )
Pada kegiatan ke 2 ini guru akan membagi siswa dalam 10 kelompok dan masing-masing kelompok terdiri dari 4 siswa dan kemmapuan akademis. Untuk mendapatkan data pribadi siswa dam kemampuan akademis, 1 kelompok akan terdiri 1 berkemampuan sedang dan 2 orang berkemampuan rendah. Masing-masing kelompok akan diberi lembar kerja (permasalahan) yang harus didiskusikan bersama-sama dan dikumpulkan untuk mempresentasikan hasil diskusi di depan kelas.
Kegiatan ke-3 ( 1 kali pertemuan )
Pada tahap ini akan diadakan tes akhir untuk mengetahui ketuntasan belajar siswa pada materi operasi hitung bilangan. Tes yang diberikan sebanyak lima soal berbentuk essay. Selesai mengerjakan soal tes guru memberikan angket sikap untuk mengetahui bagaimana sikap siswa dalam mengikuti pembelajaran terpadu. Angket siswa ini berisi 10 pernyataan dan angket ini tidak mempengaruhi nilai siswa.
Observation / Observasi
Observasi dilakukan bersama dengan tindakan. Peneliti dibantu oleh dua observer yaitu guru matematika SDN 2 Tamanagung Kecamatan Cluring yaitu Martin, S.Pd dan Muja’I dan peneliti sendiri. Observasi dilakukan untuk mengamati aktivitas siswa dan guru (dalam hal ini peneliti) selama proses pembelajaran terpadu berlangsung.
Reflektik atau refleksi
Refleksi dalam pembelajaran matematika adalah upaya mengkaji atau memikirkan dampak suatu tindakan. Dalam tahap ini peneliti memikirkan hasil-hasil yang diperoleh dari observasi dan hasil tes I sebagai pertimbangan menetapkan tindakan selajutnya dan menekan seminimal mungkin kelemahan-kelemahan yang ada dalam pembelajaran siklus I.
Teknik / Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data adalah cara-cara yang digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan data (Arikunto, 2000;126). Pengumpulan data ini dilakukan dengan maksud untuk memperoleh bahan-bahan yang relevan dan akurat dan metode-metode yang digunakan memiliki ciri-ciri yang berbeda sehingga apabila ada kelemahan atau kekurangan pada suatu metode dapat terpenuhi oleh metode lain. Adapun metode pengumpulan data dalam penelitian ini meliputi : metode observasi, metode wawancara, metode tes dan metode angket.
Metode Observasi
Observasi merupakan alat pengumpul data yang digunakan untuk mengukur tingkah laku individu atau proses terjadinya suatu kegiatan yang dapat diamati baik dalam situasi yang sebenarnya maupun dalam situasi buatan (Susjana, 1998:109). Observasi ini merupakan cara pengamatan terhadap objek baik langsung maupun tidak langsung. Observasi dalam penelitian ini yang dipakai adalah observasi secara langsung dan observasi secara tidak langsung terhadap subjek yang diamati. Observasi secara ini digunakan dengan menggunakan angket secara tertutup. Observasi tidak langsung ini dilakukan sendiri oleh peneliti pada saat akhir pemeblajaran dalam suatu materi
Metode wawancara
Metode wawancara adalah suatu cara untuk mendapatkan informasi dengan jalan tanya jawab yang dilakukan oleh pewawancara terhadap terwawan cara. Adapun wawancara dalam penelitian ini dilakukan dengan peneliti untuk memwawancarai siswa dengan menggunakan pembelajaran terpadu model jaring laba-laba ( webbed model ) yang dilaksanakan oelh peneliti, serta kesulitan-kesulitan apa saja yang dihadapi selama dilaksanakan pembelajaran dengan menggunakan pembelajaran terpadu ini. Dalam hal ini peneliti mewawancarai 3 siswa sebagai perwakilan yaitu 1 siswa yang berkemampuan tinggi, 1 siswa yang berkemampuan sedang san 1 siswa yang berkemampuan rendah. Wawancara dilakukan setelah evaluasi pembelajaran. Selain itu wawancara dengan siswa, juga diadakan wawanacara dengan guru bidang studi untuk mengetahui kekurangan-kekurangan dan kelebihan peneliti selama proses pembelajaran berlangsung.
Metode tes
Tes yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes berbentuk essay yang disusun oleh peneliti dengan mengacu pada Kompetensi Dasar dan Standar Kompetensi. Adapun tujuan dari tes tersebut adalah untuk mengetahui hasil belajar siswa baik secara individu maupun kelompok, serta mengetahui tingkat kesulitan dalam langkah pengerjaan soal yang dilakukan siswa.
Metode angket
Metode angket dalam penelitian ini dimaksudkan untuk memperloleh data tentang bagaimana sikap siswa terhadap pembelajaran terpadu model haring laba-laba (webbed) pada pokok operasi hitung bilangan yang sikap atau minat terhadap tema yang telah di pilih, sikap / minat siswa dalam mengikuti Proses Belajar (PMB), strategi siswa dalam belajar, serta sikap siswa dalam kegiatan pembelajaran terpadu ini
Angket yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala likert (sikap). Menurut Sudjana (1990:80) skala sikap digunakan untuk mengukur sikap seseorang terhadap objek tertentu. Skala sikap dinyatakan dalam bentuk pernyataan untuk dinilai melalui rintangan nilai tertentu.
Adapun criteria penilaian ditentukan sebagai berikut :
Tabel 3.1 : Kriteria Skala Sikap
Alternatif Jawaban Nilai Skala Skor
Sangat setuju (SS)
Setuju (S)
Tidak Setuju (TS)
Sangat Tidak Setuju (STS 4
3
2
1
Analisis Data
Analisis data adalah cara yang paling menentukan untuk menyusun dan mengelola data yang terkumpul dalam penelitian agar dapat menghasilkan suatu kesimpulan yang dapat dipertanggung jawabkan berdasarkan data yang terkumpul. Analisis yang dilakukan dalam penelitian ini adalah analisis kualitatif dan kuantitatif. Hasil obeservasi dalam angket sikap dianalis secara kualitatif dan kuatitatif. Hasil interview dianalis secara kualitatif. Sedang tes dianalis secara kuantitatif. Data yang ingin diraih untuk penelitian ini adalah :
Aktivitas siswa selama penerapan pembelajaran terpadu model jaring laba-laba berlangsung diperoleh dari hasil observasi :
Untuk hasil analis presentase keaktigan siswa di guanakan rumus :
P1∶ A/N x 100 %
Keterangan :
P1 = presentase keaktifan siswa
A = jumlah skor yang diperoleh tiap aktifitas
N = jumlah skor seluruhnya (Depdikbud dalam Puspitasari, 2006:36)
Tabel 3.2 Kategori Presentase Aktivitas Belajar Siswa
Presentase Kategori
75% ≤ P1 < 100%
50% ≤ P1 < 75%
25% ≤ P1 < 50%
< P1 Sangat katif
Aktif
Cukup Altif
Tidak Aktif
Ketuntasan hasil belajar dapat deperoleh siswa setelah mengikuti pembelajaran terpadu jaring laba-laba; untuk mencari prosentase hasil belajar siswa digunakan rumus :
P2= n/N x 100 %
Keterangan :
P2 = presosentase ketuntasan hasil belajar siswa
n = jumlah siswa yang tuntas belajar
N = jumlah seluruh siswa (Depdiknas dalam Pusitasari,20006)
Kriteria ketuntasan siswa :
Daya serap perorangan, seorang siswa dikatakan tuntas apabila telah mencapai skor 75% ≥ dari skor maksimum 100
Daya serap klasikal, suatu kelas dikatakan tuntas apabila terdapat minimal 80% siswa yang telah mencapai skor75% ≥ dari skor maksimum 100
Kesulitan belajar siswa dan kesalahan yang dihadapi siswa dalam menyelesaikan Operasi Hitung Bilangan dari hasil tes dan wawancara
Sikap siswa terhadap pembelajaran terpadu dari angket sikap yang diisi oleh siswa
Prosentase angket sikap dianalis dengan rumus
T= s/S x 100 %
Keterangan :
T = prosentase skor yang dicapai
s = skor yang siperoleh
S = skor maksimal
JADWAL PENELITIAN
No Kegiatan Bulan
7 8 9 10 11 12
1 Penyusunan Proposal X X
2 Pelaksanaan Siklus I X X
3 Pelaksanaan Siklus II X X
4 Pelaksanaan Siklus III X X
5 Penyususnan Laporan Hasil Penelitian X X
BIAYA PENELITIAN
NO URAIAN BANYAK HARGA SATUAN (Rp) TOTAL
(Rp)
1 Perispan penyusunan Proposal PTK
Tranportasi rapat
Konsumsi
ATK
Rental
2 org
2 org
-
20 lbr
10.000
8.000
2.000
20.000
16.000
24.000
40.000
2. Pelaksanaan / pertemuan
Alat observasi
Transportasi
Konsumsi
Honor guru
Biaya tim evaluasi
Biaya analisis dan refleksi
-
3 org
3 org
1 org
2 org
2 org
50.000
10.000
6.500
20.000
20.000
20.000
50.500
30.000
19.500
20.000
40.000
40.000
3. Penyusunan Laporan
Tranportasi
Rental (Copy + Tambahan)
FC
Penjilitan
1 org
-
3 x 40 lb
3 pkt
15.000
-
150
7.500
15.000
40.000
18.000
22.500
Jumlah 95.500
Untuk pelaksanaan jumlah biaya x 3 pertemuan
JUMLAH TOTAL
675.500
PERSONALIA PENELITIAN
Identitas peneliti
Nama : BENI AFIT
NIM : 815 629 617
Pendidikan : Sedang menempuh S 1 PGSD UT
UPBJJ Jember Pokjar Purwoharjo
Semester VI
Instansi Kerja : SDN 2 TAMANAGUNG
Jabatan dalam Penelitian : Peneliti
Identitas peneliti
Nama : KRISNA SETIAWAN
NIM : 815 629 591
Pendidikan : Sedang menempuh S 1 PGSD UT
UPBJJ Jember Pokjar Purwoharjo
Semester VI
Instasi Kerja : SDN 2 Tamanagung
Instansi Kerja : Teman Sejawat
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad K, 2004. Pelaksanaan Pembelajaran Terpadu Bahasa Indonesia di Kelas III Sekolah Dasar. Serial On line
http://pustekom.go.id/teknodit/tl1/isi.htm#2 12April 2004
Arikunto, S. 2000. Prosedur Penelitian Suatu Pedekatan Prakti. Jakarta Rineka Cipta
Depdiknas. 2003. Kurikulum 2004 Standar Kompetensi Matematika SD. Jakarta
Depdiknas 2004. Kurikulum Standar Kompetensi. Jakarta
Hamalik, O. 1990. Pengembangan Kurikulum (Dasar-Dasar dan Pengembangan). Bandung : Mandar Maju
Indriasih, A. 2005. Pembelajaran Terpadu Dalam Pengajaran PKN di Kelas III SD Grung Lor KaliwinguKabupaten Kudus. Serial Online
http://pk.ut.ac/id/jp/61maret05/aini.htm. 10 maret 2005
Moleong, L.2000. Metode Penelitian Kulaitatif. Bandung PT. Remaja Rodaskarya
Nasution, S. 2000. Didaktif Asas-Asas Mengajar. Jakarta Bumi Aksara
Nurkancana, W & Supratman, 1986. Evaluasi Pendidikan. Surabaya Usaha Nasional
Purwanto, N.M. 1986. Prinsip-Prinsip dan Evaluasi Pengajaran. Bandung PT. Remaja Rodaskarya
Puspitasari, H. 2006. Penerapan Pembelajaran Model Trefinger Dengan Pendekatan Kooperatif Bahasan Kelas X-7 Semester Genap SMA Negeri 2 Jember Tahun Ajaran 2006 – 2007. Skripsi tidak diterbitkan.
Sardiman, A.M.2005. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta PT. Raja Grafindo Persada.
Soejadi, R. 2000. Kiat Pendidikan Matematika di Indonesia. Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Departeman Pendidikan Nasional
Sudjana, N & Ibrahim. 1989. Penelitian dan Penilain Pendidikan. Bandung Sinar Baru
Suhadi, dkk.2003. Dasar-Dasar Metodologi Penelitian. Malang: Lembaga Penelitian UNM.
Sukidin, Basrawi, Suranto. 2002. Menejemen Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Jakarta : Insan Cendekia
Tim Pelatih Proyek PGSM. 1999. Penelitian Tindakan kelas. Jakarta Depdikbud
Tim Pengembang PGSD. Materi Pokok Pembelajaran Terpadu D-II PGSD.
LAMPIRAN-LAMPIRAN
Model Jaring Laba – Laba untuk Meningkatkan Perhatian Siswa pada saat Pembelajaran Berlangsung” pada materi operasi hitung bilangan siswa kelas IV SDN 2 Tamanagung, Cluring, Banyuwangi
![]() |
| Model Jaring Laba – Laba untuk Meningkatkan Perhatian Siswa pada saat Pembelajaran Berlangsung” pada materi operasi hitung bilangan siswa kelas IV SDN 2 Tamanagung, Cluring, Banyuwangi |
PROPOSAL
PENELITIAN TINDAKAN KELAS
( P T K )
MODEL JARING LABA – LABA
UNTUK MENINGKATKAN PERHATIAN SISWA PADA SAAT PEMBELAJARAN BERLANGSUNG” SISWA KELAS IV SDN 2 TAMANAGUNG
KEC. CLURING KAB. BANYUWANGI
Diajukan
Guna memenuhi salah satu tugas dalam mengikuti dan menyelesaikan
mata kuliah IDIK 4306 / Metode Penelitian
Disusun Oleh :
B E N I
NIM. 815
PROGRAM S1 PGSD – UT UPBJJ JEMBER
POKJAR PURWOHARJO
TAHUN 20xx
KATA PENGANTAR
Puji Syukur saya panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, atas nikmat, karunia, taufig, hidayah dan inayah-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan penyusunan proposal penelitian ini tepat pada waktunya.
Penyusunan proposal ini saya ajukan guna memenuhi salah satu tugas dalam mengikuti dan menyelesaikan mata kuliah Penelitian Tindakan Kelas pada Universitas Terbuka UPBJJ Jember Pokjar Kecamatan Purwoharjo Program S 1 PGSD Guru Kelas.
Saya sampaikan ucapan terima kasih kepada semua pihak, terutama kepada Tutor Pembimbing yang telah mencurahkan pikiran dan waktunya untuk memberikan bimbingan, arahan dan petunjuk kepada saya dalam rangka penyusunan proposal ini.akhir kata orang bijak mengatakan “ TAK ADA GADING YANG TAK RETAK”, begitu pula halnya dengan proposal yang saya susun ini keberadaannya masih jauh dari kesempurnaan. Oleh sebab itu saran kritik dan masukan yang bersifat membangun demi sempurnanya proposal ini sangat saya harapkan.
Penulis,
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL i
KATA PENGANTAR ii
DAFTAR ISI iii
A. JUDUL PENELITIAN 1
B. BIDANG KAJIAN 1
C. PENDAHULUAN 1
D. PERUMUSAN DAN PERENCANAAN MASALAH 5
E. TUJUAN PENELITIAN 5
F. MANFAAT HASIL PENELITIAN 6
G. KAJIAN PUSTAKA 6
H. RENCANA DAN PROSEDUR PENELITIAN 23
I. JADWAL PENELITIAN 33
J. BIAYA PENELITIAN 33
K. PERSONALIA PENELITIAN 34
L. DAFTAR PUSTAKA 35
M. LAMPIRAN-LAMPIRAN
JUDUL PENELITIAN
“ Model Jaring Laba – Laba untuk Meningkatkan Perhatian Siswa pada saat Pembelajaran Berlangsung” pada materi operasi hitung bilangan siswa kelas IV SDN 2 Tamanagung, Cluring, Banyuwangi.”
BIDANG KAJIAN
Pada penelitian yang akan dilaksanakan ini, model pembelajaran yang akan digunakan adalah pembelajaran terpadu model terjala atau model antar bidang studi karena subyek penelitiannya siswa SD kelas IV yang ditinjau dari perkembangan kognitifnya masih belum mampu berfikir tinggi. Pembelajaran terpadu model jaring laba-laba ini sering digunakan pada siswa kelas rendah, namun pada penelitian ini akan diuji cobakan pad siswa kelas IV untuk mengetahui apakah cocok model keterkaitan antar mata pelajaran ini digunakan dikelas tinggi khususnya kelas IV.
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Sekolah Dasar ( SD ) merupakan lembaga pendidikan formal pertama bagi peserta didik untuk belajar. Sebagai lembaga pendidikan dasar, seharusnya mendapat perhatian khusus karena pendidikan di SD sebagai landasan khusus bagi siswa untuk mengenali dan menimba ilmu pengetahuan lebih lanjut. Tanpa penguasaan yang mantap terhadap kemampuan tersebut, maka ilmu-ilmu pada jenjang pendidikan selanjutnya sulit untuk dikuasai siswa.
Arus globalisasi dan perkembangan Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Seni ( IPTEK ) mendorong kita untuk berupaya meningkatkan kemampuan untuk terlibat dalam perlombaan nasional dalam berbagai bidang, sehingga kemampuan baca tulis hitung harus diiringi dengan pembelajaran yang dapat memberikan pengetahuan dan keterampilan dasar yang merupakan bagian dari integral dari sistim pendidikan di Indonesia, sangat perlu ditingkatkan mutu pendidikan sejak dari kelas – kelas awal.
Upaya meningkatkan mutu pendidikan dasar ini tidak dapat ditunda lagi terutama dalam peningkatan mutu proses pembelajaran di SD sekarang ini hal ini sesuai dengan fungsi pendidikan dasar yang tidak semata-mata berfungsi sebagai sarana sosialisasi anak didik, melainkan sejak dini sudah harus menumbuhkan secara potensial generasi muda yang kelak mampu menjadi agen pembaharuan pendidikan SD tidak hanya menghasilkan lulusan bisa membaca, menulis dan memiliki segudang pengetahuan sesaat, tetapi diharapkan dapat mengembangkan tegnologi dan menggunakan pola pikir dalam kehidupan sehari-hari.
Kenyataan selama praktik pendidikan sekolah dasar yang terjadi menunjukkan kecenderungan (1) terjadinya pengkotakan bidang studi yang ketat, terutama untuk kelas-kelas tinggi, (2) pembelajaran hanya menekankan pada pencapaian efek intruksional, (3) sistim evaluasi berorentasi testing dengan menekankan reproduksi informal (Ahmad, 2004). Hal ini bertentangan dengan ciri utama dari perkembangan anak sekolah dasar yang holisitik, perkembangan anak bersifat terpadu, aspek perkembangan yang satu terkait erat dengan mempengaruhi aspek perkembangan yang lain.
Bredekamp ( dalam Ahmad, 2004) menyatakan bahwa anak berkembang pada semua aspek perkembangannya baik fisik, emosional, sosial dan kognitif. Tak ada jalan lain kecuali guru harus memiliki tanggung jawab dan perhatian penuh bagi keutuhan perkembangan anak. Didalam teori belajar perkembangan kognitif serta perkembangan bahasa pada anak usia 6 sampai usia 12 tahun atau anak SD mempunyai karakteristik sebagai berikut : (1) kemampuan kognitif dan bahasa anak usia tersebut memadai untuk belajar dalam situasi yang lebih formal, (2) anak – anak seusia itu masih memandang sesuatu lebih sebagai keseluruhan, (3) sesuatu lebih mudah mereka pahami jika diperoleh melalui interaksi sosial dengan mengalaminya secara nyata dalam situasi yang menyenangkan, (4) situasi yang akrab, dilandasi penghargaan, pengertian, dan kasih sayang, serta lingkungan belajar kondusif dan terencana dapat membantu proses belajar yang efektif (Ahmad, 2004). Kenyataan itu menuntut agar guru sebagai pengelola pembelajaran dapat menyediakan lingkungan belajar yang kondusif dan pendekatan pembelajaran yang bermuatan keterkaitan atau keterpaduan sehingga memuat anak secara aktif terlibat dalam proses pembelajaran dan pembuatan keputusan.
Matematika adalah ilmu pasti dan kompleks. Matematika tidak hanya mempelajari cara hitung saja, tetapi matematika juga memiliki banyak cabang ilmu, misalnya ilmu ukur, geometri, aljabar, dll. Cabang – cabang ilmu tersebut saling berkaitan. Meskipun matematika memiliki banyak cabang ilmu tapi matematika secara umum memiliki karakteristik antara lain: (1) memiliki objek kajian abstrak, (2) bertumpu pada kesepakatan, (3) berpola pikir deduktif, (4) memliki symbol yang kosong dari arti, (5) memperhatikan semesta pembicaraan, (6) konsisten dalam sistemnya (Soedijadi, 2003:13).
Dari uraian diatas maka dapat disimpulkan bahwa pembelajaran matematika di sekolah dasar telah mempertimbangkan asas keterkaitan atau keterpaduan sebagai pendekatan pembelajaran sesuai dengan perkembangan anak sekolah dasar yang holistic yaitu pendekatan pembelajaran terpadu. Guru sebagai model selama proses pembelajaran di kelas. Proses tersebut menyangkut materi ajar yang digunakan, kegiatan guru dan siswa, siswa dengan guru dan bahan ajar, alat dan lingkungan belajar serta cara alat evaluasi dan kesulitan dengan kebutuhan perkembangan siswa itu sendiri.
Indriasih (2005) menyatakan bahwa secara umum prestasi hasil belajar siswa dengan menggunakan pembelajaran terpadu lebih baik dari pada hasil belajar siswa yang menggunakan pembelajaran konvensional karena usia tujuh sampai dua belas tahun anak mengalami perkembangan berpikir kongkrit sehingga apa yang diajarkan haruslah anak dapat dengan mudah mengingat, mencoba, mengamati dan melakukan tindakan sesuai dengan pemecahan masalah.
Ada beberapa temuan yang dialami peneliti bahwa salah satu sebab rendahnya motivasi dan prestasi belajar siswa dalam proses pembelajaran siswa kelas IV SDN 2 Tamanagung, Cluring, Banyuwangi adalah dalam penyajian materi. Guru terlalu mendominasi kelas selama proses belajar mengajar sehingga siswa cenderung pasif dan sulit untuk menerima materi yang telah diberikan dan siswa kurang memahami aplikasi materi tersebut dalam kehidupan sehari – hari. Karena kemampuan berpikir siswa tidak sama, maka tidak semua sisawa dapat menangkap pelajaran yang telah diberikan oleh guru. Untuk itu perlu diterapkan pembelajaran terpadu model jaring laba – laba karena dianggap memiliki kelebihan antara lain: pengalaman dan kegiatan belajar anak akan selalu relevan dengan tingkat perlengkapan anak sehingga hasil belajar lebih bermakna bagi anak sehingga hasil belajar anak dapat bertahan lebih lama dan dapat menumbuh kembangkan ketrampilan berpikir anak, mendidik anak lebih kreatif, toleransi antar sesama, dan melatih siswa belajar dalam kelompok. Berdasarkan rumusan diatas, maka diadakan penelitian yang berjudul “ Model Jaring Laba – Laba untuk Meningkatkan Perhatian Siswa pada saat Pembelajaran Berlangsung” pada materi operasi hitung bilangan siswa kelas IV SDN 2 Tamanagung, Cluring, Banyuwangi. Pada penelitian ini akan dipilih tema tentang belanja dan memadukan antara Matematika, PKN dan Bahasa Indonesia. Alasan memilih perpaduan mata pelajaran antara mata pelajaran tersebut karena dalam berinteraksi. Dan lebih penting siswa mengalami pembelajaran ini secara langsung sehingga pengalaman belajar yang mereka peroleh lebih bermakna dan terkesan menyenangkan.
PERUMUSAN DAN PERENCANAAN MASALAH
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas dapat dirumuskan beberapa permasalahan sebagai berikut:
Bagaimana aktiitas belajar siswa pada pembelajaran terpadu model jaring laba – laba (webbed model) pada materi operasi hitung bilangan siswa kelas IV SDN 2 Tamanagung, Cluring, Banyuwangi?
Bagaimana ketuntasan belajar siswa melalui pembelajaran terpadu model jaring laba – laba (webbed model) pada materi operasi hitung bilangan siswa kelas IV SDN 2 Tamanagung, Cluring, Banyuwangi?
Tindakan dalam penelitian dapat dirumuskan sebagai berikut:
Melalui pembelajaran terpadu model jarring laba – laba dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa dalam proses pembelajaran.
Melalui pembelajaran terpadu model jaring laba – laba siswa lebih tuntas dalam memperoleh hasil belajar karena mengalami pembelajaran langsung sehingga pengalaman belajar lebih bermakna
TUJUAN PENELITIAN
Penelitian ini dilakukan dengan tujuan:
Untuk mengetahui aktivitas belajar siswa pada pembelajaran terpadu model jaring laba – laba (webbed model) pada materi operasi hitung bilangan siswa kelas IV SDN 2 Tamanagung, Cluring, Banyuwangi.
Untuk mengetahui ketuntasan belajar siswa melalui pembelajaran terpadu model jaring laba – laba (webbed model) pada materi operasi hitung bilangan siswa kelas IV SDN 2 Tamanagung, Cluring, Banyuwangi.
MANFAAT HASIL PENELITIAN
Bagi guru, sebagai bahan masukan untuk meningkatkan teknik penyampaian materi dalam proses belajar mengajar sehingga dapat mengembangkan proses berpikir siswa.
Bagi sekolah, sebagai bahan pengembangan untuk penelitian lebih lanjut. Sekolah dapat berkembang karena adanya peningkatan pengetahuan pada diri guru dan kemajuan pendidikan di sekolah.
Bagi siswa, meningkatkan proses atau hasil belajar, berlatih bersikap kritis terhadap hasil belajar, berperan aktif dalam setiap pembelajaran serta meningkatkan pemahamaan dalam pembelajaran.
KAJIAN PUSTAKA
Hakikat Belajar Mengajar
Belajar pada hakekatnya adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai pengalaman sendiri dalam interaksi dengan lingkungan ( Slamet, 1995:5). Sedangkan Nasution (2000:35) menyatakan pelajar adalah proses malahirkan atau mengubah suatu kegiatan melalui jalan latihan (apakah dalam laboratorium ataupun dalam lingkungan alamiah). Sebagai hasil belajar, perubahan ini b berlangsung secara berkesinambungan, tidak statis. Perubahan yang terjadi akan menyebabkan perubahan berikutnya dan akan berguna bagi proses belajar berikutnya.
Depdiknas (2004:5) menyatakan bahwa hakikat mengajar (teaching) adalah membantu siswa memperoleh informasi, ide, keterampilan, cara berfikir, sarana untuk mendiskripsikan dirinya, dan cara-cara belajar bagaimana belajar. (Sardiman (2005:47) memberikan pengertian mengajar menjadi dua, yaitu belajar dalam arti sempit dan belajar dalam arti luas. Mengajar dalam arti sempit adalah menyampaikan pengetahuan pada anak didik, serta belajar dalam arti yang luas adalah aktivitas mengorganisasi atau mengatur lingkungan sebaik-baiknya dan menghubungakn dengan anak sehingga terjadi proses belajar mengajar.
Dalam proses mengajar terjadi suatu interaksi bernilai edukatif yaitu terjadi proses belajar yang terjadi antara guru dan siswa, siswa dan materi dikarenakan kegiatan yang akan dilakukan diarahkan untuk mencapai tujuan yang telah dirumuskan secara sistimatis dengan memanfaatkan segala sesuatu untuk kepentingan pengajaran.
Pembelajaran Matematika di SD
Matematika adalah cabang ilmu pengetahuan eksak dan teroganisir secara sistimatik. Matematika memiliki ciri-ciri yaitu memiliki objek yang abstrak, berisikan konsep-konsep dan berpola fikir deduktif, yang artinya kebenaran dari suatu konsep atau pernyataan diperoleh sebagai akibat logis dari kebenaran sebelumnya sehingga kaitan antara konsep atau pernyataan dalam matematika bersifat konsisten. Matematika diajarkan disekolah karena matematika memang berguna untuk memecahkan persoalan dalam masyarakat. Dalam kehidupan kita sehari-hari selalu kita temukan konsep matematika Soejadi (2000:37) menyatakan bahwa dalam pembelajaran matematika di sekolah penyajian atau pengungkapan butir-butir matematika yang disampaikan disesuaikan dengan perkiraan perkembangan intelektual siswa dan renas disekitar kita.
Sekolah Dasar merupakan lembaga pendidikan pertama bagi peserta didik untuk belajar. Pendidik disekolah dasar ini merupakan landasan dan wahana pokok yang menjadi syarat mutlak yang harus di kuasai perserta didik untuk menggali dan membina pengetahuan lebih lanjut.
Matematikan berfungsi mengembangkan kemampuan menghitung, mengukur, menurunkan dan menggunakan rumus matematika sederhana yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari memlalui materi bilangan, pengukuran dan geometri. Matematika juga berfungsi mengembangkan kemampuan bernalar melalui kegiatan penyelidik, eksplorasi dan eksperimen. Sebagai alat pemecahan masalah melalui pola pikir dan model matematika serta sebagai alat komunikasi melalui symbol. Tebel, grafik, diagram dan menjelaskan gagasan (Depdiknas, 2003:6).
Berdasarkan Garis – garis Besar Pedoman Pembelajaran (GBPP) Kurikulum Berbasis Kompetensi, tujuan umum pembelajaran matematika adalah sebagai berikut :
Melatih cara berfikir dan bernalar dan menarik kesimpulan, misalnya melalui kegiatan penyelidikan, eksplorasi, eksperimen, menunjukkan kesamaan, perbedaan, konsistan dan inkosistansi.
Mengembangkan aktivitas kreatif yang melibatkan imajinasi, inquiri, dan pertemuan dengan mengembangkan pemikiran divergen, orsinil, rasa ingin tahu, membuat prediksi dan dugaan, serta mencoba-coba
Mengembangkan kemampuan menyampaikan informasi atau mengkomunikasikan gagasan antara lain melalui pembicaraan lisan,catatan, grafik, peta, diagram dalam menjelaskan gagasan (Depdiknas, 2003:80)
Sedangkan tujuan khusus pengajaran matematika di Sekolah Dasar adalah sebagai berikut :
Menumbuhkan dan mengembangkan keterampilan berhitung ( menggunnakan bilangan ) sebagai alat dalam kehidupan sehari-hari;
Menumbuhkan kemampuan siswa, yang dapat dialih gunakan melalui kegiatan matematika;
Mengembangkan kemampuan dasar matematika sebagai bekal belajar lebih lanjut di sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP)
Membentuk sikap logis, kritis, cermat, kreatif dan disiplin (Soedjadi, 2000:4).
Berdasarkan standart kompetensi matematika diatas, maka setiap guru dalam melaksanakan belajar mengajar harus mengaitkan setiap materi pelajaran yang diberikan dengan tujuan pembelajaran tersebut.
Pembelajaran Terpadu
Pembelajaran terpadu merupakan suatu aplikasi salah satu strategi pembelajaran berdasarkan pendekatan kurikulum terpadu yang bertujuan untuk menciptakan atau membuat proses pembelajaran secara relevan dan bermakna bagi anak. Selanjutnya di jelaskan bahwa dalam pembelajaran terpadu didasarkan pada pendekatan inquiri, yaitu melibatkan siswa mulai dari merencanakan, mengeksplorisasi dan broing troming dari siswa. Dengan pendekatan terpadu siswa di dorong untuk berani bekerja secara kelompok dan belajar dari hasil pengalamannya sendiri. Collins dan Dixon ( dalam Ahmad, 2004) menyatakan tentang pembelajaran terpadu sebagai berikut : integer learning occurs when on outhentic even or exploration of a topic in the curriculum. Selanjutnya dijelaskan dalam pelaksanaan anak dapat diajak berpartisipasi aktif dalam mengeksplorasi topic atau kejadian, siswa belajar proses dan isi (materi) lebih dari satu bidang studi pada waktu yang sama.
Pembelajaran terpadu sangat memperhatikan kebutuhan anak sesuai dengan perkembangannya yang holistik dengan melibatkan secara aktif dalam proses pembelajaran baik fisik maupun emosionalnya. Untuk itu aktifitas yang diberikan meliputi aktif mencari,menggali dan menemukan konsep serta prinsip keilmuan yang holistic, bermakna, dan otentik sehingga siswa dapat menerapkan hasil belajar untuk memecahkan masalah-masalah yang nyata dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan Bredekamp (dalam Ahmad, 2004) dalam proses pembelajaran orang dewasa hendaknya menyediakan berbagai aktifitas dan bahan-bahan yang kaya serta menawarkan bagi siswa sehingga dapat memilihnya untuk kegiatan kelompok kecil maupun mandiri dan memberikan kesempatan bagi siswa untuk berinisiatif sendiri, melakukan keterampilan atas prakarsa sendiri sebagai aktifitas yang dipilihnya. Pembelajaran terpadu juga menekankan integrasi sebagai aktivitas untuk mengeksplorasi objek, topic, atau tema yang merupakan kejadian-kejadian fakta dan peristiwa yang otentik.
Hamalik ( 1990:17) mengemukakan bahwa pendektan terpadu bertolak dari suatu keseluruhan atau suatu kesatuan yang bermakna dan berstruktur. Keseluruhan bukanlah penjumlahan dari bagian-bagian melainkan suatu totalitas yang memiliki makna tersendiri. Bagian yang ada dalam keseluruhan itu berada dan berfungsi dalam suatu struktur tertentu. Konsep keterpaduan dititik beratkan pada ciri alamiah siswa dan pada proses pengembangan kegiatan yang menyangkut pengembangan berfikir dan pengembangan siswa.
Dari pendapat-pendapat diatas dapat di simpulkan bahwa pembelajaran terpadu merupakan kegiatan berlangsung secara nyata, yang mengembangkan proses berfikir siswa sehingga terasa kebermaknaanya bagi kehidupan. Dalam pembelajaran terpadu, antara mata pelajaran satu dengan yang lain tidak dibatasi. Penggabungan berbagai mata pelajaran diikat dalam satu topic yang berkaitan dengan kehidupan nyata siswa. Pembelajaran terpadu juga memliki kelemahan antara lain : untuk memlilih tema diperlukan ketelitian dan kemampuan guru dalam menilai minat siswa,memerlukan waktu yang cukup lama untuk menyiapkan pembelajaran, diperlukan kejelian guru dalam mengaitkan dalam kehidupan sehari-hari anak.
Adapun ciri – ciri pembelajaran secara terpadu menurut Fogarty ( dalam Indriasih, 2005) adalah sebagai beriku :
Berpusat pada anak. Dalam hal ini siswa yang akan lebih berperan aktif dan guru hanya mengarahkan dan membimbing.
Memberikan pengalaman langsung karena siswa langsung belajar mencoba, mengamati dan melakukan tindakan pemecahan masalah sesuai dengan fakta dan masalah yang mereka alami, bukan sekedar menerima informasi dari guru.
Pemisahan bidang studi begitu tidak jelas. Antara bidang studi dengan yang lainnya diikat dalam satu tema yang sesuai dengan perkembangan anak. Tema ini dapat dipilih dengan guru dengan siswa yang sering dialami dalam kehidupan sehari-hari.
Menyajikan konsep dari berbagai bidang dalam satu proses pembelajaran.
Bersifat luwes
Hasil pembelajaran dapat berkembang sesuai dengan minat dan kebutuhan anak.
Pembelajaran terpadu dikembang selain untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan, diharapkan siswa juga dapat :
Meningkatkan pemahaman konsep yang dipelajari secara lebih bermakna.
Mengembangkan keterampilan menemukan, mengolah dan memanfaatkan informasi.
Menumbuh kembangkan sikap positif, kebiasaan baik,dan nilai-nilai luhur yang diperlukan dalam kehidupan.
Menumbuh kembangkan keterampilan sosial seperti kerja sama, toleransi, serta menghargai pendapat orang lain.
Meningkatkan gairah dalam belajar.
Memilih kegiatan yang sesuai dengan minat dan kebutuhannya.
Pembelajaran terpadu dapat dilaksanakan dengan dua cara yaitu memadukan siswa dan memadukan materi-materi dari mata pelajaran-mata pelajaran.
Integrasi melalui pemaduan siswa
Cara ini memadukan beberapa kelas menjadi satu kelas, sehigga satu kegiatan pembelajaran diikat oleh lebih dari satu tingkat usia siswa. Misalnya siswa kelas 3 dan 4 diajar matematika bersama-sama dalam satu kelas. Cara ini tentu memerlukan keahlian guru untuk memberikan tugas yang bertingkat sehingga siswa belajar dari yang mudah ke tingkat yang lebih sulit. Siswa kelas 3 dapat belajar dari siswa yang lebih tua (kelas4) yang pengetahuannya lebih banyak, sedangkan siswa yang lebih tua ( kelas 4 ) dapat mengajarkan pengetahuannya kepada siswa yang lebih muda.
Integrasi materi atau mata pelajaran
Cara ini memadukan materi dari beberapa mata pelajaran dalam satu kesatuan kegiatan pembelajaran. Dlam satu kegiatan pembelajaran siswa belajar berbagai mata pelajaran missal : IPA, PKN , Bahasa Indonesia, matematika. Cara ini biasanya di lakukan dengan mengikat dengan beberapa pelajaran kedalam satu ke satuan tema yang di sebut tematik unit. Tematik unit merupakan rangkaian tema yang di kembangkan dari satu tema dasar. Sedangkan satu tema dasar merupakan pilihan atau kesepakatan antar guru dengan siswa berdasarkan kajian keseharian yang dialami siswa dengan persetujuan dari materi – materi yang ada pada kurikulum. Selanjutnya tema dasar tersebut di kembangkan menjadi banyak tema yang di sebut unit tema ( sub tema ).
Dalam penelitian ini di pilih perpaduan antara materi – materi dari pelajaran Matematika, PKN , dan Bahasa Indonesia. Perpaduan antara mata pelajaran di anggap lebih efektif di bandingkan dengan memadukan beberapa kelas. Sedangkan tema yang di pilih adalah tentang belanja, tema inidi ambil atas kesepakatan antara peneliti dengan guru mata pelajaran Matematika dengan pertimbangan kondisi lingkungan dengan siswa. Alasan memilih keterpaduan antara ketiga mata pelajaran tersebut karena mata pelajaran tersebut sering di gunakan dalam kehidupan sehari–hari siswa.
Menurut Tim pengembang PGSD, prosedur pembelajaran terpadu di bagi dalam 3 tahap yaitu :
Tahap Perencanaan
Perencanaan pembelajaran pada dasarnya adalah rangkaian rencana yang memuat isi dan kegiatan pembelajaran yang bersifat menyeluruh dan sistematis, yang akan di gunakan sebagai pedoman bagi guru dalam mengelola kegiatan belajar mengajar. Dalam pelajaran terpadu langkah perencanaan yang harus di lakukan seorang guru adalah sebagai berikut :
Mempelajari kompetensi dasar pada kelas dan semester yang sama dari setiap mata pelajaran.
Memilih tema yang dapat memilih mempersatukan kompetensi-kompetensi tersebut untuk setiap kelas dan semester, misalnya tema tentang belanja, keluarga, lingkungan kelas.
Membuat matrik hubungan antara kompetensi dasar dengan tema.
Membuat peta konsep untuk melihat kaitan antara tema dengan kompetensi dasar dari setiap mata pelajaran.
Menyusun silabus berdasarkan tema yang telah di buat.
Callins & Hazel ( dalam Indriasih, 2005 ) menyatakan bahwa alternative topic dapat di tentukan berdasarkan minat siswa, minat guru, kejadian yang penting dalam waktu tertentu, mengambil topic utama dalam kurikulum, atau mengacu dalam kegiatan kehidupan masyarakat tertentu. Pemilihan topic ini memiliki peranan yang sangat penting karena topic ini memikat mata ppelajaran yang akan dipelajari. Topic yang akan digunakan harus sesuatu yang sering dialami oleh siswa. Dengan menggunakan tema dalam pembelajaran terpadu akan mendorong beberapa hal bermanfaat antara lain :
Siswa mudah memusatkan perhatian pada satu tema atau topic tertentu.
Siswa dapat mempelajari pengetahuan dan mengembangkan berbagai kompetensi pelajaran dalam tema yang sama.
Pemahaman terhadap materi pelajaran lebih mendalam dan berkesan.
Anak lebih merasakan manfaat dan makna belajar karena materi yang disajikan dalam konteks tema yang jelas.
Anak lebih bergairah belajar karena mereka bisa berkomunikasi dalam situasi yang nyata misalnya bertanya, bercerita, menulis deskripsi, dll.
Guru dapat menghemat waktu karena mata pelajaran yang di sajikan secara terpadu dapat dipersiapkan sekaligus dan diberikan waktu 2 atau 3 kali pertemuan. Waktu selebihnya dapat digunakan untuk remedial, pemantapan atau pengayaan.
Tahap Pelaksanaan
Tahap pelaksanaan adalah suatu keinginan yang dilakukan sesuai apa yang telah direncanakan sebelumnya. Tahap pelaksanaan ini harus mengacu pada tujuan yang akan dicapai dalam pembelajaran ini.
Tahap Evaluasi
Evaluasi pembelajaran terpadu dapat di artikan sebagai evaluasi yang berupa informasi tentang pencapaian pengetahuan dan pemahaman anak, pengembangan sosial dan afektif anak dengan memanfaatkan asesmen alternative dan cara informal. Evaluasi ini di fokuskan pada evaluasi hasil dan proses. Evalusi proses diarahkan pada tingkat ketertiban siswa dalam proses pembelajaran. Disamping itu, minat dan semangat siswa mengikuti kegiatan merupakan tolok ukur lain dari evaluasi proses.
Pada proses menekankan pad tingkat ketertiban siswa, maka evaluasi akhir lebih di fokuskan pada tingkat pemahaman dan penyikapan siswa sehari – hari. Untuk mengungkapkan pemahaman siswa terhadap materi pembelajaran dapat digunakan tes prestasi belajar. Sementara itu, untuk mengetahui tingkat kemampuan siswa melakukan suatu tugas dapat dilakukan dengan menggunakan tes perbuatan atau ketrampilan, dan untuk mengungkap sikap siswa terhadap materi pelajaran dapat dilakukan melalui wawancara dan angket.
Model Pembelajaran Terpadu
Menurut Hadisubroto dan Herwati ( dalam Indriasih, 2005 ), ada 3 model pembelajaran terpadu, yaitu :
Pembelajaran Terpadu Model Terkait
Model terkait adalah pembelajaran terpadu yang paling sederhana. Konsep, ketergantungan, atau kemampuan yang ditumbuh kembangkan didalam suatu materi atau sub materi dikaitan dengan konsep,ketrampilan, atau kemampuan pada materi lain dalam satu bidang studi.
Keterangan :
A : mata pelajaran
1 & 2 : konsep dalam satu mata pelajaran / bidang studi
Pembelajaran Terpadu Model Terjala / Jaring Laba – Laba ( Webbed Model )
Berbeda dengan pembelajaran terpadu model terkait, pembelajaran terpadu model terjala ini dimulai dari suatu tema. Tema diramu dari materi atau sub materi dari beberapa bidang studi yang di kembangkan. Pembelajaran melalui tema ini dapat disoroti melalui beberapa bidang studi.
Keterangan :
A : subtema
B : subtema
C : subtema
: mata pelajaran / bidang studi
Pembelajaran Terpadu Model Terpadu
Beberapa dengan model-model pembelajaran terpadu sebelumnya, dalam model terpadu ini pembelajaran dimulai dengan pembahasan materi dan sub materi yang di prioritaskan dan tumpang tindih ini berasal dari tiga atau lebih bidang studi yang dirancang untuk diajarkan secara terpadu. Materi ini harus dikaji terlebih dahulu dalam GBPP kemudian diperkirakan untuk memperoleh perioritas.
Keterangan :
T : tema
A,B,C,D,E,F,G : konsep atau keterampilan yang saling tumpang tindih
: mata pelajaran / bidang studi
Pada penelitian ini model pembelajaran yang akan digunakan adalah pembelajaran terpadu model terjala atau model antar bidang studi karena subyek penelitiannya siswa SD kelas IV yang ditinjau dari perkembangan kognitifnya masih belum mampu berfikir tinggi. Pembelajaran terpadu model jaring laba-laba ini sering digunakan pada siswa kelas rendah, namun pada penelitian ini akan diuji cobakan pad siswa kelas IV untuk mengetahui apakah cocok model keterkaitan antar mata pelajaran ini digunakan dikelas tinggi khususnya kelas IV.
Pembelajaran terpadu model jaring laba-laba memiliki beberapa kelebihan antara lain :
Adanya faktor motivasional yang dihasilkan dari menyeleksi tema yang sangat diminati.
Model jaring laba-laba relative mudah dilakukan bagi guru-guru yang belum berpengalaman.
Model ini mempermudah perencanaan kerja tim antar bidang studi yang bekerja untuk mengembngkan suatu tema kedalam pembelajaran.
Memudahkan siswa melihat kegiatan-kegiatan dan ide-ide berbeda yang terkait.
Sedangkan kelemahan terpadu model jarring laba-laba adalah sebagai berikut :
Langkah yang sulit dalam menerapkan model jarring laba-laba menyeleksi tema.
Guru dapat misi kurikulum baku.
Dalam pembelajaran guru lebih focus pada kegiatan-kegiatan dari pada mengembangkan konsep.
Aktivitas Belajar Siswa
Belajar adlah suatu proses yaitu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannya melalui latihan dan pengalaman ( Purwanto. 1996 : 85 ). Belajar memerlukan kegiatan atau aktivitas dari orang yang belajar. Itulah sebabnya aktivitas merupakan prinsip atau azas yang paling penting di dalam interaksi belajar mengajar ( Sardiman, 2005 ).
Banyak kegiatan yang di lakukan oleh anak-anak di sekolah, tidak hanya mendengarkan dan mencatat seperti yang lazim terdapat di sekolah. Dedrich ( dlam Nasution, 2000 : 91 ) membagi aktivitas belajar menjadi delapan kelompok, antara lain :
Visual activities : membaca, memperhatikan gambar, demonstrasi mengamati, percobaan, mengamati percobaan orang lain.
Oral activities : menyatakan, merumuskan, bertanya, memberi saran, mengeluarkan pendapat, mengadakan wawancara, diskusi, interupsi.
Listening activities : mendengarkan uraian, percakapan, diskusi, music, pidato.
Writing activities : menulis cerita, laporan, karangan, menyalin, mengisi, angket.
Draeing activities : menggambar, membuat grafik, diagram, peta, pola.
Motor activities : melakukan percobaan, membuat kontruksi model, mereparasi, bermain, berkebun, memelihara binatang.
Mental activities : menanggapi, mengingat, memecahkan soal / masalah, menganalisa, melihat hubungan, mengambil keputusan.
Emosional activities : menaruh minat, merasa bosan, gembira, bersemangat, bergairah, berani, tenang, gugup.
Dalam penelitian ini akan diambil 4 jenis aktifitas yaitu : oral activities ( mengeluarakan pendapat dan diskusi) writing activities (laporan , pengamatan di lapangan ) motor activities ( bermain, melakukan pengamatan dan presentasi ), mental activities ( memecahkan maslah)
Ketuntasan Belajar Siswa
Hasil belajar adalah keterampilan siswa setelah menerima pengalaman belajarnya atau hasul belajar adalah perubahan tingkah laky setelah melakukan belajar yang biasanya berupa nilai atau angka (Sujana, 1989:22).perubahan tingkah laku yang dimaksud adalah dari tidak tahu menjadi tahu dan tidak mengerti menjadi mengerti.
Hasil belajar yang di capai siswa di pengaruhi beberapa faktor menurut Prwanto (1987:106) faktor-fktor tersebut di bedakan menjadi 2 macam :
Faktor yang ada pada organisme itu sendiri atau faktot individual antara lain : kematangan atau pertumbuhan, kecerdasan atau intelegensi, latihan atau ulangan, motoivasi, sikap dan sifat-sifat pribadi seseorang.
Faktor yang ada di individu antara lain :keadaan keluarga, guru yang mengajarnya, alat-alat pelajaran, motivasi sosial, lingkungan dan kesempatan
Pelaksanaan penilaian hasil belajar menggunakan alat penilaian berupa tes, karena tes dapat digunakan untuk mengetahui kemajuan belajar yang telah dicapai siswa. Hal ini sesuai dengan pendapat Nurkancana (1983:34) bahwa tes adalah suatu cara untuk mengadakan penilaian yang berbentuk suatu tugas dan harus dikerjakan oleh siswa untuk menghasilkan nilai tentang tingkah laku atau prestasi yang dapat dibandingkan dengan nilai yang dicapai siswa melalui nilai standar yang ditetapkan.
Dalam penelitian ini gasil belajar diperoleh setelah siswa mengikuti pembelajaran terpadu model jaring laba-laba (webbed model). Hasil belajar yang dicapai siswa merupakan hasil yang dicapai siswa melalui tugas / kegiatan siswa yang merupakan alat untuk mengukur kreativitas siswa dalam proses pembelajaran kinerja siswa dalam kelompok dan tes tulis sebagai pengukur produk dari pembelajaran
Dari hasil belajar dapat diketahui ketuntasan dalam pembelajaran yang telah dilaksanakan. Ada[un criteria ketuntasan belajar siswa dapat dinyatakan sebagai berikut :
Daya serap perorangan, seorang siswa dikatakan tuntas apabila telah mencapai skor ≥ 70 dari skor maksimun 100.
Daya serap klasikal , suatu kelas dikatakan tuntas apabila terdapat minimal 80% siswa yang telah mencapai skor ≥ dari kor maksimum 100
Uraian Materi
Matematika
Materi yang dipelajari yaitu penjumlahan, pengurangan, perkalian dan pembagian.
PKN
Pasar merupakan bertemunya antara penjual dan pembeli untuik mengadakan jual beli, penjual adalah orang yang menawarkan atau menjual barang. Pembeli adalah orang yang membeli barang. Jenis barang yang diperjual belikan bermacam-macam. Nama – nama pasar tergantung barang yang diperjualbelikan. Misalnya pasar ikan yaitu pasar yang hanya menjual ikan, pasar buah yaitu pasar yang hanya menjual bermacam-macam buah-buahan. Berdsarkan jenisnya pasar dibedakan menjadi 2 yaitu pasar tradisional dan pasar modern. Yang termasuk pasar tradisional adalah pasar pagi, pasar malam, pasar siang dll. Yang termasuk pasar modern adalah mall, swalayan, plaza dll.
Dipasar dapat kita lihat orang dengan kesibukan masing-masing. Penjual menawarkan dan menjual barang dagangannya. Pembelipun mencari dan membeli barang yang dibutuhkan. Kemudia terjadi tawar-menawar antara penjual dan pembeli. Namun ada juga pasar yang sudah menetapkan harga dengan memberikan label pada barang yang bersangkutan.
Bahasa Indonesia
Materi yang dipelajari yaitu menuli hasil laporan dan mempresentasikan di depan kelas. Selain itu juga akan dipelajari cara menulis dan membaca nilai uang. Misalnya Rp. 7.500,00 di baca “ tujuh ribu lima ratus rupiah”.
RENCANA DAN PROSEDUR PENELITIAN
METODE PENELITIAN
Tempat Penelitian
Dalam penelitian ini daerah yang akan diguanakan adalah SDN 2 Tamanagung dipilihnya SDN 2 Tamanagung atas dasar :
Adanya kesediaan Kepala Sekolah Dasar Negeri 2 Tamanagung untuk di jadikan tempat penelitian
SDN 2 Tamanagung belum pernah dilakukan penelitian serupa
Subjek penelitian adalah orang yang merespon atau menjawab pertanyaan tertulis maupun lisan (Arikunto, 2000:107). Jadi subjek penelitian adalah orang yang dapat memberikan keterangan atau penjelasan atau tanggung jawab terhadap suatu permasalahan yang diselidiki. Dalam penelitian ini, subjek penelitiannya adalah siswa kelas IV SDN 2 Tamanagung tahun ajaran 2010/2010. Dikelas IV terdapat 20 siswa yang terdiri dari 12 siswa laki-laki dan 8 siswa perempuan. Penelitian ini dilaksanakan bulan Juli sampai dengan Desember
Pendekatan dan Jenis Penelitian
Pendekatan Penelitian
Pendekatan dalam penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Penelitian kualitatif merupakan penelitian yang datangnya dinyatakan dalam bentuk verbal dan di analis tanpa menggunakan teknik statistic (Suhadi dkk, 2003:3)
Pendekatan ini juga memenuhi ciri-ciri pendekatan kualitatif sesuai pendapat Moleong ( 2004:4-8)
Manusia sebagai alat antar instrument, peneliti sendiri atau dengan bantuan orang lain (guru) sebagai pengumpul data utama;
Menggunakan metode kualitatif yaitu menyajikan secara langsung hubungan antara peneliti dan siswa, dan dapat disesuaikan dengan keadaan-keadaan sekitarnya.
Analisis data secara induktif yakni dapat membuat hubungan peneliti – siswa menjadi eksplisit dan mudah untuk dipahami, serta dapat mengutamakan latar secara utuh / penuh.
Bersifat deskriftif data untuk memberikan gambaran penyajian data;
Lebih mementingkan segi proses dari pada hasil karena hal-hal yang diteliti akan terlihat lebih jelas dalam proses belajar mengajar.
Desain Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas. Menurut Sukidin, dkk (2002:37) penelitian tindakan kelas bertujuan untuk memperbaiki dan meningkatkan dengan praktik pembelajaran di kelas secara berkesinambungan.
Sudikin, dkk (2002:16) mengemukakan bahwa penelitian tindakan kelas (PTK) adalah suatu bentuk penelaah penelitian yang bersifat reflektif dengan melakukan tindakan-tindakan tertentu agar dapat memperbaiki dan atau meningkatkan praktik-praktik pembelajaran di kelas secara professional. Penelitian ini berbentuk kolaboratif karena peneliti melibatkan guru kelas untuk pengamat proses belajar mengajar, konsultasi dalam membuat scenario pembelajaran. Membantu dalam mengendalikan suasana kelas.
Dalam penelitian ini mengikuti model skema Hopkins yaitu model skema yang menggunakan prosedur kerja yang dipandang sebagai suatu siklus spiral dalam perencanaan, tindakan observasi dan refleksi yang kemudian diikuti siklus spiral berikutnya ( Tim Pelatih Proyek PGSM, 1999:7). Empat tahapan masing-masing siklus dapat dilihat dari gambar
Gb. 3.4 Model Skema Hopkins
Waktu Penelitian
Penelitian ini menggunakan dua diskusi yang dalam setiap siklus mencakup empat hal yang tersebut dalam gambar 3.4. Apabila empat tahap telah disampaikan pada siklus I maka hasilnya akan dianalis dan dicari kelemahan-kelamahan yang ada selama dalam pembelajaran. Jika pada siklus I hasil sudah mencapai ketuntasan klaiskal, maka pembelajaran dihentikan, akan tetapi jika pada siklus I hasil belajar belum mencapai ketuntasan klasikal. Maka pelaksanaan siklus akan di lanjutkan pada siklus II dengan materi yang berbeda.
Tindakan Pendahuluan
Sebelum pelaksanaan siklus terlebih dahulu dikalukan tindakan pendahuluan. Yang didahulukan sebagai langkah awal dalam penelitian ini adalah wawan cara pada pihak sekolah. Tujuan wawancara adalah untuk mengetahui metode mengajar yang sudah digunakan dalam pengajaran matematika dan untuk mengetahui- kesulitan-kesulitan yang dirasakan guru dalam mengajar matematika materi operasi hitung bilangan. Selain itu untuk mendapatkan data pemebelajaran sebelumnya. Pada tindakan pendanuluan ini peneliti melakukan observasi langsung di kelas IV untuk mengetahui kondisi kelas yang akan digunakan untuk mempersiapkan siklus.
Pelaksanaan Siklus
Pelaksanaan siklus pada gambar 3.4 diatas adalah sebagai berikut :
Plan atau perencanaan
Pada tahap ini yang dilakukan adalah :
Menentukan tema (dipilih oleh peneliti dan guru mata pelajaran)
Menyusun desain pembelajaran
Menyusun LKS
Menyusun format evaluasi berupa soal tes
Menyusun pedoman observasi, wawancara dan angket sikap
Action atau tindakan
Tindakan yang dilakukan adalah melaksanakan rencana penelitian yang telah disusun yaitu melaksanakan pembelajaran terpadu model jaring laa-laba (webbed model) pada materi operasi htiung bilangan. Pada tahap ini akan dibagi menjadi 3 kegiatanan yaitu :
Kegiatan ke-1 ( 1 kali pertemuan )
Pada kegiatan ini guru akan melaksanakan tentang : kegunaan uang, jenis-jenis uang, tentang pecahan mata uang. Selain itu guru juga mengingatkan kembali tentang operasi hitung bilangan yang meliputi operasi penjumlahan, pengurangan, perkalian dan pembagian. Pada bagian pertama ini guru akan menggunakan media pembelajaran berupa mata uang logam dan kertas.
Kegiatan ke-2 ( 1 kali pertemuan )
Pada kegiatan ke 2 ini guru akan membagi siswa dalam 10 kelompok dan masing-masing kelompok terdiri dari 4 siswa dan kemmapuan akademis. Untuk mendapatkan data pribadi siswa dam kemampuan akademis, 1 kelompok akan terdiri 1 berkemampuan sedang dan 2 orang berkemampuan rendah. Masing-masing kelompok akan diberi lembar kerja (permasalahan) yang harus didiskusikan bersama-sama dan dikumpulkan untuk mempresentasikan hasil diskusi di depan kelas.
Kegiatan ke-3 ( 1 kali pertemuan )
Pada tahap ini akan diadakan tes akhir untuk mengetahui ketuntasan belajar siswa pada materi operasi hitung bilangan. Tes yang diberikan sebanyak lima soal berbentuk essay. Selesai mengerjakan soal tes guru memberikan angket sikap untuk mengetahui bagaimana sikap siswa dalam mengikuti pembelajaran terpadu. Angket siswa ini berisi 10 pernyataan dan angket ini tidak mempengaruhi nilai siswa.
Observation / Observasi
Observasi dilakukan bersama dengan tindakan. Peneliti dibantu oleh dua observer yaitu guru matematika SDN 2 Tamanagung Kecamatan Cluring yaitu Martin, S.Pd dan Muja’I dan peneliti sendiri. Observasi dilakukan untuk mengamati aktivitas siswa dan guru (dalam hal ini peneliti) selama proses pembelajaran terpadu berlangsung.
Reflektik atau refleksi
Refleksi dalam pembelajaran matematika adalah upaya mengkaji atau memikirkan dampak suatu tindakan. Dalam tahap ini peneliti memikirkan hasil-hasil yang diperoleh dari observasi dan hasil tes I sebagai pertimbangan menetapkan tindakan selajutnya dan menekan seminimal mungkin kelemahan-kelemahan yang ada dalam pembelajaran siklus I.
Teknik / Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data adalah cara-cara yang digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan data (Arikunto, 2000;126). Pengumpulan data ini dilakukan dengan maksud untuk memperoleh bahan-bahan yang relevan dan akurat dan metode-metode yang digunakan memiliki ciri-ciri yang berbeda sehingga apabila ada kelemahan atau kekurangan pada suatu metode dapat terpenuhi oleh metode lain. Adapun metode pengumpulan data dalam penelitian ini meliputi : metode observasi, metode wawancara, metode tes dan metode angket.
Metode Observasi
Observasi merupakan alat pengumpul data yang digunakan untuk mengukur tingkah laku individu atau proses terjadinya suatu kegiatan yang dapat diamati baik dalam situasi yang sebenarnya maupun dalam situasi buatan (Susjana, 1998:109). Observasi ini merupakan cara pengamatan terhadap objek baik langsung maupun tidak langsung. Observasi dalam penelitian ini yang dipakai adalah observasi secara langsung dan observasi secara tidak langsung terhadap subjek yang diamati. Observasi secara ini digunakan dengan menggunakan angket secara tertutup. Observasi tidak langsung ini dilakukan sendiri oleh peneliti pada saat akhir pemeblajaran dalam suatu materi
Metode wawancara
Metode wawancara adalah suatu cara untuk mendapatkan informasi dengan jalan tanya jawab yang dilakukan oleh pewawancara terhadap terwawan cara. Adapun wawancara dalam penelitian ini dilakukan dengan peneliti untuk memwawancarai siswa dengan menggunakan pembelajaran terpadu model jaring laba-laba ( webbed model ) yang dilaksanakan oelh peneliti, serta kesulitan-kesulitan apa saja yang dihadapi selama dilaksanakan pembelajaran dengan menggunakan pembelajaran terpadu ini. Dalam hal ini peneliti mewawancarai 3 siswa sebagai perwakilan yaitu 1 siswa yang berkemampuan tinggi, 1 siswa yang berkemampuan sedang san 1 siswa yang berkemampuan rendah. Wawancara dilakukan setelah evaluasi pembelajaran. Selain itu wawancara dengan siswa, juga diadakan wawanacara dengan guru bidang studi untuk mengetahui kekurangan-kekurangan dan kelebihan peneliti selama proses pembelajaran berlangsung.
Metode tes
Tes yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes berbentuk essay yang disusun oleh peneliti dengan mengacu pada Kompetensi Dasar dan Standar Kompetensi. Adapun tujuan dari tes tersebut adalah untuk mengetahui hasil belajar siswa baik secara individu maupun kelompok, serta mengetahui tingkat kesulitan dalam langkah pengerjaan soal yang dilakukan siswa.
Metode angket
Metode angket dalam penelitian ini dimaksudkan untuk memperloleh data tentang bagaimana sikap siswa terhadap pembelajaran terpadu model haring laba-laba (webbed) pada pokok operasi hitung bilangan yang sikap atau minat terhadap tema yang telah di pilih, sikap / minat siswa dalam mengikuti Proses Belajar (PMB), strategi siswa dalam belajar, serta sikap siswa dalam kegiatan pembelajaran terpadu ini
Angket yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala likert (sikap). Menurut Sudjana (1990:80) skala sikap digunakan untuk mengukur sikap seseorang terhadap objek tertentu. Skala sikap dinyatakan dalam bentuk pernyataan untuk dinilai melalui rintangan nilai tertentu.
Adapun criteria penilaian ditentukan sebagai berikut :
Tabel 3.1 : Kriteria Skala Sikap
Alternatif Jawaban Nilai Skala Skor
Sangat setuju (SS)
Setuju (S)
Tidak Setuju (TS)
Sangat Tidak Setuju (STS 4
3
2
1
Analisis Data
Analisis data adalah cara yang paling menentukan untuk menyusun dan mengelola data yang terkumpul dalam penelitian agar dapat menghasilkan suatu kesimpulan yang dapat dipertanggung jawabkan berdasarkan data yang terkumpul. Analisis yang dilakukan dalam penelitian ini adalah analisis kualitatif dan kuantitatif. Hasil obeservasi dalam angket sikap dianalis secara kualitatif dan kuatitatif. Hasil interview dianalis secara kualitatif. Sedang tes dianalis secara kuantitatif. Data yang ingin diraih untuk penelitian ini adalah :
Aktivitas siswa selama penerapan pembelajaran terpadu model jaring laba-laba berlangsung diperoleh dari hasil observasi :
Untuk hasil analis presentase keaktigan siswa di guanakan rumus :
P1∶ A/N x 100 %
Keterangan :
P1 = presentase keaktifan siswa
A = jumlah skor yang diperoleh tiap aktifitas
N = jumlah skor seluruhnya (Depdikbud dalam Puspitasari, 2006:36)
Tabel 3.2 Kategori Presentase Aktivitas Belajar Siswa
Presentase Kategori
75% ≤ P1 < 100%
50% ≤ P1 < 75%
25% ≤ P1 < 50%
< P1 Sangat katif
Aktif
Cukup Altif
Tidak Aktif
Ketuntasan hasil belajar dapat deperoleh siswa setelah mengikuti pembelajaran terpadu jaring laba-laba; untuk mencari prosentase hasil belajar siswa digunakan rumus :
P2= n/N x 100 %
Keterangan :
P2 = presosentase ketuntasan hasil belajar siswa
n = jumlah siswa yang tuntas belajar
N = jumlah seluruh siswa (Depdiknas dalam Pusitasari,20006)
Kriteria ketuntasan siswa :
Daya serap perorangan, seorang siswa dikatakan tuntas apabila telah mencapai skor 75% ≥ dari skor maksimum 100
Daya serap klasikal, suatu kelas dikatakan tuntas apabila terdapat minimal 80% siswa yang telah mencapai skor75% ≥ dari skor maksimum 100
Kesulitan belajar siswa dan kesalahan yang dihadapi siswa dalam menyelesaikan Operasi Hitung Bilangan dari hasil tes dan wawancara
Sikap siswa terhadap pembelajaran terpadu dari angket sikap yang diisi oleh siswa
Prosentase angket sikap dianalis dengan rumus
T= s/S x 100 %
Keterangan :
T = prosentase skor yang dicapai
s = skor yang siperoleh
S = skor maksimal
JADWAL PENELITIAN
No Kegiatan Bulan
7 8 9 10 11 12
1 Penyusunan Proposal X X
2 Pelaksanaan Siklus I X X
3 Pelaksanaan Siklus II X X
4 Pelaksanaan Siklus III X X
5 Penyususnan Laporan Hasil Penelitian X X
BIAYA PENELITIAN
NO URAIAN BANYAK HARGA SATUAN (Rp) TOTAL
(Rp)
1 Perispan penyusunan Proposal PTK
Tranportasi rapat
Konsumsi
ATK
Rental
2 org
2 org
-
20 lbr
10.000
8.000
2.000
20.000
16.000
24.000
40.000
2. Pelaksanaan / pertemuan
Alat observasi
Transportasi
Konsumsi
Honor guru
Biaya tim evaluasi
Biaya analisis dan refleksi
-
3 org
3 org
1 org
2 org
2 org
50.000
10.000
6.500
20.000
20.000
20.000
50.500
30.000
19.500
20.000
40.000
40.000
3. Penyusunan Laporan
Tranportasi
Rental (Copy + Tambahan)
FC
Penjilitan
1 org
-
3 x 40 lb
3 pkt
15.000
-
150
7.500
15.000
40.000
18.000
22.500
Jumlah 95.500
Untuk pelaksanaan jumlah biaya x 3 pertemuan
JUMLAH TOTAL
675.500
PERSONALIA PENELITIAN
Identitas peneliti
Nama : BENI AFIT
NIM : 815 629 617
Pendidikan : Sedang menempuh S 1 PGSD UT
UPBJJ Jember Pokjar Purwoharjo
Semester VI
Instansi Kerja : SDN 2 TAMANAGUNG
Jabatan dalam Penelitian : Peneliti
Identitas peneliti
Nama : KRISNA SETIAWAN
NIM : 815 629 591
Pendidikan : Sedang menempuh S 1 PGSD UT
UPBJJ Jember Pokjar Purwoharjo
Semester VI
Instasi Kerja : SDN 2 Tamanagung
Instansi Kerja : Teman Sejawat
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad K, 2004. Pelaksanaan Pembelajaran Terpadu Bahasa Indonesia di Kelas III Sekolah Dasar. Serial On line
http://pustekom.go.id/teknodit/tl1/isi.htm#2 12April 2004
Arikunto, S. 2000. Prosedur Penelitian Suatu Pedekatan Prakti. Jakarta Rineka Cipta
Depdiknas. 2003. Kurikulum 2004 Standar Kompetensi Matematika SD. Jakarta
Depdiknas 2004. Kurikulum Standar Kompetensi. Jakarta
Hamalik, O. 1990. Pengembangan Kurikulum (Dasar-Dasar dan Pengembangan). Bandung : Mandar Maju
Indriasih, A. 2005. Pembelajaran Terpadu Dalam Pengajaran PKN di Kelas III SD Grung Lor KaliwinguKabupaten Kudus. Serial Online
http://pk.ut.ac/id/jp/61maret05/aini.htm. 10 maret 2005
Moleong, L.2000. Metode Penelitian Kulaitatif. Bandung PT. Remaja Rodaskarya
Nasution, S. 2000. Didaktif Asas-Asas Mengajar. Jakarta Bumi Aksara
Nurkancana, W & Supratman, 1986. Evaluasi Pendidikan. Surabaya Usaha Nasional
Purwanto, N.M. 1986. Prinsip-Prinsip dan Evaluasi Pengajaran. Bandung PT. Remaja Rodaskarya
Puspitasari, H. 2006. Penerapan Pembelajaran Model Trefinger Dengan Pendekatan Kooperatif Bahasan Kelas X-7 Semester Genap SMA Negeri 2 Jember Tahun Ajaran 2006 – 2007. Skripsi tidak diterbitkan.
Sardiman, A.M.2005. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta PT. Raja Grafindo Persada.
Soejadi, R. 2000. Kiat Pendidikan Matematika di Indonesia. Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Departeman Pendidikan Nasional
Sudjana, N & Ibrahim. 1989. Penelitian dan Penilain Pendidikan. Bandung Sinar Baru
Suhadi, dkk.2003. Dasar-Dasar Metodologi Penelitian. Malang: Lembaga Penelitian UNM.
Sukidin, Basrawi, Suranto. 2002. Menejemen Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Jakarta : Insan Cendekia
Tim Pelatih Proyek PGSM. 1999. Penelitian Tindakan kelas. Jakarta Depdikbud
Tim Pengembang PGSD. Materi Pokok Pembelajaran Terpadu D-II PGSD.
LAMPIRAN-LAMPIRAN

0 Response to "Model Jaring Laba – Laba untuk Meningkatkan Perhatian Siswa pada saat Pembelajaran Berlangsung” pada materi operasi hitung bilangan siswa kelas IV SDN 2 Tamanagung, Cluring, Banyuwangi"
Posting Komentar